Archive for the ‘Daily Devotion’ Category

Bagaimana memahami sebuah cerita yang kita baca, khususnya cerita dari buku kuno, yang disebut Alkitab?

read old texts

Berbagai metode telah diusulkan oleh para ahli Alkitab, tetapi metode sederhana yang dapat diaplikasikan untuk membaca cerita Alkitab adalah: 1) memperhatikan detail cerita,; 2) memperhatikan bagaimana cerita itu berdampingan dengan beberapa cerita lainnya di dalam Alkitab; 3) memperhatikan cerita dengan memandangnya dalam konteks jauh (larger pattern).

Cara pertama adalah dengan memperhatikan detail cerita. Misalnya kisah tentang seorang Israel bernama Ehud yang bertangan kidal dan Raja Moab yang gendut, bernama Eglon. Kita dapat memperoleh makna dari cerita berdasarkan detail dari cerita. Mengapa bertangan kidal perlu disebutkan oleh penulis?

Bertangan kidal bukanlah hal yang lazim. Kebanyakan orang beraktivitas dengan tangan kanan. Menggunakan pedang dan berperang dengan tangan kanan. Seorang yang menggunakan pedang dengan tangan kanan pasti menyimpan pedangnya di paha kirinya, sehingga memudahkannya ketika ingin menghunuskan pedangnya. Ehud tidak demikian. Ia menyembunyikan pedangnya di paha kanannya. Hal ini tidak diketahui oleh pengawal-pengawal Ehud yang memeriksa Ehud sebelum ia bertemu si Raja gendut.. Mereka mungkin melakukan pemeriksaan apakah Ehud membawa senjata atau tidak dengan memeriksa paha kirinya. Mereka tidak menemukannya. Ehud masuk dengan membawa pedang di paha kanannya. Ehud bertangan kidal dan Eglon Raja yang gendut hanya berdua saja di dalam ruangan Raja. Ketika Ehud berbisik mendekat kepada Eglon, maka dengan tangan kirinya, ia menghunuskan pedang yang ia sembunyikan di paha kanannya, lalu menikam perut si Raja gendut. Lemak dari perut si Raja gendut menutupi mata pedang.

Sesuatu yang dipandang “tidak lazim – keanehan – kelemahan” (karena bertangan kidal) membuat Ehud mampu menyembunyikan pedang, membunuh si Raja gendut dan membebaskan bangsa Israel dari penjajahan bangsa Moab. Ketidak laziman, keanehan dan kelemahan dapat dipakai oleh Tuhan untuk menjadi berkat yang luar biasa bagi orang lain.

Hal membuat kita berpindah kepada cara kedua (bagaimana hubungan cerita ini dengan beberapa cerita lainnya).

Kemunculan Ehud diawali dengan sebuah setting, yaitu kondisi di mana bangsa Israel melakukan apa yang jahat di mata Tuhan dan Tuhan menyerahkan mereka kepada Raja Moab, Eglon selama 18 tahun di dalam penjajahan. Pada akhirnya, bangsa Israel “berseru” (cried out) kepada Tuhan dan Tuhan mendengarkan seruan mereka serta membebaskan mereka dengan membangitkan seorang yang tidak lazim bernama Ehud. Kata “crying out” sebenarnya juga muncul dalam kisah Keluaran, di mana bangsa Israel diperbudak di Mesir selama 430 tahun, dan mereka berteriak kepada Tuhan, dan Tuhan mendengarkan mereka. Darah Habel juga berteriak kepada Tuhan dari tanah, dan Tuhan mendengarkannya. Ketika Yesus berjalan di sebuah desa, orang-orang juga berteriak, dan para murid berkata kepada Yesus untuk mengabaikan mereka, tetapi sebaliknya Yesus malah mendengarkan teriakan mereka.

Berteriak atau berseru (crying out) adalah hal yang berulang kali ditemukan di banyak certia di dalam Alkitab. Menariknya adakah setiap kali umat Tuhan di dalam penderitaan dan kondisi yang menyedihkan, berteriak  kepada Tuhan, Tuhan selalu mendengarkan mereka. Tuhan selalu mendengarkan teriak kita di dalam keputusasaan kita. Dia bukan Tuhan yang jahat yang mengabaikan kita, tetapi Dia adalah Tuhan yang murah hati yang mendengarkan teriakan kita.

Hal ini membawa kita kepada cara ketiga (memandang cerita ini dalam konteks jauhnya – seperti melihat sebuah kota dari atas pesawat).

Kata “crying out” diikuti oleh respon Tuhan yang membebaskan bangsa Israel. Ehud membunuh Raja Eglon, diikuti dengan bangsa Israel yang membantai 10 ribu orang Moab, sehingga amanlah bangsa Israel selama 80 tahun. Kondisi yang aman diperoleh dengan sebuah pembantaian masal (Sadis!). Sirkuasi “melakukan yang jahat di mata Tuhan – dijajah oleh bangsa asing – berteriak kepada Tuhan – dibebaskan dan hidup dengan aman” berulang kali ditemukan dalam kisah Hakim-hakim yang lain di dalam kitab ini. Kitab ini penuh dengan kekerasan dan kekejaman yang dilakukan oleh Allah melalui bangsa Israel untuk membebaskan dan memberikan kondisi aman bangsa Israel. Kekerasan seolah menjadi solusi bagi masalah.

Namun, sirkulasi cerita ini tidak berakhir pada kondisi aman yang dinikmati oleh bangsa Israel. Kondisi yang aman membuat mereka lengah dan kembali lagi “melakukan apa yang jahat di mata Tuhan.” Bangsa Israel kembali gagal. Penulis buku Hakim-hakim ingin menunjukkan bahwa kekerasan ternyata tidak dapat menyelesaikan masalah. Kekerasan adalah sesuatu yang pointless (tidak berguna).

 

Advertisements

Christmas….

Sebagian orang mengidentikkan Christmas dengan holiday season, late night shopping, hadiah, makanan yang berlimpah dan hal-hal lain yang dapat membuat kita tertawa dan bergembira.

Sebagian lagi mengidentikkan Christmas dengan serangkaian acara yang harus mereka hadiri di gereja. Acara-acara yang dipersiapkan beberapa bulan sebelumnya. Acara-acara yang menguras tenaga, pikiran dan tentunya sejumlah uang demi suksesnya acara itu. Acara-acara yang dibuat dengan tujuan untuk membawa orang-orang yang hadir mengerti makna Christmas dan pada akhirnya membuat mereka hidup lebih sungguh-sungguh di dalam Tuhan.

Semuanya itu tentu tidak salah, dan setiap orang berhak untuk mengidentikkan Christmas dengan kegiatan apapun yang biasa ia lakukan setiap kali Christmas tiba. Lagipula Christmas itu untuk semua orang, jadi semua orang dapat menikmati Christmas sesuai dengan konteks mereka.

Konteks…

Ya kita tidak dapat hidup di luar konteks. Jika ada orang yang menginginkan kehidupan yang demikian, maka tampaknya orang itu bosan hidup di dunia ini.

Konteks…

Jika ada kata yang dapat menggambarkan konteks bagaimana kita merayakan Christmas, maka kata itu pasti: Busyness. Kesibukan yang berujung kepada kelelahan.

Konteks…

Mengapa kita tidak mulai dengan pertanyaan, seperti apakah konteks the first Christmas itu dirayakan? Wahh… Jika ada orang yang mencoba menjawab pertanyaan ini, jawabannya pastilah sebuah interpretasi. Siapa yang tahu seperti apakah sebenarnya dan wujudnya Christmas yang pertama itu.

Namun, usaha untuk menggambarkan seperti apakah Christmas pertama itu telah dilakukan banyak tokoh disepanjang sejarah. Salah satunya adalah dalam bentuk Hymne Natal yang selalu dinyanyikan di saat malam Natal, yaitu Silent Night atau Malam Kudus.

Silent Night adalah sebuah Christmas carol yang berasal dari Jerman. Judul aslinya adalah “Stille Nacht.” Sebenarnya lagu ini tidak tepat diterjemahkan sebagai “Silent” apalagi sebagai “kudus” dalam terjemahan Indonesia. Terjemahan yang lebih tepat adalah “Still” yang dipahami sebagai:

“the elimination of not only noise but movement, the absence of all sensory evidence of others who want to talk to us or attract our attention or engage us in some activity.”

Stillness yang tentu dapat diidentikkan dengan kata “Rest.”

Umat Tuhan dari jaman ke jaman sebelum Yesus lahir hidup dalam kondisi yang “Restless”. Mereka tertekan, menderita dan miskin. Mereka hidup terjajah. Mereka mengharapkan dan merindukan sebuah kelepasan dari kondisi mereka yang “restless”. Seorang utusan pada jaman Herodes Agung menjadi Raja di Israel memberikan laporan kepada Kaisar di Roma:

A high level delegation went to Rome claiming of Herod’s tyranny that “he had reduced the entire people to helpless poverty” (Ant. 17.3-7)

Kehadiran Mesias dinantikan dan diharapkan dapat membawa mereka kepada kelepasan, ketenangan dan “rest” yang dapat memberikan mereka “Comfort.” Itulah sebabnya Yesus pernah berkata: “Come to me, all you who are weary and burdened, and I will give you rest” (Matthew 11:28). Christmas seharusnya diidentikkan dengan “Stillness, Rest and Comfort.”

Christmas dalam konteks dunia kita kini tampaknya bukan membuat kita dapat “rest” tetapi sebaliknya “restless.” Dan bukan hanya saat Christmas, manusia modern hidup sehari-hari di dalam kesibukan yang tiada henti. Kesibukan untuk mencari kepuasan dan happiness dalam hidup. Kondisi ini sepertinya tidak akan berhenti. St. Augustine menyadari bahwa di dalam diri manusia terdapat “love” dan “desire to love,” itulah sebabnya ia menulis dalam “the confession” demikian:

“Love longs for some object to be, loves to rest itself in the thing beloved. But in things there is no enduring place to lie. They don’t last. They run away.”

Hidup manusia akan terus menurus berada di dalam lingkaran “restless” jika salah dalam meletakkan cintanya dan keinginannya untuk mencintai, sebab:

“You made us for Yourself, and our heart is restless until it finds its place of rest in You” – St. Augustine

Christmas, Immanuel, God with Us seharusnya menjadi “perayaan” akan “Stillness and Rest.” Sebab kita dapat puas dan mengalami apa yang disebut “rest” yang membawa kepada “comfort” jika kita meletakkan cinta, hati dan pengharapan kita di dalam Kristus. Sehingga sama seperti Daud kita dapat berkata: “THE LORD is my shepherd; I have that all I need” (Psalm 23:1).

God with Us yang telah menjalani kehidupan sebagai Manusia di dunia dengan berbagai bentuk kehidupan yang sederhana dan berbagai bentuk penderitaan itu memahami betapa restless-nya kita dan betapa kita lapar akan “stillness.” Dia memahami bahwa kita membutuhkan “the true and lasting rest” yang hanya ada di dalam Dia.

Stillness dan Rest itu tidak dapat kita temukan di dalam liburan, pesta, makanan berlimpah, hadiah, drama Natal dan musik Natal yang megah, dekorasi Natal yang indah, atau bahkan khotbah Natal yang berapi-api dan mengharukan (termasuk tulisan tentang refleksi Christmas yang saya buat ini).

Tetapi apa artinya Christmas tanpa semuanya itu? Christmas tetap akan menjadi Christmas tanpa semuanya itu.

Konteks…

Sepertinya Stillness dan Rest bukanlah konteks hidup kita masa kini dan di dunia ini. Tetapi kita dapat memintanya kepada Bapa. Dalam kosakata Jerman, bentuk kata kerja dari “Stille” berarti:

“to nurse a baby, to stop up its mouth, to relax its frantic grasping, with the comfort and warmth and nourishment of the nipple.”

Maka mari di dalam nuansa Christmas ini kita berdoa kepada Bapa:

“Still my mouth, my hands, my schedule of activities. Make me like a newborn child – like your own Son on that first Christmas morning. I am incapable of stilling myself. Still me. Still my heart and the innermost of my brain. Comfort me with your presence. Let me rest in you. Make me know that I am yours.”

– God with Us –