Is it possible to love Jesus but hate “religion”…???

Posted: 20 January 2012 in Christianity, Religion, Spirituality, Theology

Seorang “young online evangelist”, Jefferson Bethke menyampaikan sebuah pesan bahwa Yesus tidak sama dengan “religion” melalui sebuah Video Youtube yang telah ditonton 15  juta orang dan mendapatkan ratusan komentar. Video itu berjudul “Why I hate religion, but love Jesus” di upload pada tanggal 10 Januari yang lalu. Dan video ini menjadi populer dan sekaligus kontroversi (260,880 likes, 38,355 dislikes).

Berikut ini adalah beberapa kalimat yang diucapkan Bethke dalam videonya:

“What if I told you, Jesus came to abolish religion? If religion is so great, why has it started so many wars? Why does it build huge churches, but fails to feed the poor? 

Religion preaches grace, but another thing they practice. Can’t fix their problems, so they try to mask it. Not realizing that’s just like sprayin perfume on a casket.

If grace is water, then the church should be an ocean, cuz it’s not a museum for good people, it’s a hospital for the broken. I no longer have to hide my failures I dont have to hide my sin, because my salvation doesn’t  depend on me, it depends on him. Because when I was Gods enemy and certainly not a fan, God looked down on me and said, “I want that man!” Which is so different from religious people, and why Jesus called em fools. Don’t you see he’s so much better than just following some rules? Now let me clarify, I love the church, I love the bible, and I believe in sin but my question, is if Jesus were here today, would your church let Him in? Remember He was called a drunkard and a glutton by “religious men.”

Now back to the point, one thing is vital to mention. How Jesus and religion are on opposite spectrums. See one’s the work of God, but one’s a man made invention. See one is the cure, but the other’s the infection. See because religion says do, Jesus says done. Religion says slave, Jesus says son. Religion puts you in bondage, while Jesus sets you free. Religion makes you blind, but Jesus makes you see. And that’s why religion and Jesus are two different clans.

Religion is man searching for God, Christianity is God searching for man. Which is why salvation is freely mine, and forgiveness is my own. Not based on my merits but Jesus’s obedience alone [baca selengkapnya….]

Pertama kali saya melihat video ini, saya tidak langsung mengkritik apa yang Bethke katakan, tetapi saya mencoba menjadikan video ini sebagai sebuah refleksi dan bertanya “Inikah kekristenan yang saya hidupi?” Bukankah saya yang sedang ia bicarakan JIKA:

  • …… saya mengkhotbahkan tentang kasih dan anugerah, tetapi saya tidak mau mengasihi orang yang tidak “lovable”, yang tidak berbuat baik kepada saya, yang justru mengkritik dan sangat “annoying”.
  • …… saya memakai topeng saat saya melayani di gereja pada hari minggu, dan melepaskan topeng itu saat saya menjalani hidup saya di luar gereja.
  • …… saya hanya mau menerima, bersahabat dan bersukacita atas orang-orang yang multi-talented dan dipakai luar biasa dalam pelayanan di gereja, tetapi melupakan dan meng-ignore orang-orang yang tergolong sebagai “The broken people” yang kurang bertalenta, sederhana dan tidak “bersuara” di dalam gereja.

Video ini memang mendapatkan banyak kritikan, salah satunya dalam bentuk Video yang berjudul “Jesus Loves Religion: A Christian Response

Kevin De Young juga memberikan kritiknya: “I’ve already said that I don’t think “religion” is the right term for what Bethke is talking about. But he has done a great job here of describing “false religion”. Jesus blasted the Pharisees for being “whitewashed tombs,” for looking beautiful on the outside and full of dead people’s bones on the inside, for appearing righteous but being full of hypocrisy and lawlessness (Matt. 23:27-28). It is possible for churches and churchgoers to have the reputation for being alive, but actually be dead (Rev. 3:1). Some churches claim to love grace, but all they give you is legalism. Bethke is hitting on a real problem.” [baca selengkapnya…]

De Young mengkritisi istilah “religion” yang digunakan oleh Bethke, karena Bethke mengidentikkan kata “religion” dengan “self-righteousness”. Dalam blognya De Young berkata bahwa jika religion yang dimaksud demikian, maka ia juga setuju bahwa”Jesus hates religion”. Tetapi persoalannya, Alkitab tidak menggunakan kata religion demikian. De Young mengatakan bahwa “religion is characterized by doctrine, commands, rituals, and structure” berdasarkan Matt. 5:17, Matt. 16:18, Matt. 18:15-20, Matt. 26:26-28, Matt. 28:19-20, John 3:16-18; 8:24.

Berkaitan dengan kritik De Young,  saya ingin mengatakan bahwa saya menghargai Kekristenan sebagai Religion atau apa yang dapat saya simpulkan sebagai “System of Belief” (seperti yang dikatakan De Young), tetapi jika kekristenan hanya sebagai “System of Belief” maka saya tidak sependapat. Bagi saya Kekristenan adalah “the way of life”.

De Young sendiri mengatakan bahwa kata Alkitab English Standard Version menggunakan istilah “religion” sebanyak 5 kali, dimana 4 kali di antaranya berbicara tentang “Judaism & bad Religion that is self-made”, dan hanya satu kali berbicara tentang religion yang memberi makan para janda, anak yatim dan menjaga kekudusan hidup (James 1:27) {bukankah yang terakhir ini berbicara tentang “the way of life”….????}.

Hhmmmmmmmm……..

Lepas dari berbagai pro dan kontra, pada waktu saya menulis artikel ini, saya berpikir dan bertanya:

Bukankah Kekristenan tidak kebal dan dapat “jatuh” kepada apa yang dulu pernah terjadi pada Judaism?

Bukankah Kekristenan yang tidak seimbang dan lebih condong kepada “system of belief” (yang hanya dapat berkata, tetapi tidak dapat melakukannya), politik, institusi, ritual, dan doktrin akan membuat Kekristenan menjadi sebuah “religion yang kosong”?

Mungkin saya (atau jika saudara mau: “KITA”) perlu berkaca sambil bertanya “Kekristenan yang seperti apakah yang saya (/kita) sedang hidupi….???

Thanks for Jefferson Bethke (follow him on twitter), yang sudah menjadi contoh dengan menghidupi kekristenan yang  “Humble” pada waktu menerima kritikan De Young (De Young menyebut Bethke sebagai “a humble, sincere, a real love for God and the gospel.”)

“My prayer is my generation would represent Christ faithfully and not swing to the other spectrum…”  Inilah motivasi dan doa dari Bethke pada waktu ia membuat video itu. And that’s my prayer also.

Advertisements
Comments
  1. Indra Tan says:

    Hai Cuantau…
    Yes, I’ve been struggling for this matter quite a while…

    Christian actually has a meaning of ‘Christ Follower’, Am I right?

    But nowadays, this word even loses its own meaning
    Many people claim to be a Christian JUST because:
    1. I go to church every sunday
    2. My ID mentions so
    or 3. I don’t have any other religions

    If Christianity is a mere religion (yang penuh dengan ajaran2, tanpa memfokuskan sebagai suatu lifestyle yg harus dihidupi oleh jemaat), semakin sulit bagi orang2 tidak percaya, untuk menerima Yesus dalam hidup mereka.
    They need more than mere knowledge about Christ.

    Too bad, many Christians do not live Christianity as a lifestyle.
    They know, they understand, they are being taught about Christianity routinely. But on the other hand, they don’t live it.

    Saya tidak begitu mendalami doktrin2, pendekatan2, ataupun pandangan2 para ahli…
    I love theology, but sometimes those kinds of human’s approaches emphasize more to their own theory and perspective rather than Jesus’s teaching itself.
    Seringkali mereka (para ahli agama Kristen) justru ‘menjual’ kekristenan berdasarkan pendekatan mereka, mencari fans hanya demi keuntungan suatu aliran/gereja tertentu (inilah hasil jika kekristenan hanya dianggap sebagai sebuah agama/politik/organisasi, bukan gaya hidup).

    Yesus sendiri menggunakan kata ‘Ikutlah Aku’. Kata mengikut berarti: melakukan sesuatu sebagaimana dikerjakan orang lain. Bukan hanya sekedar mengerti ajaranNya.

    Yang membuat saya mengatakan saya adalah seorang Kristen, adalah karena saya mengenal dan menerima Kristus sebagai juruselamat pribadi (AWAL, first step dari kehidupan kekristenan), kemudian terus mencari dan mengejar pengenalan akan pribadi Kristus sendiri, dan yang terpenting menghidupi ajaran2 Kristus, terutama ajaran mengenai kasih (Matius 22:37-40), sebagaimana juga yang ditulis dalam Hosea 6:6.

    Dengan kata lain, untuk saya, ajaran kekristenan itu harus dihidupi sebagai gaya hidup, bukan menjadi sekedar golongan agama tertentu.
    Ps. Rick Warren pernah mengatakan: God WONT ask “Were u a Calvinist?Arminian?Pentecostal?Catholic?Orthodox?Evangelical? He’ll ask “What’d you do with Jesus?

    Apakah anda hidup dengan mengenal Yesus dan ajaran2nya? Karena tergabung dalam aliran gereja tertentu tidak akan menjamin keselamatan anda di surga.

    Lastly, kalau seseorang dianggap sbg seorang Kristen hanya ditinjau dari segi pengetahuan atau karena dia bergabung di sebuah gereja tanpa penghidupan akan ajaran Kristus, maka pengorbanan Yesus dan peran Roh Kudus (sebagai penghibur, partner dalam mengerjakan pekerjaan Allah dalam hidup kita) akan menjadi sangat murah.

    Let’s live Christianity as our lifestyle

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s