Archive for the ‘Disiplin rohani’ Category

Model pelayanan kaum muda yang kelima dalam buku Youth Ministry in the 21st Century: Five View (2015), Chap Clark (Ed.) adalah The D6 View of Youth Ministry oleh Ron Hunter.

Youth ministry in the 21st century

“Youth Pastors need to get dads and moms engaging in spiritual conversation with their teens by teaching them how to ask the right questions and how to show unconditional love. Parents should know that not every conversation needs to be critical, contain biblical lectures, or even be serious.”

Ada 2 masalah yang disoroti oleh Hunter yang menjadi latar belakang dari model pelayanan Kaum Muda yang ia usulkan. Pertama, adanya segregasi di antara masing-masing department pelayanan di dalam gereja. Masing-masing “bidang pelayanan dan komisi” bergerak di dalam isolasi satu dengan yang lain. Hasilnya, masing-masing bidang tidak memiliki interaksi dan kepemimpinan di dalam gereja menjadi terpecah-pecah. Perpecahan kepemimpinan dan agenda ini akan mengakibatkan kebingungan bahkan konflik yang berujung pada kemandekan pertumbuhan rohani jemaat. Perpecahan agenda biasanya terjadi karena para pemimpin di dalam gereja hanya berfokus pada program. Program tidaklah buruk, tetapi pemimpin harus melihat program sebagai sebuah cara untuk mencapai strategi (principled plan) yang lebih besar. Pemimpin yang program-oriented tanpa perencanaan dan tujuan yang holistik dan jelas seringkali terlihat sibuk tapi tanpa arah yang jelas. Pemimpin yang mengadopsi program sebagai tujuan pelayanan akan menciptakan kekacauan dan ketidakjelasan karena program hanya dapat menjadi “cara” bukan tujuan. INGAT: “students can temporarily conform to a program without ever changing their hearts. When all the activities are gone, the student is left.”

Kedua, adanya kecenderungan gereja untuk mempekerjakan pekerja yang khusus ditempatkan sebagai pelayan Kaum Muda, pelayan Anak dan lain-lain. Menurut Hunter, hal ini tidaklah salah. Namun, hal ini menjadi sebuah masalah jika orang tua mendelegasikan SEMUA tanggung jawab pertumbuhan rohani anak-anaknya kepada pelayan-pelayan ini. Pola pembinaan dengan mempekerjakan profesional adalah pola yang sangat umum di dalam sistem pendidikan modern. Orang tua mempekerjakan guru les untuk anaknya supaya lulus test dan mahir di dalam ketrampilan tertentu. Hal ini terjadi karena orang tua kurang waktu dan keahlian serta mereka menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Namun, sangat ironis bahwa keinginan yang terbaik untuk anak ini berdampak pada kurangnya interaksi antara orang tua dengan anak mereka. Hasilnya orang tua kehilangan pengaruh bagi anak mereka sendiri.

Kedua masalah ini akan membawa anak muda hilang dari gereja dan menghidupi prinsip-prinsip hidup yang tidak berpusat pada Kristus. Hunter mengusulkan model pelayanan Kaum Muda yang ia sebut sebagai D6 sebagai solusi bagi masalah ini. D6 adalah akronim dari Deuteronomy 6 (Ulangan 6) – dan juga Efesus 6 – sebagai dasar biblika dari model pelayanan ini. Dalam Ulangan 6 dan Efesus 6, Allah memerintahkan generasi yang lebih tua (kakak-nenek, orang tua, komunitas iman) sebagai satu kesatuan untuk memuridkan generasi berikutnya dengan memberikan teladan dan pengajaran yang berulang-ulang, dan tidak mendelegasikan tanggung jawab ini kepada orang lain.

D6 merupakan sebuah model pelayanan terhadap kaum muda di mana semua pemimpin gereja dan semua orang tua saling bermitra untuk mempersiapkan generasi berikutnya demi kehidupan mereka ke depan. Model D6 sering juga digambarkan sebagai pemuridan generasional yang dilakukan baik itu di dalam gereja maupun di dalam rumah. Gereja dan rumah harus terus-menerus menyuarakan kebenaran di dalam kehidupan anak-anak.

Secara praktis, model palayanan D6 dapat diaplikasikan demikian:

  1. Setiap bidang pelayanan harus saling bekerjasama untuk menghasilkan sebuah pertumbuhan rohani yang baik. Pelayanan anak harus bermitra dengan orang tua untuk memuridkan anak-anak dengan baik, sebab anak yang bertumbuh sebagai “unprepared teen” akan kesulitan untuk tetap terikat di dalam gereja. Jika kita ingin memiliki pelayanan kaum muda yang kuat, mulailah membangun murid-murid yang kuat ketika mereka berada di dalam pelayanan anak. Seorang  Pendeta Kaum Muda juga harus bertanya: Apakah strategiku (bukan program tapi prinsip pelayanan) yang dapat menghubungkan setiap bidang pelayanan di dalam gereja? Apakah aku sudah berbicara dengan pemimpin lainnya di dalam gereja untuk membangun sebuah strategi? Diperlukan sebuah pendekatan yang komprehensif di antara masing-masing bidang di dalam gereja, yang juga melibatkan orang tua.
  2. Orang tua akan belajar dari gereja melalui khotbah-khotbah, kelompok kecil, kelas-kelas pembinaan dan relasi di dalam gereja, sehingga orang tua dapat menyediakan sebuah pemuridan yang konsisten kepada anak mereka ketika mereka tidak berada di gereja. Model D6, dimulai dengan sebuah keluarga mendengarkan pengajaran Firman Tuhan di dalam gereja dan kemudian orang tua akan mengajar anak mereka selama seminggu sampai mereka kembali lagi ke gereja minggu depan. Pemuridan yang konsisten (with grace & trust) di dalam sebuah relasi yang sangat dekat antara orang tua dan anak akan menghasilkan sebuah pengaruh yang luar biasa untuk hidup seorang anak.
  3. Pendeta Kaum Muda berperan sebagai seorang “Transformational Leader,” yang berfokus pada pembaharuan hidup orang yang ia pimpin. Ia akan memimpin dan menggembalakan kelompok anak muda serta (bersama Gembala dan pemimpin lainnya di dalam gereja) memberikan pengaruh dan melatih (coaching) orang tua untuk menjadi “coach” yang memuridkan anak mereka juga. Pendeta Kaum Muda harus mengajak orang tua untuk terlibat dalam pembicaraan tentang hal-hal rohani dengan anak remaja mereka, dengan cara mengajarkan mereka bagaimana memberikan pertanyaan yang tepat dan bagaimana menunjukkan kasih yang tanpa syarat. Orang tua harus diingatkan bahwa tidak semua pembicaraan harus berisi kritikan, ceramah Alkitab atau harus selalu serius.
  4. Pendeta Kaum Muda tidak dapat memposisikan dirinya lebih cool dari orang tua anak remaja yang ia bimbing, sebab mereka bisa meremehkan orang tua mereka. Atau memposisikan pelayanan Kaum Muda lebih cool dari pelayanan dalam ibadah umum orang dewasa, karena mereka akan meremehkan dan tidak menyukai gereja secara umum. Pendeta Kaum Muda harus menolong remaja dan anak muda mencintai dan menghormati orang tua mereka. Pendeta Kaum Muda tidak perlu berusaha dengan keras untuk membuat anak remaja dan anak muda menyukai mereka, tetapi pekerjaan yang harus diusahakan dengan sungguh-sungguh adalah membuat orang tua tertarik untuk terkoneksi dengan anak-anak mereka.

Model ini adalah sebuah model ideal dan holistik yang perlu dipertimbangkan untuk diaplikasikan di dalam pelayanan Kaum Muda di dalam gereja. Namun, yang perlu menjadi catatan adalah bahwa tidak semua anak muda yang datang ke gereja memiliki orang tua yang juga bergereja, atau memiliki kemampuan untuk menjadi “coach” atau bahkan yang punya keinginan memuridkan anaknya. Bahkan di dalam realita, tidak sedikit orang tua yang sudah berusaha untuk dekat dengan anak remajanya justru tidak mendapatkan respon yang baik dari anaknya. Fenomena justru menunjukkan kebanyakan anak remaja lebih mendengarkan teman sebayanya atau bahkan pembimbing rohaninya di gereja. Apalagi ditambah dengan realita lain bahwa tuntutan ekonomi yang tinggi di dunia modern telah memaksa para orang tua kehilangan waktunya dengan anak-anak mereka di sepanjang minggu karena pekerjaan mereka. Penekanan pada melakukan coaching di dalam rumah harus diimbangi dengan penggembalaan dan mentoring oleh para pemimpin dan pembimbing Kaum Muda di dalam gereja.

 

Advertisements

Model pelayanan kaum muda yang keempat dalam buku Youth Ministry in the 21st Century: Five View (2015), Chap Clark (Ed.) adalah The Ecclesial View of Youth Ministry oleh Fernando Arzola.

Youth ministry in the 21st century

Jika Chap Clark dengan model Adoption menekankan pada relasi antar generasi di dalam jemaat lokal. Arzola melangkah lebih jauh dengan menekankan pada relasi antara pelayanan kaum muda kini dengan gereja di sepanjang sejarah.

Maksud utama dari Arzola di dalam tulisannya adalah untuk mengusulkan sebuah konsep Eklesiologi yang sering diabaikan di dalam pelayanan kaum muda. Pelayanan kaum muda hanya berfokus pada unsur praktis seperti Pemuridan dan Pujian Penyembahan. Arzola berpendapat bahwa pelayan kaum muda perlu memahami konsep Eklesiologi yang ada di dalam perjalanan panjang sejarah gereja. Namun, secara khusus ia menekankan pentingnya Eklesiologi dari gereja Abad Mula-mula karena dianggap memiliki keterikatan yang kuat dengan masa kehadiaran Kristus di bumi. Eklesiologi dari Abad Mula-mula dianggap yang paling murni untuk membangun sebuah pelayanan gereja. Eklesiologi ini harus menjadi dasar untuk membangun sebuah pelayanan kaum muda.

Penggalian kembali akan kekayaan dari gereja Abad Mula-mula menjadi penting karena gereja masa kini sudah terjebak di dalam pengaruh buruk yang diwariskan dari Abad Pencerahan. Ada dua masalah yang dilihat oleh Arzola: pertama, penekanan pada pragmatisme, di mana gereja mengadopsi model-model dari dunia bisnis dan mengaplikasikannya di dalam gereja demi tujuan keefektifan. Kedua, penekanan pada individualisme, bahwa pemuridan, penyembahan dan khotbah di dalam gereja semuanya hanya diarahkan kepada pertumbuhan rohani seseorang secara individu.

Ada empat karakteristik gereja yang diakui di Abad Mula-mula yang diangkat oleh Arzola, antara lain: gereja itu satu, gereja itu kudus, gereja itu katolik, gereja itu apostolik. Gereja itu satu karena berasal dari Kristus yang satu. Gereja itu kudus sehingga gereja harus mendasarkan kekudusannya pada kekudusan Kristus. Gereja itu katolik karena seluruh gereja itu terhubung satu dengan yang lain di sepanjang masa dan tempat. Gereja itu apostolik artinya gereja harus berakar pada pengajaran rasul.

Pemahaman yang tepat tentang Eklesiologi dan sejarah gereja akan mencegah pemimpin kaum muda untuk menciptakan sebuah pelayanan gereja yang hanya didasari oleh karakter dan tempramen pemimpin. Sebaliknya, pemahaman tentang keempat karakteristik gereja ini akan menolong pelayan kaum muda, baik sebagai individu maupun komunitas lokal untuk melihat keluar kepada gereja yang lebih luas, universal dan yang pernah ada di dalam sejarah. Eklesiologi ini harus menjadi presuposisi dan teori di dalam membangun model pelayanan kaum muda.

Hal yang disayangkan dari apa yang diusulkan oleh Arzola adalah bahwa ia hanya berfokus pada teori dari pada paktek. Ia tidak mengusulkan sebuah model pelayanan kaum muda yang didasarkan pada presuposisi atau teori yang ia kemukakan tetapi ia hanya menyediakan sebuah perspektif yang ia pikir telah hilang dari pelayanan kaum muda. Perspektif yang ia bangun dari tiga tokoh yang menggali kembali kekayaan gereja di zaman Patristik, seperti Donald G. Bloesch, Thomas C. Oden dan Robert E. Webber.

Tampaknya pandangan pelayanan kaum muda yang Ecclesial hanya memberikan sebuah pelajaran bahwa anak muda harus diajarkan bahwa Allah bekerja di dalam sejarah gereja dan kehadiran mereka kini memiliki relasi dengan gereja segala masa dan tempat.

Youth ministry in the 21st century

Model pelayanan kaum muda yang ketiga dalam buku Youth Ministry in the 21st Century: Five View (2015), Chap Clark (Ed.) adalah The Adoption View of Youth Ministry oleh Chap Clark.

“It wasn’t that young left the church; the church left the young” – Chap Clark

Model ini dilatar belakangi oleh ketidakcukupan pendekatan pelayanan Kaum Muda di abad Modern. Pertama, pelayanan Kaum Muda seringkali menciptakan fenomena kepala dan telinga “Mickey Mouse” di dalam gereja. Pelayanan Kaum Muda cenderung menjadi gereja kecil di dalam gereja.

Kedua, pelayanan Kaum Muda tanpa sadar menciptakan anak muda yang individualistik. Penekanan pada “menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi” dan disiplin rohani pribadi, termasuk di dalamnya model mentoring “one on one” [1] tanpa menanamkan pentingnya keberadaan komunitas gereja dalam perjalanan iman orang muda, menjadi salah satu penyebab bagi anak muda meninggalkan gereja, karena mereka merasa tidak memiliki ikatan yang kuat dengan gereja. Orang muda tidak diperlengkapi dengan pemahaman tentang iman Kristen yang cukup. Apalagi orang muda akan semakin disibukkan dengan membangun karir dan rumah tangga di masa muda. Komunitas gereja terlupakan dan gereja kehilangan kesempatan untuk memuridkan orang muda. Orang muda kini hidup di dalam nostalgia kenangan indah tentang gereja di masa lalu, yang pernah mereka alami di masa remaja dulu.

Ketiga, Clark menyebutkan bahwa pelayanan muda yang demikian merupakan buah dari pelayanan gereja secara umum yang menunjukkan kasihnya kepada generasi muda  dengan: “love the kids from the distance, but don’t want kids around.Generasi senior di dalam gereja tidak menginginkan adanya intimate relationship dengan generasi muda di dalam perjalanan iman mereka. Pelayanan gereja secara umum terjebak di dalam programmatic model yang tersegmentasi. Hasilnya relasi di dalam gereja menjadi terfragmentasi dan terisolasi.

Itulah sebabnya, Clark melihat bahwa gereja perlu mengadopsi anak remaja dan anak muda di dalam gereja sehingga mereka tidak dilihat sebagai komunitas yang terpisahkan dari gereja tetapi sebagai bagian dari keluarga gereja. Clark mendasari model ini berdasarkan metafora Alkitab tentang gereja sebagai sebuah tubuh dan sebuah keluarga. Setiap anggota tubuh atau anggota keluarga di dalam gereja saling membutuhkan dan melengkapi. Gereja menjadi “a family of families.” Gereja dalam hal ini pemimpin gereja senior tidak lagi hanya sekedar menjadi penyedia apa yang dibutuhkan oleh orang muda dalam komunitas Kaum Muda, tetapi benar-benar hadir di dalam perjalanan iman orang muda sambil mereka mengembangkan kedewasaan iman dan kemampuan mereka di dalam berelasi secara interdependent.

Clark secara singkat menjelaskan goal dari model pelayanan Kaum Muda ini demikian: “The goal of youth ministry as adoption is for every child, every adolescent, and every young adult to be so embraced by the community of faith that they know they always have a home, a people, and a place where they can discover who they are and how they are able to contribute.”

Secara praktis Clark juga menggambarkan pengaplikasian model ini. Contohnya ketika seorang pemimpin kelompok kecil menemukan ada seorang anak SMA yang memiliki kemampuan dan ketertarikan dalam urusan teknik audio. Pemimpin itu harus menghubungkan anak SMA itu dengan tim yang bertanggung jawab terhadap pelayanan sound production di dalam ibadah gereja. Namun, hal ini bukanlah untuk “memanfaatkan” talenta atau ketertarikan anak SMA tersebut atau untuk memberikan tanggung jawab pelayanan kepada anak tersebut, tetapi tim sound production memiliki tugas untuk mengadopsi anak SMA itu sebagai anggota dari keluarga Allah di dalam gereja lokal tersebut. Berdoa, berbagi dan studi Alkitab bersama di dalam tim harus juga menjadi bagian di dalam proses pengadopsian tersebut. Anak SMA itu tidak hanya akan mampu melayani di bidang itu dan mengalami pertumbuhan iman secara pribadi tetapi ia juga akan merasakan sebuah ikatan yang kuat dengan keluarga besarnya di dalam gereja lokal tersebut. Seluruh tim juga akan mengalami sebuah pengalaman pelayanan yang menggairahkan.

Di dalam model ini setiap anak muda penting. Setiap anak muda diterima dan merupakan bagian dari keluarga besar Allah dalam gereja lokal. Setiap anak muda tidak hanya dimentoring oleh satu orang mentor yang sudah dewasa, tetapi ia akan mengalami apa yang Clark sebut sebagai “a mentoring community.”

Model pelayanan ini sangat menarik, namun tidak mudah untuk diterapkan dalam pelayanan Kaum Muda, khususnya di Indonesia. Kendala pertama adalah model ini adalah  model pelayanan yang holistik, maka perubahan yang harus dibuat bukanlah pada segment Youth Ministry, tetapi pada pola dan strategi pelayanan gereja lokal secara utuh. Perubahan perspektif pelayanan dan penggembalaan dari Gembala Sidang dan para Majelis Gereja adalah kunci dari model ini. Namun, hal ini membawa kita kepada kendala yang kedua, yaitu kendala yang menyangkut kurangnya waktu dari para Gembala Sidang dan Majelis Gereja di dalam mempelajari generasi muda dan budaya yang mereka hidupi. Para pemimpin gereja ini sadar bahwa generasi muda kini hidup dengan paradigma dan budaya yang berbeda dari yang dulu mereka hidupi di masa muda mereka, tetapi mereka kurang fokus dan kurang waktu (jika tidak kurang rendah hati :p) untuk mempelajari dan mengubah paradigma pelayanan mereka.

Akhirnya seperti yang dikatakan oleh Mike Yaconelli: “Maybe we don’t need a revolution in youth ministry; maybe what we need is what we’ve always needed—a few adults who are willing to follow God’s call to love young people into the kingdom of God no matter what the result.”

 

Notes:

[1] Clark mengatakan bahwa model dan prakek pelayanan Kaum Muda yang berfokus pada individual faith merupakan sebuah releksi dari budaya individualism di dalam masyarakat dan gereja di Abad Modern. Kabar Baik yang diberitakan dapat disebut sebagai a gospel of individualistic faith.

 

 

Model pelayanan kaum muda yang kedua dalam buku Youth Ministry in the 21st Century: Five View (2015), Chap Clark (Ed.) adalah The Reformed View of Youth Ministry oleh Brian Cosby.

Youth ministry in the 21st century

Model yang diusulkan oleh Brain terkesan sangat teoritis, namun dengan percaya diri ia menjelaskan bahwa gereja tempat ia melayani, Presbyteran Church in America (PCA) adalah salah satu denominasi gereja dengan pertumbuhan tercepat di US pada tahun 2013.

Model yang ia usulkan dimotivasi oleh kritik terhadap kekeliruan umum yang biasanya dilakukan di dalam pelayanan kaum muda dan semangat untuk menerapkan metodologi Reformed secara konsisten yang terekspresi melalui “sarana kasih karunia” (means of grace) di sepanjang sejarah Gereja. Sarana kasih karunia yang dimaksud menunjuk kepada pelayanan Firman, Doa, Sakramen (Baptisan dan Perjamuan Kudus), pelayanan Diakonia dan komunitas orang percaya.

Brian menyoroti tentang kekeliruan di dalam pelayanan kaum muda. Pertama, ia mengungkapkan bahwa data yang menyebutkan 50-88 % remaja meninggalkan gereja di akhir tahun pertama kuliah mereka harus dipahami sebagai titik puncak bebasnya mereka menentukan sendiri pilihan iman mereka sendiri lepas dari iman orang tua mereka. Krisis yang sesungguhnya sudah terjadi sebelum mereka menginjak masa kuliah. Pemimpin pelayanan kaum muda harus menyadari betapa pentingnnya memuridkan remaja sebaik-baiknya sebelum mereka memasuki masa kuliah. Hilangnya para pemuda usia kuliah merupakan fenomena ketidakberesan yang ada di dalam pelayanan remaja usia High School.

Kedua, Brian juga menyoroti tentang penggunaan entertainment sebagai metode untuk menarik kaum muda ke dalam komunitas gereja. Ia mengatakan bahwa hal ini adalah sebuah kesalahan di dalam membaca fenomena yang ada. Ia mengutip tulisan Janie Cheaney dalam World Magazine (2010) bahwa para remaja masa kini adalah remaja yang lebih sibuk dari pada generasi sebelumnya. Mereka lebih sibuk dalam urusan olahraga, pramuka, math clubs dan PR (dapat ditambahkan: organisasi di sekolah dan les pelajaran). Namun, pada waktu yang sama mereka adalah generasi yang mudah “bored” dan “purposeless.” Mereka hidup dari satu kesenangan kepada kesenangan yang lain, sambil berharap mereka akan menemukan kepuasan bagi jiwa yang mengembara. Ravi Zacharias mengatakan “the loneliest moment in life is when you have just experienced that which you thought would deliver the ultimate, and it has let you down.”

Brian berasumi bahwa penggunaan entertainment di dalam komunitas gereja hanya meninggalkan anak remaja dan anak muda ke dalam kondisi “ketidakpuasan, kehampaan dan kesendirian.” Jiwa mereka tetap kosong. Gereja seolah hanya berkompetisi dengan dunia melalui penggunaan entertainment.

Usaha untuk merasionalisasi penggunaan entertainment dengan membuatnya hanya sebagai jalan masuk untuk menarik dan membawa anak muda masuk ke dalam pintu gereja, juga ditolak oleh Brain. Baginya “you keep them by how you attract them.” Sekali kita menggunakan entertainment sebagai sarana jalan masuk penginjilan maka seterusnya hal ini akan menjadi metode untuk terus menjaga mereka tetap ada di dalam gereja.

Sebaliknya, riset yang dituangkan di dalam buku Sticky Faith oleh tim Fuller Youth Institute, yang dipimpin oleh Kara Powell menunjukkan bahwa anak-anak muda yang telah melewati masa High School, berpendapat bahwa yang paling mereka inginkan dalam pelayanan ketika mereka di masa High School dulu, antara lain: 1) Waktu untuk obrolan yang dalam; 2) Mission trips; 3) Proyek pelayanan sosial; 4) akuntabilitas; 5) pertemuan one-on-one dengan pemimpin kaum muda. Apa yang tidak masuk dalam daftar ini adalah: video games, Pujian penyembahan yang wah dan sarana entertainment lainnya.

Brian sebagai seorang Reformed merasa bahwa pelayanan kaum muda membutuhkan sebuah model yang lain. Model yang ia sebuah sebagai consistently Reformed, yaitu sebuah model yang SETIA dengan tradisi Reformed (yang baginya adalah model yang paling alkitabiah) yang menjadikan “sarana kasih karunia” (means of grace) sebagai alat yang melaluinya Allah menyelamatkan dan menguduskan umatNya, yaitu pelayanan Firman, Doa, Sakramen (Baptisan dan Perjamuan Kudus), pelayanan Diakonia dan komunitas orang percaya.

Ia menggaris bawahi bahwa “faithfulness to God is always more important than success in ministry.” Baginya, kesetiaan kepada Tuhan di dalam pelayanan berarti me-maintain-ing sebuah pendekatan secara konsisten di dalam teori dan praktek. Teori dan praktek pendekatan itu harus berasal dan diafirmasi oleh Alkitab. Kesetiaan ini lebih penting dari pada kesuksesan di dalam pelayanan.

Model ini sangat tajam mengkritik pendekatan modern terhadap pelayanan kaum muda. Brian mencoba mengembalikan pelayanan kaum muda kepada makna yang dalam yang berakar pada teks Alkitab dan doktrin gereja serta tradisinya. Namun, penekanan pada konteks tampaknya agak lemah.

Sejumlah pertanyaan muncul:

Berkaitan dengan isu kesetiaan dan kesuksesan, menurut saya, kesetiaan kepada Tuhan memang tidak berbanding lurus dengan kesuksesan yang kasat mata dalam pelayanan (misalnya: jumlah kehadiran yang semakin bertambah). Namun, bukankah terkadang kondisi “tidak sukses” secara kasat mata (misalnya: hilangnya anak muda dari gereja) mengimplikasikan adanya kesalahan-kesalahan di dalam pelayanan, yang mungkin merupakan sebuah bentuk ketidaksetiaan kepada Tuhan?

Berkaitan dengan isu entertainment, apakah itu artinya anak muda dalam pelayanan kaum muda tidak boleh “having fun”? Jika gereja memfasilitasi sarana yang baik bagi kaum muda untuk menyalurkan energi yang sangat besar di masa muda mereka, bukankah hal ini merupakan sesuatu yang baik? Bukankah hidup ini (termasuk hidup orang muda) adalah sebuah tarian yang seimbang  antara “makna yang dalam” dan “permukaan yang dangkal”?

Rabi Yahudi dalam Talmud pernah berkata: “Everyone must give an account before God of all good things one saw in life and did not enjoy.”

Enjoyment is not only permitted, it is commanded; it is not only an opportunity, it is a divine imperative.

Secara garis besar, model ini perlu diperhitungkan dan memberikan masukan yang berharga bagi pelayanan kaum muda sehingga pelayanan kaum muda tidak terjebak ke dalam sebuah pelayanan yang “mere entertaining yet purposeless.”

 

 

Christmas….

Sebagian orang mengidentikkan Christmas dengan holiday season, late night shopping, hadiah, makanan yang berlimpah dan hal-hal lain yang dapat membuat kita tertawa dan bergembira.

Sebagian lagi mengidentikkan Christmas dengan serangkaian acara yang harus mereka hadiri di gereja. Acara-acara yang dipersiapkan beberapa bulan sebelumnya. Acara-acara yang menguras tenaga, pikiran dan tentunya sejumlah uang demi suksesnya acara itu. Acara-acara yang dibuat dengan tujuan untuk membawa orang-orang yang hadir mengerti makna Christmas dan pada akhirnya membuat mereka hidup lebih sungguh-sungguh di dalam Tuhan.

Semuanya itu tentu tidak salah, dan setiap orang berhak untuk mengidentikkan Christmas dengan kegiatan apapun yang biasa ia lakukan setiap kali Christmas tiba. Lagipula Christmas itu untuk semua orang, jadi semua orang dapat menikmati Christmas sesuai dengan konteks mereka.

Konteks…

Ya kita tidak dapat hidup di luar konteks. Jika ada orang yang menginginkan kehidupan yang demikian, maka tampaknya orang itu bosan hidup di dunia ini.

Konteks…

Jika ada kata yang dapat menggambarkan konteks bagaimana kita merayakan Christmas, maka kata itu pasti: Busyness. Kesibukan yang berujung kepada kelelahan.

Konteks…

Mengapa kita tidak mulai dengan pertanyaan, seperti apakah konteks the first Christmas itu dirayakan? Wahh… Jika ada orang yang mencoba menjawab pertanyaan ini, jawabannya pastilah sebuah interpretasi. Siapa yang tahu seperti apakah sebenarnya dan wujudnya Christmas yang pertama itu.

Namun, usaha untuk menggambarkan seperti apakah Christmas pertama itu telah dilakukan banyak tokoh disepanjang sejarah. Salah satunya adalah dalam bentuk Hymne Natal yang selalu dinyanyikan di saat malam Natal, yaitu Silent Night atau Malam Kudus.

Silent Night adalah sebuah Christmas carol yang berasal dari Jerman. Judul aslinya adalah “Stille Nacht.” Sebenarnya lagu ini tidak tepat diterjemahkan sebagai “Silent” apalagi sebagai “kudus” dalam terjemahan Indonesia. Terjemahan yang lebih tepat adalah “Still” yang dipahami sebagai:

“the elimination of not only noise but movement, the absence of all sensory evidence of others who want to talk to us or attract our attention or engage us in some activity.”

Stillness yang tentu dapat diidentikkan dengan kata “Rest.”

Umat Tuhan dari jaman ke jaman sebelum Yesus lahir hidup dalam kondisi yang “Restless”. Mereka tertekan, menderita dan miskin. Mereka hidup terjajah. Mereka mengharapkan dan merindukan sebuah kelepasan dari kondisi mereka yang “restless”. Seorang utusan pada jaman Herodes Agung menjadi Raja di Israel memberikan laporan kepada Kaisar di Roma:

A high level delegation went to Rome claiming of Herod’s tyranny that “he had reduced the entire people to helpless poverty” (Ant. 17.3-7)

Kehadiran Mesias dinantikan dan diharapkan dapat membawa mereka kepada kelepasan, ketenangan dan “rest” yang dapat memberikan mereka “Comfort.” Itulah sebabnya Yesus pernah berkata: “Come to me, all you who are weary and burdened, and I will give you rest” (Matthew 11:28). Christmas seharusnya diidentikkan dengan “Stillness, Rest and Comfort.”

Christmas dalam konteks dunia kita kini tampaknya bukan membuat kita dapat “rest” tetapi sebaliknya “restless.” Dan bukan hanya saat Christmas, manusia modern hidup sehari-hari di dalam kesibukan yang tiada henti. Kesibukan untuk mencari kepuasan dan happiness dalam hidup. Kondisi ini sepertinya tidak akan berhenti. St. Augustine menyadari bahwa di dalam diri manusia terdapat “love” dan “desire to love,” itulah sebabnya ia menulis dalam “the confession” demikian:

“Love longs for some object to be, loves to rest itself in the thing beloved. But in things there is no enduring place to lie. They don’t last. They run away.”

Hidup manusia akan terus menurus berada di dalam lingkaran “restless” jika salah dalam meletakkan cintanya dan keinginannya untuk mencintai, sebab:

“You made us for Yourself, and our heart is restless until it finds its place of rest in You” – St. Augustine

Christmas, Immanuel, God with Us seharusnya menjadi “perayaan” akan “Stillness and Rest.” Sebab kita dapat puas dan mengalami apa yang disebut “rest” yang membawa kepada “comfort” jika kita meletakkan cinta, hati dan pengharapan kita di dalam Kristus. Sehingga sama seperti Daud kita dapat berkata: “THE LORD is my shepherd; I have that all I need” (Psalm 23:1).

God with Us yang telah menjalani kehidupan sebagai Manusia di dunia dengan berbagai bentuk kehidupan yang sederhana dan berbagai bentuk penderitaan itu memahami betapa restless-nya kita dan betapa kita lapar akan “stillness.” Dia memahami bahwa kita membutuhkan “the true and lasting rest” yang hanya ada di dalam Dia.

Stillness dan Rest itu tidak dapat kita temukan di dalam liburan, pesta, makanan berlimpah, hadiah, drama Natal dan musik Natal yang megah, dekorasi Natal yang indah, atau bahkan khotbah Natal yang berapi-api dan mengharukan (termasuk tulisan tentang refleksi Christmas yang saya buat ini).

Tetapi apa artinya Christmas tanpa semuanya itu? Christmas tetap akan menjadi Christmas tanpa semuanya itu.

Konteks…

Sepertinya Stillness dan Rest bukanlah konteks hidup kita masa kini dan di dunia ini. Tetapi kita dapat memintanya kepada Bapa. Dalam kosakata Jerman, bentuk kata kerja dari “Stille” berarti:

“to nurse a baby, to stop up its mouth, to relax its frantic grasping, with the comfort and warmth and nourishment of the nipple.”

Maka mari di dalam nuansa Christmas ini kita berdoa kepada Bapa:

“Still my mouth, my hands, my schedule of activities. Make me like a newborn child – like your own Son on that first Christmas morning. I am incapable of stilling myself. Still me. Still my heart and the innermost of my brain. Comfort me with your presence. Let me rest in you. Make me know that I am yours.”

– God with Us –

What is Postmodernism? Obviously, no single post can describe it. But one way to think about it is to recognize that we no longer live in a time or culture where there is a single agree-upon version of, or story about, reality. Instead, there are lots of competing stories about what makes the world go round.” [read full article here]

Tulisan di atas adalah cuplikan artikel yang ditulis oleh David Lose, the Marbury E. Anderson Chair in Biblical Preaching at Luther Seminary [read his blog]. Dalam artikel itu ia menyoroti issue Gereja dan Postmodernism. Menurut saya ada 2 issue utama yang ia soroti yang memang menjadi karakteristik utama dari Postmodern Culture:

  • Authenticity

Maksudnya adalah: generasi ini (generasi yang dekat dengan era postmodern adalah generasi Y yang lahir 1984 s/d akhir 1990), ingin menjadi generasi yang “apa adanya”. Generasi yang berani memilih dan mengikuti apa yang mereka sukai. Dalam kaitannya dengan kehidupan gereja,  mereka tidak akan pergi ke gereja karena orang tua mereka melakukannya. Mereka akan memilih, mencurahkan energi dan uang mereka kepada “sesuatu” (Narrative & Activity) yang paling membentuk hidup mereka. Mereka tidak suka dengan paksaan atau keharusan, mereka ingin memilih apa yang mereka sukai. Mereka ingin menjadi apa adanya mereka. Jika di dalam gereja mereka tidak menemukan Komunitas yang dapat / layak mereka cintai karena membentuk mereka maka mereka akan mencari komunitas lain di luar gereja. Komunitas yang adalah “home” bagi mereka. Komunitas yang authentic, bukan yang penuh dengan “topeng”.

  • Experience

Maksudnya adalah generasi ini mencari yang namanya “pengalaman”. Jika mereka ingin pergi ke gereja alasannya bukanlah hanya karena “itulah yang seharusnya mereka lakukan” sebab mereka lahir di tengah-tengah keluarga kristen, tetapi karena mereka ingin mendapatkan sebuah “experience”, yaitu pengalaman bersama dengan Allah, pengalaman yang dapat mentransform mereka. Jika experience yang demikian tidak mereka temui, maka mereka akan mencari experience yang lain. Kita tahu bahwa pada hari ini, ada banyak pilihan lain yang dapat kita lakukan yang akan menyita waktu dan perhatian kita pada hari minggu. Tetapi sebagai gereja terkadang kita terlihat seperti hidup di tahun 50-an, 60-an, 70-an atau 80-an, dimana seseorang akan tetap pergi ke gereja hanya karena “itulah yang seharusnya kita lakukan” sebab tidak ada pilihan lain. Generasi ini akan bertanya: “Mengapa harus? Apa alasannya?”

Lalu di sisi yang lain kita tidak boleh lupa bahwa hari ini kita hidup dengan kompetisi, tidak hanya kompetisi dengan agama lain, tetapi juga dengan aktivitas lain, seperti quality time dengan keluarga di akhir pekan setelah menjalani weekdays yang hectic, serta pilihan hiburan-hiburan yang lain yang juga menawarkan experience.

Apakah komunitas kita menawarkan “experience” yang dapat memuaskan dahaga generasi ini akan Allah? Atau jangan-jangan komunitas gereja kita hanya menawarkan aktivitas-aktivitas berulang tanpa meaning dan sebuah tradisi ritual yang diulang-ulang setiap minggunya yang berpusat pada “pemikiran-pemikiran” bukan pada “experience” yang mengubahkan?

Lepas dari fakta bahwa memang tidak ada gereja yang sempurna (setiap gereja atau lebih tepatnya orang-orang yang ada di dalam gereja tidak dapat kebal untuk memiliki dan memakai “topeng”nya masing-masing, termasuk saya…) dan lepas dari apa yang saya sebut disiplin rohani (sebab bagi saya bersekutu di gereja adalah salah satu dari disiplin rohani yang harus dikerjakan seorang percaya jika ia ingin mengalami Allah di dalam hidupnya), saya pikir 2 karakteristik di atas juga perlu dipertimbangkan jika kita ingin menyentuh dan memenangkan generasi bagi Kristus.

Berkaitan dengan issue ini juga, dalam video di bawah ini Pastor Jay Gamelin bertanya apakah kita siap untuk melayani generasi ini?

 

What do you think about this issue?

 

“I believe that the greatest trick of devil is not to get us into some sort of evil but rather have us wasting time. this is why the devil tries so hard to get Christian to be religious. If he can sink a man’s mind into habit, he will prevent his heart from enganging God.”

Kalimat itulah yang dituliskan oleh Donald Miller dalam Blue Like Jazz Chapter 2 “Problem: What I learned on Televison”. Ada

Trik terbesar dari Iblis untuk menjatuhkan orang-orang percaya adalah dengan membuat kita membuang-buang waktu, membuat orang Kristen terlihat religius dengan habit dan tradisi rutin kekristenan. Namun, sesungguhnya hanya berakhir pada habit dan tradisi, tanpa hati yang melekat lagi pada Allah. Secara implisit, Don ingin menjelaskan bahwa apa yang disebut “the true spirituality” adalah “hati yang melekat pada Allah.”

Hal ini membawa saya berpikir sejenak:

  • Apakah keterlibatan saya dalam kegiatan-kegiatan gerejawi  benar-benar membuat saya dekat dengan Allah atau justru hanya membuat saya terlihat sibuk dan kelelahan lalu memunculkan kesan bahwa saya adalah “orang yang religius”?
  • Apakah kebiasaan-kebiasaan doa, pergi ke gereja setiap Minggu (at least 3 kali dalam seminggu), memberi perpuluhan dan persembahan benar-benar membuat saya dekat dengan Allah atau justru hanya membuat saya “terlihat religius”?
  • Apakah kebiasaan saya bernyanyi dengan keras, berdoa dengan melipat tangan dengan genggaman yang erat, dan menyembah Tuhan dalam ibadah benar-benar membuat saya semakin melekat dengan Allah, atau justru semua itu hanyalah tradisi dan habit yang saya ikuti sejak dari masa kecil dan terus berlanjut sampai dewasa, yang kemudian membuat saya “terlihat religius” di depan orang percaya yang lain?
  • Lebih tajam lagi, apakah khotbah-khotbah atau pengajaran-pengajaran Firman Tuhan yang saya lakukan setiap minggunya (bahkan tiap hari di sekolah) semakin membuat saya melekat dengan Tuhan atau semuanya itu hanya berakhir pada satu kata yaitu “routine” pekerjaan yang saya lakukan sebagai seorang hamba Tuhan?

Saya berpikir…. Jika saya menemukan hidup saya demikian bahwa semua itu tidak membuat saya melekat pada Allah, apakah itu artinya saya harus menghentikan semua habit, tradisi dan rutinitas itu?

Jawabannya IYA dan TIDAK…..

Sebab sebenarnya rutinitas, habit dan tradisi yang menunjuk kepada kata “disiplin rohani”  juga dapat berguna bagi spiritualitas. Henri Nouwen mengatakan bahwa: “In the spiritual life, the word ‘discipline’ means the effort to create some space in which God can act.”

Sehingga adalah salah jika sama sekali menolak rutinitas, habit dan tradisi. Karena ternyata Tuhan juga dapat bekerja di dalamnya dan sebagai sarana dimana kita bisa merasakan pengalaman dekat dan melekat dengan-Nya.

Namun, walaupun demikian rasanya kita perlu sedikit mengevaluasi diri kita dan mengarahkan kepada arah yang benar:

Apakah semua rutinitas, habit dan tradisi itu kita lakukan hanya untuk membuat kita memiliki “KESIBUKAN” rohani, atau memang kita ingin melakukannya untuk sebuah “DISIPLIN” rohani. Yang pertama membawa kita kepada “KELELAHAN” secara rohani dan “KEHAMPAAN” (karena sebenarnya kita tidak punya relasi yang dalam dengan Allah, meskipun kita merasa atau  terlihat religious di depan orang lain). Yang kedua membawa hidup kita kepada “KEPUASAN” secara rohani, karena kita melekat dengan Allah dan kita akan melihat Allah bekerja di dalam dan melalui kita.

Apakah yang sedang anda lakukan hari-hari ini adalah sebuah “KESIBUKAN” rohani atau sebuah “DISIPLIN” rohani?

Selanjutnya dalam Chapter ini, Donald Miller menjelaskan hubungan antara Loving, Knowing dan Serving GOD:

“If you don’t love somebody, it gets annoying when they tell you what to do or what to feel. when you love them you get pleasure from their pleasure, and it makes it easy to serve. I didn’t love God because I didn’t know God.”

Kita tidak mungkin bisa melayani Tuhan dengan sukacita jika kita tidak mencintai Dia. Dan kita tidak dapat mencintai Dia, jika kita tidak mengenal Dia.

Itu artinya mengenal Allah adalah dasar bagi kasih kepada Allah. Kasih kepada adalah dasar bagi pelayanan untuk Allah.

Adalah sebuah kesalahan jika kita melayani Allah dengan tujuan bahwa hal ini akan membuat kita lebih mengasihi Dia dan mengenal Dia. Karena pelayanan itu harusnya keluar dari pengenalan dan rasa cinta kepada Allah. Sehingga kita dapat berkata kepada Allah yang kita layani: “Your Pleasure is My Pleasure.”

I’ve known God because He has revealed Himself to me. The more I know Him, the more I love Him. The more I love Him, the more I really want to serve Him.

Do you really serve Him with your pleasure…??? If not, maybe there’s something wrong with your love.

Do you love Him deeper and deeper…??? If not, maybe there’s something wrong with your knowledge about God.

Absennya pengenalan dan kasih kepada Allah dalam rutinitas, habit dan tradisi agamawi adalah Trik Iblis yang menghancurkan kehidupan orang percaya. Yang akan membawa mereka kepada “wasting time, being religious without spiritual, busyness without direction and meaning, burn out, boring and emptiness.”