Archive for the ‘Church’ Category

Salah satu pergumulan utama gereja-gereja di dunia di era Post-Christian ini adalah menurunnya jumlah anak muda di dalam gereja secara drastis. Banyak gereja kebingungan untuk menemukan cara terbaik di dalam menghadapi pergumulan ini, bahkan beberapa pihak mulai menjadi pesimis dengan pelayanan kaum muda di dalam gereja. Pertanyaan besar yang muncul adalah:

Masihkah ada harapan bagi pelayanan kaum muda di dalam gereja?

Apakah gereja masih dapat terlihat “cantik” di mata generasi muda masa kini?

Sebelum kita terlalu cepat menjawab pertanyaan ini, mari kita terlebih dahulu sama-sama bergumul. Seperti yang Paulus katakan di dalam Roma 8:22-23 (NLT):

(22) For we know that all creation has been groaning as in the pains of childbirth right up to the present time. (23) And we believers also groan, even though we have the Holy Spirit within us as a foretaste of future glory, for we long for our bodies to be released from sin and suffering. We, too, wait with eager hope for the day when God will give us our full rights as his adopted children, including the new bodies he has promised us.

Pelayanan kaum muda adalah “a ministry in between,” di mana kita akan terus bergumul dan bergumul sampai akhirnya. Tuhan mau kita bergumul.

Youth ministry in the 21st century

Dalam pergumulan itu, buku Youth Ministry in the 21st Century: Five Views (2015), Chap Clark (Ed.) tampaknya dapat menjadi salah satu buku wajib yang harus dibaca oleh pemimpin-pemimpin pelayanan Kaum Muda masa kini.

 

Goal dari buku ini adalah:
“Our desire is to offer five relatively unique voices and perspectives on the basics and foundation of what youth ministry should be about now and in the coming decades….. Our intent is to give you a clear and compelling apologetic for each of our views and to defend their basic tenets even as we attempt to respond to and at times “correct” one another.”

Kita mulai dari model pelayanan kaum muda yang pertama, yang diusulkan oleh Greg Stier: The Gospel Advancing View of Youth Ministry
Model pertama yang diusulkan oleh Greg Stier adalah model yang menjadikan Injil dan penginjilan sebagai penggerak dan pusat dari pelayanan kaum muda.
Ia menghubungkan antara praktek penginjilan dengan kemuridan bahwa penginjilan akan mempercepat proses pemuridan. Ia mengatakan: “when we lead the way for evangelism personally and equip teenegers to do the same, it accelerates the descipleship process faster than just about anything.”

Tujuan utamanya bukanlah program penginjilan itu sendiri, melainkan membina remaja untuk hidup dan membagikan Injil di dalam perkataan dan tindakan mereka secara disengaja.

Greg tampaknya sadar bahwa dalam pelayanan kaum muda, pemimpin kaum muda perlu menghadirkan sebuah kerangka untuk menantang anak muda untuk mendapatkan pengalaman yang dapat membuat mereka bergantung kepada Tuhan.

Greg memahami Amanat Agung atau apa yang ia sebut sebagai “the Cause” demikian:
Ketika Yesus berkata kepada murid-muridnya “pergilah dan jadikanlah murid..” maka Yesus sedang menantang mereka untuk membawa Injil ke tempat yang”wide.” Lalu ketika Yesus berkata agar para murid “mentaati semua yang ia telah katakan” maka ia sedang mengarahkan murid untuk “go deep.”

Filosofi ini akan membawa kaum muda untuk memiliki relasi yang lebih dalam dengan Tuhan ketika mereka membawa Kabar Baik ke tempat yang lebih luas kepada yang terhilang. “the deep feeds the wide, and the wide feeds the deep.”

Maka semua bentuk pelatihan di dalam pelayanan Kaum Muda harus diarahkan untuk pergi ke tempat yang lebih luas dan misi yang membawa mereka ke tempat yang lebih luas harus membawa mereka untuk semakin dalam di dalam relasi mereka dengan Tuhan.

Hal yang menarik dari model ini adalah: Greg mencoba meruntuhkan pandangan tentang pelayanan Kaum Muda yang hanya berpusat pada “Kegiatan” dan “Pertemuan.” Ia mengkritik pelayanan Kaum Muda di abad modern demikian:
“the modern youth ministry model has largely abandoned the focus of Jesus and delivers, instead, a series of competing programs. We have exchanged mission for meetings. We have separated evangelism and discipleship. We have turned outreach into the program instead of a lifestyle.”

Model yang diusulkan Greg dimaksudkan untuk menghidupkan kembali semangat pemuridan seperti yang dilakukan Yesus kepada murid-murid-Nya yang tercatat di dalam Injil, yaitu pemuridan yang digerakkan oleh misi penginjilan sebagai gaya hidup.
“It’s a messy approach that embraces the bad, the broken, and the bullied. But it’s an approach that truly transforms teenagers not into “good church kids” but into world changers.”

Apakah model ini dapat menjadi solusi di dalam konteks pelayanan di gereja anda? Anda yang menilainya…

Continue to the next blog post….

 

Advertisements

Christmas….

Sebagian orang mengidentikkan Christmas dengan holiday season, late night shopping, hadiah, makanan yang berlimpah dan hal-hal lain yang dapat membuat kita tertawa dan bergembira.

Sebagian lagi mengidentikkan Christmas dengan serangkaian acara yang harus mereka hadiri di gereja. Acara-acara yang dipersiapkan beberapa bulan sebelumnya. Acara-acara yang menguras tenaga, pikiran dan tentunya sejumlah uang demi suksesnya acara itu. Acara-acara yang dibuat dengan tujuan untuk membawa orang-orang yang hadir mengerti makna Christmas dan pada akhirnya membuat mereka hidup lebih sungguh-sungguh di dalam Tuhan.

Semuanya itu tentu tidak salah, dan setiap orang berhak untuk mengidentikkan Christmas dengan kegiatan apapun yang biasa ia lakukan setiap kali Christmas tiba. Lagipula Christmas itu untuk semua orang, jadi semua orang dapat menikmati Christmas sesuai dengan konteks mereka.

Konteks…

Ya kita tidak dapat hidup di luar konteks. Jika ada orang yang menginginkan kehidupan yang demikian, maka tampaknya orang itu bosan hidup di dunia ini.

Konteks…

Jika ada kata yang dapat menggambarkan konteks bagaimana kita merayakan Christmas, maka kata itu pasti: Busyness. Kesibukan yang berujung kepada kelelahan.

Konteks…

Mengapa kita tidak mulai dengan pertanyaan, seperti apakah konteks the first Christmas itu dirayakan? Wahh… Jika ada orang yang mencoba menjawab pertanyaan ini, jawabannya pastilah sebuah interpretasi. Siapa yang tahu seperti apakah sebenarnya dan wujudnya Christmas yang pertama itu.

Namun, usaha untuk menggambarkan seperti apakah Christmas pertama itu telah dilakukan banyak tokoh disepanjang sejarah. Salah satunya adalah dalam bentuk Hymne Natal yang selalu dinyanyikan di saat malam Natal, yaitu Silent Night atau Malam Kudus.

Silent Night adalah sebuah Christmas carol yang berasal dari Jerman. Judul aslinya adalah “Stille Nacht.” Sebenarnya lagu ini tidak tepat diterjemahkan sebagai “Silent” apalagi sebagai “kudus” dalam terjemahan Indonesia. Terjemahan yang lebih tepat adalah “Still” yang dipahami sebagai:

“the elimination of not only noise but movement, the absence of all sensory evidence of others who want to talk to us or attract our attention or engage us in some activity.”

Stillness yang tentu dapat diidentikkan dengan kata “Rest.”

Umat Tuhan dari jaman ke jaman sebelum Yesus lahir hidup dalam kondisi yang “Restless”. Mereka tertekan, menderita dan miskin. Mereka hidup terjajah. Mereka mengharapkan dan merindukan sebuah kelepasan dari kondisi mereka yang “restless”. Seorang utusan pada jaman Herodes Agung menjadi Raja di Israel memberikan laporan kepada Kaisar di Roma:

A high level delegation went to Rome claiming of Herod’s tyranny that “he had reduced the entire people to helpless poverty” (Ant. 17.3-7)

Kehadiran Mesias dinantikan dan diharapkan dapat membawa mereka kepada kelepasan, ketenangan dan “rest” yang dapat memberikan mereka “Comfort.” Itulah sebabnya Yesus pernah berkata: “Come to me, all you who are weary and burdened, and I will give you rest” (Matthew 11:28). Christmas seharusnya diidentikkan dengan “Stillness, Rest and Comfort.”

Christmas dalam konteks dunia kita kini tampaknya bukan membuat kita dapat “rest” tetapi sebaliknya “restless.” Dan bukan hanya saat Christmas, manusia modern hidup sehari-hari di dalam kesibukan yang tiada henti. Kesibukan untuk mencari kepuasan dan happiness dalam hidup. Kondisi ini sepertinya tidak akan berhenti. St. Augustine menyadari bahwa di dalam diri manusia terdapat “love” dan “desire to love,” itulah sebabnya ia menulis dalam “the confession” demikian:

“Love longs for some object to be, loves to rest itself in the thing beloved. But in things there is no enduring place to lie. They don’t last. They run away.”

Hidup manusia akan terus menurus berada di dalam lingkaran “restless” jika salah dalam meletakkan cintanya dan keinginannya untuk mencintai, sebab:

“You made us for Yourself, and our heart is restless until it finds its place of rest in You” – St. Augustine

Christmas, Immanuel, God with Us seharusnya menjadi “perayaan” akan “Stillness and Rest.” Sebab kita dapat puas dan mengalami apa yang disebut “rest” yang membawa kepada “comfort” jika kita meletakkan cinta, hati dan pengharapan kita di dalam Kristus. Sehingga sama seperti Daud kita dapat berkata: “THE LORD is my shepherd; I have that all I need” (Psalm 23:1).

God with Us yang telah menjalani kehidupan sebagai Manusia di dunia dengan berbagai bentuk kehidupan yang sederhana dan berbagai bentuk penderitaan itu memahami betapa restless-nya kita dan betapa kita lapar akan “stillness.” Dia memahami bahwa kita membutuhkan “the true and lasting rest” yang hanya ada di dalam Dia.

Stillness dan Rest itu tidak dapat kita temukan di dalam liburan, pesta, makanan berlimpah, hadiah, drama Natal dan musik Natal yang megah, dekorasi Natal yang indah, atau bahkan khotbah Natal yang berapi-api dan mengharukan (termasuk tulisan tentang refleksi Christmas yang saya buat ini).

Tetapi apa artinya Christmas tanpa semuanya itu? Christmas tetap akan menjadi Christmas tanpa semuanya itu.

Konteks…

Sepertinya Stillness dan Rest bukanlah konteks hidup kita masa kini dan di dunia ini. Tetapi kita dapat memintanya kepada Bapa. Dalam kosakata Jerman, bentuk kata kerja dari “Stille” berarti:

“to nurse a baby, to stop up its mouth, to relax its frantic grasping, with the comfort and warmth and nourishment of the nipple.”

Maka mari di dalam nuansa Christmas ini kita berdoa kepada Bapa:

“Still my mouth, my hands, my schedule of activities. Make me like a newborn child – like your own Son on that first Christmas morning. I am incapable of stilling myself. Still me. Still my heart and the innermost of my brain. Comfort me with your presence. Let me rest in you. Make me know that I am yours.”

– God with Us –

What is Postmodernism? Obviously, no single post can describe it. But one way to think about it is to recognize that we no longer live in a time or culture where there is a single agree-upon version of, or story about, reality. Instead, there are lots of competing stories about what makes the world go round.” [read full article here]

Tulisan di atas adalah cuplikan artikel yang ditulis oleh David Lose, the Marbury E. Anderson Chair in Biblical Preaching at Luther Seminary [read his blog]. Dalam artikel itu ia menyoroti issue Gereja dan Postmodernism. Menurut saya ada 2 issue utama yang ia soroti yang memang menjadi karakteristik utama dari Postmodern Culture:

  • Authenticity

Maksudnya adalah: generasi ini (generasi yang dekat dengan era postmodern adalah generasi Y yang lahir 1984 s/d akhir 1990), ingin menjadi generasi yang “apa adanya”. Generasi yang berani memilih dan mengikuti apa yang mereka sukai. Dalam kaitannya dengan kehidupan gereja,  mereka tidak akan pergi ke gereja karena orang tua mereka melakukannya. Mereka akan memilih, mencurahkan energi dan uang mereka kepada “sesuatu” (Narrative & Activity) yang paling membentuk hidup mereka. Mereka tidak suka dengan paksaan atau keharusan, mereka ingin memilih apa yang mereka sukai. Mereka ingin menjadi apa adanya mereka. Jika di dalam gereja mereka tidak menemukan Komunitas yang dapat / layak mereka cintai karena membentuk mereka maka mereka akan mencari komunitas lain di luar gereja. Komunitas yang adalah “home” bagi mereka. Komunitas yang authentic, bukan yang penuh dengan “topeng”.

  • Experience

Maksudnya adalah generasi ini mencari yang namanya “pengalaman”. Jika mereka ingin pergi ke gereja alasannya bukanlah hanya karena “itulah yang seharusnya mereka lakukan” sebab mereka lahir di tengah-tengah keluarga kristen, tetapi karena mereka ingin mendapatkan sebuah “experience”, yaitu pengalaman bersama dengan Allah, pengalaman yang dapat mentransform mereka. Jika experience yang demikian tidak mereka temui, maka mereka akan mencari experience yang lain. Kita tahu bahwa pada hari ini, ada banyak pilihan lain yang dapat kita lakukan yang akan menyita waktu dan perhatian kita pada hari minggu. Tetapi sebagai gereja terkadang kita terlihat seperti hidup di tahun 50-an, 60-an, 70-an atau 80-an, dimana seseorang akan tetap pergi ke gereja hanya karena “itulah yang seharusnya kita lakukan” sebab tidak ada pilihan lain. Generasi ini akan bertanya: “Mengapa harus? Apa alasannya?”

Lalu di sisi yang lain kita tidak boleh lupa bahwa hari ini kita hidup dengan kompetisi, tidak hanya kompetisi dengan agama lain, tetapi juga dengan aktivitas lain, seperti quality time dengan keluarga di akhir pekan setelah menjalani weekdays yang hectic, serta pilihan hiburan-hiburan yang lain yang juga menawarkan experience.

Apakah komunitas kita menawarkan “experience” yang dapat memuaskan dahaga generasi ini akan Allah? Atau jangan-jangan komunitas gereja kita hanya menawarkan aktivitas-aktivitas berulang tanpa meaning dan sebuah tradisi ritual yang diulang-ulang setiap minggunya yang berpusat pada “pemikiran-pemikiran” bukan pada “experience” yang mengubahkan?

Lepas dari fakta bahwa memang tidak ada gereja yang sempurna (setiap gereja atau lebih tepatnya orang-orang yang ada di dalam gereja tidak dapat kebal untuk memiliki dan memakai “topeng”nya masing-masing, termasuk saya…) dan lepas dari apa yang saya sebut disiplin rohani (sebab bagi saya bersekutu di gereja adalah salah satu dari disiplin rohani yang harus dikerjakan seorang percaya jika ia ingin mengalami Allah di dalam hidupnya), saya pikir 2 karakteristik di atas juga perlu dipertimbangkan jika kita ingin menyentuh dan memenangkan generasi bagi Kristus.

Berkaitan dengan issue ini juga, dalam video di bawah ini Pastor Jay Gamelin bertanya apakah kita siap untuk melayani generasi ini?

 

What do you think about this issue?