Archive for the ‘Blue like jazz’ Category

“I believe that the greatest trick of devil is not to get us into some sort of evil but rather have us wasting time. this is why the devil tries so hard to get Christian to be religious. If he can sink a man’s mind into habit, he will prevent his heart from enganging God.”

Kalimat itulah yang dituliskan oleh Donald Miller dalam Blue Like Jazz Chapter 2 “Problem: What I learned on Televison”. Ada

Trik terbesar dari Iblis untuk menjatuhkan orang-orang percaya adalah dengan membuat kita membuang-buang waktu, membuat orang Kristen terlihat religius dengan habit dan tradisi rutin kekristenan. Namun, sesungguhnya hanya berakhir pada habit dan tradisi, tanpa hati yang melekat lagi pada Allah. Secara implisit, Don ingin menjelaskan bahwa apa yang disebut “the true spirituality” adalah “hati yang melekat pada Allah.”

Hal ini membawa saya berpikir sejenak:

  • Apakah keterlibatan saya dalam kegiatan-kegiatan gerejawi  benar-benar membuat saya dekat dengan Allah atau justru hanya membuat saya terlihat sibuk dan kelelahan lalu memunculkan kesan bahwa saya adalah “orang yang religius”?
  • Apakah kebiasaan-kebiasaan doa, pergi ke gereja setiap Minggu (at least 3 kali dalam seminggu), memberi perpuluhan dan persembahan benar-benar membuat saya dekat dengan Allah atau justru hanya membuat saya “terlihat religius”?
  • Apakah kebiasaan saya bernyanyi dengan keras, berdoa dengan melipat tangan dengan genggaman yang erat, dan menyembah Tuhan dalam ibadah benar-benar membuat saya semakin melekat dengan Allah, atau justru semua itu hanyalah tradisi dan habit yang saya ikuti sejak dari masa kecil dan terus berlanjut sampai dewasa, yang kemudian membuat saya “terlihat religius” di depan orang percaya yang lain?
  • Lebih tajam lagi, apakah khotbah-khotbah atau pengajaran-pengajaran Firman Tuhan yang saya lakukan setiap minggunya (bahkan tiap hari di sekolah) semakin membuat saya melekat dengan Tuhan atau semuanya itu hanya berakhir pada satu kata yaitu “routine” pekerjaan yang saya lakukan sebagai seorang hamba Tuhan?

Saya berpikir…. Jika saya menemukan hidup saya demikian bahwa semua itu tidak membuat saya melekat pada Allah, apakah itu artinya saya harus menghentikan semua habit, tradisi dan rutinitas itu?

Jawabannya IYA dan TIDAK…..

Sebab sebenarnya rutinitas, habit dan tradisi yang menunjuk kepada kata “disiplin rohani”  juga dapat berguna bagi spiritualitas. Henri Nouwen mengatakan bahwa: “In the spiritual life, the word ‘discipline’ means the effort to create some space in which God can act.”

Sehingga adalah salah jika sama sekali menolak rutinitas, habit dan tradisi. Karena ternyata Tuhan juga dapat bekerja di dalamnya dan sebagai sarana dimana kita bisa merasakan pengalaman dekat dan melekat dengan-Nya.

Namun, walaupun demikian rasanya kita perlu sedikit mengevaluasi diri kita dan mengarahkan kepada arah yang benar:

Apakah semua rutinitas, habit dan tradisi itu kita lakukan hanya untuk membuat kita memiliki “KESIBUKAN” rohani, atau memang kita ingin melakukannya untuk sebuah “DISIPLIN” rohani. Yang pertama membawa kita kepada “KELELAHAN” secara rohani dan “KEHAMPAAN” (karena sebenarnya kita tidak punya relasi yang dalam dengan Allah, meskipun kita merasa atau  terlihat religious di depan orang lain). Yang kedua membawa hidup kita kepada “KEPUASAN” secara rohani, karena kita melekat dengan Allah dan kita akan melihat Allah bekerja di dalam dan melalui kita.

Apakah yang sedang anda lakukan hari-hari ini adalah sebuah “KESIBUKAN” rohani atau sebuah “DISIPLIN” rohani?

Selanjutnya dalam Chapter ini, Donald Miller menjelaskan hubungan antara Loving, Knowing dan Serving GOD:

“If you don’t love somebody, it gets annoying when they tell you what to do or what to feel. when you love them you get pleasure from their pleasure, and it makes it easy to serve. I didn’t love God because I didn’t know God.”

Kita tidak mungkin bisa melayani Tuhan dengan sukacita jika kita tidak mencintai Dia. Dan kita tidak dapat mencintai Dia, jika kita tidak mengenal Dia.

Itu artinya mengenal Allah adalah dasar bagi kasih kepada Allah. Kasih kepada adalah dasar bagi pelayanan untuk Allah.

Adalah sebuah kesalahan jika kita melayani Allah dengan tujuan bahwa hal ini akan membuat kita lebih mengasihi Dia dan mengenal Dia. Karena pelayanan itu harusnya keluar dari pengenalan dan rasa cinta kepada Allah. Sehingga kita dapat berkata kepada Allah yang kita layani: “Your Pleasure is My Pleasure.”

I’ve known God because He has revealed Himself to me. The more I know Him, the more I love Him. The more I love Him, the more I really want to serve Him.

Do you really serve Him with your pleasure…??? If not, maybe there’s something wrong with your love.

Do you love Him deeper and deeper…??? If not, maybe there’s something wrong with your knowledge about God.

Absennya pengenalan dan kasih kepada Allah dalam rutinitas, habit dan tradisi agamawi adalah Trik Iblis yang menghancurkan kehidupan orang percaya. Yang akan membawa mereka kepada “wasting time, being religious without spiritual, busyness without direction and meaning, burn out, boring and emptiness.”

Advertisements

“I never liked jazz music because jazz music doesn’t resolve. but I was outside the Bagdad Theater in Portland one night when I saw a man playing the saxophone. I stood there for fifteen minutes, and he never opened his eyes. After that I liked jazz music.”

“Sometimes you have to watch somebody love something before you can love it yourself. It is as if they are showing you the way.”

I used to not like God because God didn’t resolve. But that was before any of this happened…

Kalimat-kalimat di atas adalah catatan awal yang ditulis oleh Donald Miller (follow his twitter and blog) dalam buku “Blue Like Jazz: Nonreligious Thoughts on Christian Spirituality” yang ia tulis. Buku yang berisi perjalanan spiritual Don sebagai seorang mahasiswa muda Kristen di Reed College dan  yang hidup di tengah-tengah Post-Christian era. Tulisan yang berisi pengakuan yang jujur seorang muda Kristen yang mengalami dilema-dilema iman dalam hidupnya.

Buku ini adalah sebuah buku “kesaksian” hidup seseorang, bukan buku yang ingin menjelaskan “doktrin-doktrin”  kristen. Seperti musik Jazz yang adalah genre musik yang ditemukan oleh generasi pertama yang bebas dari “Slavery” di Amerika. Sebuah genre musik yang merupakan ekspresi dari kebebasan, yang keluar dari jiwa dan ketulusan. Kekristenan yang seperti inilah yang ingin digambarkan oleh Don dalam bukunya. Keristenan yang lahir dari jiwa dan ketulusan, tanpa topeng dan kemunafikan.

Berkaitan dengan kejujurannya ini, tidak sedikit kritik yang ditujukan kepada Don. Beberapa kritik yang secara konsisten datang dari sesama orang kristen adalah:“Why do you do that book criticizing the church? Why would you go airing our dirty laundry for the public to see?” 

Saya baru saja menyelesaikan Bab I, dan ada bbeberapa  kejujuran yang ditulis oleh Don dalam Bab ini:

  • Bagaimana ia mengalami kesulitan saat ia mencoba untuk memikirkan dan memahami Allah yang digambarkan sebagai “Bapa” di dalam Alkitab. Don menulis: “Why would God want to call Himself Father when so many fathers abandon their children? Saya tidak ingin megomentari kalimat ini secara teologis, tetapi saya sangat menghargai kejujuran yang Don tuliskan. Pertanyaan yang muncul karena pengalaman hidup yang pahit yang ia alami bersama ayahnya. Dan bukankah banyak di antara  kita  juga terkadang mengalami hal ini, di saat kita sulit menerima dan mempertanyakan sebuah kebenaran di dalam Alkitab karena kita pernah mengalami sebuah kepahitan. (This is what I do, questioning and questioning through my spiritual journey with God. Though sometimes it makes me uncomfortable and doubt, but I know He wouldn’t leave me alone in this journey)
  • Bagaimana ia terjebak di dalam dosa “pornography” untuk pertama kalinya pada waktu ia berusia 10 tahun. Perasaan deg-degan yang luar biasa yang ia bawa sampai di tempat tidurnya di malam hari, serta bagaimana gambar itu seperti sebuah movie slides yang bermain di dalam kepalanya (Hi boys…. just be honest.. We did it, didn’t we..???)
  • Bagaimana ia mengungkapkan persepsinya tentang Allah dan pengalaman hidupnya. Ia sempat berpikir bahwa Allah itu seperti sebuah “Slot-Machine” yang akan menyediakan penyembuhan dari rasa bersalah dan pengharapan yang membuat hidupnya diarahkan kepada sebuah tujuan. Namun, implikasinya adalah  “jika sesuatu yang baik terjadi dalam hidupnya, maka ia berpikir itu dari Allah. Jika tidak, maka hal itu adalah karena dosa atau kesalahan yang ia lakukan, maka ia akan bersujud di dalam doa untuk menyembuhkan rasa bersalah itu dan mendapatkan ketenangan kembali. (Hi churchman… just be honest… We do it every week in church building when we do the confession of sin ritual also, right…???)

Tentu masih banyak kejujuran dan ketulusan yang lain yang ia tuliskan di dalam bukunya. I hope I can share it in my next posting…

Buku ini juga sudah difilmkan dan film yang mengambil judul yang sama “Blue Like Jazz” ini akan direlease tanggal 13 April ini. I’m so excited to watch it. Here’s the trailer of that movie: