Archive for the ‘Faith’ Category

Model pelayanan kaum muda yang kelima dalam buku Youth Ministry in the 21st Century: Five View (2015), Chap Clark (Ed.) adalah The D6 View of Youth Ministry oleh Ron Hunter.

Youth ministry in the 21st century

“Youth Pastors need to get dads and moms engaging in spiritual conversation with their teens by teaching them how to ask the right questions and how to show unconditional love. Parents should know that not every conversation needs to be critical, contain biblical lectures, or even be serious.”

Ada 2 masalah yang disoroti oleh Hunter yang menjadi latar belakang dari model pelayanan Kaum Muda yang ia usulkan. Pertama, adanya segregasi di antara masing-masing department pelayanan di dalam gereja. Masing-masing “bidang pelayanan dan komisi” bergerak di dalam isolasi satu dengan yang lain. Hasilnya, masing-masing bidang tidak memiliki interaksi dan kepemimpinan di dalam gereja menjadi terpecah-pecah. Perpecahan kepemimpinan dan agenda ini akan mengakibatkan kebingungan bahkan konflik yang berujung pada kemandekan pertumbuhan rohani jemaat. Perpecahan agenda biasanya terjadi karena para pemimpin di dalam gereja hanya berfokus pada program. Program tidaklah buruk, tetapi pemimpin harus melihat program sebagai sebuah cara untuk mencapai strategi (principled plan) yang lebih besar. Pemimpin yang program-oriented tanpa perencanaan dan tujuan yang holistik dan jelas seringkali terlihat sibuk tapi tanpa arah yang jelas. Pemimpin yang mengadopsi program sebagai tujuan pelayanan akan menciptakan kekacauan dan ketidakjelasan karena program hanya dapat menjadi “cara” bukan tujuan. INGAT: “students can temporarily conform to a program without ever changing their hearts. When all the activities are gone, the student is left.”

Kedua, adanya kecenderungan gereja untuk mempekerjakan pekerja yang khusus ditempatkan sebagai pelayan Kaum Muda, pelayan Anak dan lain-lain. Menurut Hunter, hal ini tidaklah salah. Namun, hal ini menjadi sebuah masalah jika orang tua mendelegasikan SEMUA tanggung jawab pertumbuhan rohani anak-anaknya kepada pelayan-pelayan ini. Pola pembinaan dengan mempekerjakan profesional adalah pola yang sangat umum di dalam sistem pendidikan modern. Orang tua mempekerjakan guru les untuk anaknya supaya lulus test dan mahir di dalam ketrampilan tertentu. Hal ini terjadi karena orang tua kurang waktu dan keahlian serta mereka menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Namun, sangat ironis bahwa keinginan yang terbaik untuk anak ini berdampak pada kurangnya interaksi antara orang tua dengan anak mereka. Hasilnya orang tua kehilangan pengaruh bagi anak mereka sendiri.

Kedua masalah ini akan membawa anak muda hilang dari gereja dan menghidupi prinsip-prinsip hidup yang tidak berpusat pada Kristus. Hunter mengusulkan model pelayanan Kaum Muda yang ia sebut sebagai D6 sebagai solusi bagi masalah ini. D6 adalah akronim dari Deuteronomy 6 (Ulangan 6) – dan juga Efesus 6 – sebagai dasar biblika dari model pelayanan ini. Dalam Ulangan 6 dan Efesus 6, Allah memerintahkan generasi yang lebih tua (kakak-nenek, orang tua, komunitas iman) sebagai satu kesatuan untuk memuridkan generasi berikutnya dengan memberikan teladan dan pengajaran yang berulang-ulang, dan tidak mendelegasikan tanggung jawab ini kepada orang lain.

D6 merupakan sebuah model pelayanan terhadap kaum muda di mana semua pemimpin gereja dan semua orang tua saling bermitra untuk mempersiapkan generasi berikutnya demi kehidupan mereka ke depan. Model D6 sering juga digambarkan sebagai pemuridan generasional yang dilakukan baik itu di dalam gereja maupun di dalam rumah. Gereja dan rumah harus terus-menerus menyuarakan kebenaran di dalam kehidupan anak-anak.

Secara praktis, model palayanan D6 dapat diaplikasikan demikian:

  1. Setiap bidang pelayanan harus saling bekerjasama untuk menghasilkan sebuah pertumbuhan rohani yang baik. Pelayanan anak harus bermitra dengan orang tua untuk memuridkan anak-anak dengan baik, sebab anak yang bertumbuh sebagai “unprepared teen” akan kesulitan untuk tetap terikat di dalam gereja. Jika kita ingin memiliki pelayanan kaum muda yang kuat, mulailah membangun murid-murid yang kuat ketika mereka berada di dalam pelayanan anak. Seorang  Pendeta Kaum Muda juga harus bertanya: Apakah strategiku (bukan program tapi prinsip pelayanan) yang dapat menghubungkan setiap bidang pelayanan di dalam gereja? Apakah aku sudah berbicara dengan pemimpin lainnya di dalam gereja untuk membangun sebuah strategi? Diperlukan sebuah pendekatan yang komprehensif di antara masing-masing bidang di dalam gereja, yang juga melibatkan orang tua.
  2. Orang tua akan belajar dari gereja melalui khotbah-khotbah, kelompok kecil, kelas-kelas pembinaan dan relasi di dalam gereja, sehingga orang tua dapat menyediakan sebuah pemuridan yang konsisten kepada anak mereka ketika mereka tidak berada di gereja. Model D6, dimulai dengan sebuah keluarga mendengarkan pengajaran Firman Tuhan di dalam gereja dan kemudian orang tua akan mengajar anak mereka selama seminggu sampai mereka kembali lagi ke gereja minggu depan. Pemuridan yang konsisten (with grace & trust) di dalam sebuah relasi yang sangat dekat antara orang tua dan anak akan menghasilkan sebuah pengaruh yang luar biasa untuk hidup seorang anak.
  3. Pendeta Kaum Muda berperan sebagai seorang “Transformational Leader,” yang berfokus pada pembaharuan hidup orang yang ia pimpin. Ia akan memimpin dan menggembalakan kelompok anak muda serta (bersama Gembala dan pemimpin lainnya di dalam gereja) memberikan pengaruh dan melatih (coaching) orang tua untuk menjadi “coach” yang memuridkan anak mereka juga. Pendeta Kaum Muda harus mengajak orang tua untuk terlibat dalam pembicaraan tentang hal-hal rohani dengan anak remaja mereka, dengan cara mengajarkan mereka bagaimana memberikan pertanyaan yang tepat dan bagaimana menunjukkan kasih yang tanpa syarat. Orang tua harus diingatkan bahwa tidak semua pembicaraan harus berisi kritikan, ceramah Alkitab atau harus selalu serius.
  4. Pendeta Kaum Muda tidak dapat memposisikan dirinya lebih cool dari orang tua anak remaja yang ia bimbing, sebab mereka bisa meremehkan orang tua mereka. Atau memposisikan pelayanan Kaum Muda lebih cool dari pelayanan dalam ibadah umum orang dewasa, karena mereka akan meremehkan dan tidak menyukai gereja secara umum. Pendeta Kaum Muda harus menolong remaja dan anak muda mencintai dan menghormati orang tua mereka. Pendeta Kaum Muda tidak perlu berusaha dengan keras untuk membuat anak remaja dan anak muda menyukai mereka, tetapi pekerjaan yang harus diusahakan dengan sungguh-sungguh adalah membuat orang tua tertarik untuk terkoneksi dengan anak-anak mereka.

Model ini adalah sebuah model ideal dan holistik yang perlu dipertimbangkan untuk diaplikasikan di dalam pelayanan Kaum Muda di dalam gereja. Namun, yang perlu menjadi catatan adalah bahwa tidak semua anak muda yang datang ke gereja memiliki orang tua yang juga bergereja, atau memiliki kemampuan untuk menjadi “coach” atau bahkan yang punya keinginan memuridkan anaknya. Bahkan di dalam realita, tidak sedikit orang tua yang sudah berusaha untuk dekat dengan anak remajanya justru tidak mendapatkan respon yang baik dari anaknya. Fenomena justru menunjukkan kebanyakan anak remaja lebih mendengarkan teman sebayanya atau bahkan pembimbing rohaninya di gereja. Apalagi ditambah dengan realita lain bahwa tuntutan ekonomi yang tinggi di dunia modern telah memaksa para orang tua kehilangan waktunya dengan anak-anak mereka di sepanjang minggu karena pekerjaan mereka. Penekanan pada melakukan coaching di dalam rumah harus diimbangi dengan penggembalaan dan mentoring oleh para pemimpin dan pembimbing Kaum Muda di dalam gereja.

 

Advertisements

Youth ministry in the 21st century

Model pelayanan kaum muda yang ketiga dalam buku Youth Ministry in the 21st Century: Five View (2015), Chap Clark (Ed.) adalah The Adoption View of Youth Ministry oleh Chap Clark.

“It wasn’t that young left the church; the church left the young” – Chap Clark

Model ini dilatar belakangi oleh ketidakcukupan pendekatan pelayanan Kaum Muda di abad Modern. Pertama, pelayanan Kaum Muda seringkali menciptakan fenomena kepala dan telinga “Mickey Mouse” di dalam gereja. Pelayanan Kaum Muda cenderung menjadi gereja kecil di dalam gereja.

Kedua, pelayanan Kaum Muda tanpa sadar menciptakan anak muda yang individualistik. Penekanan pada “menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi” dan disiplin rohani pribadi, termasuk di dalamnya model mentoring “one on one” [1] tanpa menanamkan pentingnya keberadaan komunitas gereja dalam perjalanan iman orang muda, menjadi salah satu penyebab bagi anak muda meninggalkan gereja, karena mereka merasa tidak memiliki ikatan yang kuat dengan gereja. Orang muda tidak diperlengkapi dengan pemahaman tentang iman Kristen yang cukup. Apalagi orang muda akan semakin disibukkan dengan membangun karir dan rumah tangga di masa muda. Komunitas gereja terlupakan dan gereja kehilangan kesempatan untuk memuridkan orang muda. Orang muda kini hidup di dalam nostalgia kenangan indah tentang gereja di masa lalu, yang pernah mereka alami di masa remaja dulu.

Ketiga, Clark menyebutkan bahwa pelayanan muda yang demikian merupakan buah dari pelayanan gereja secara umum yang menunjukkan kasihnya kepada generasi muda  dengan: “love the kids from the distance, but don’t want kids around.Generasi senior di dalam gereja tidak menginginkan adanya intimate relationship dengan generasi muda di dalam perjalanan iman mereka. Pelayanan gereja secara umum terjebak di dalam programmatic model yang tersegmentasi. Hasilnya relasi di dalam gereja menjadi terfragmentasi dan terisolasi.

Itulah sebabnya, Clark melihat bahwa gereja perlu mengadopsi anak remaja dan anak muda di dalam gereja sehingga mereka tidak dilihat sebagai komunitas yang terpisahkan dari gereja tetapi sebagai bagian dari keluarga gereja. Clark mendasari model ini berdasarkan metafora Alkitab tentang gereja sebagai sebuah tubuh dan sebuah keluarga. Setiap anggota tubuh atau anggota keluarga di dalam gereja saling membutuhkan dan melengkapi. Gereja menjadi “a family of families.” Gereja dalam hal ini pemimpin gereja senior tidak lagi hanya sekedar menjadi penyedia apa yang dibutuhkan oleh orang muda dalam komunitas Kaum Muda, tetapi benar-benar hadir di dalam perjalanan iman orang muda sambil mereka mengembangkan kedewasaan iman dan kemampuan mereka di dalam berelasi secara interdependent.

Clark secara singkat menjelaskan goal dari model pelayanan Kaum Muda ini demikian: “The goal of youth ministry as adoption is for every child, every adolescent, and every young adult to be so embraced by the community of faith that they know they always have a home, a people, and a place where they can discover who they are and how they are able to contribute.”

Secara praktis Clark juga menggambarkan pengaplikasian model ini. Contohnya ketika seorang pemimpin kelompok kecil menemukan ada seorang anak SMA yang memiliki kemampuan dan ketertarikan dalam urusan teknik audio. Pemimpin itu harus menghubungkan anak SMA itu dengan tim yang bertanggung jawab terhadap pelayanan sound production di dalam ibadah gereja. Namun, hal ini bukanlah untuk “memanfaatkan” talenta atau ketertarikan anak SMA tersebut atau untuk memberikan tanggung jawab pelayanan kepada anak tersebut, tetapi tim sound production memiliki tugas untuk mengadopsi anak SMA itu sebagai anggota dari keluarga Allah di dalam gereja lokal tersebut. Berdoa, berbagi dan studi Alkitab bersama di dalam tim harus juga menjadi bagian di dalam proses pengadopsian tersebut. Anak SMA itu tidak hanya akan mampu melayani di bidang itu dan mengalami pertumbuhan iman secara pribadi tetapi ia juga akan merasakan sebuah ikatan yang kuat dengan keluarga besarnya di dalam gereja lokal tersebut. Seluruh tim juga akan mengalami sebuah pengalaman pelayanan yang menggairahkan.

Di dalam model ini setiap anak muda penting. Setiap anak muda diterima dan merupakan bagian dari keluarga besar Allah dalam gereja lokal. Setiap anak muda tidak hanya dimentoring oleh satu orang mentor yang sudah dewasa, tetapi ia akan mengalami apa yang Clark sebut sebagai “a mentoring community.”

Model pelayanan ini sangat menarik, namun tidak mudah untuk diterapkan dalam pelayanan Kaum Muda, khususnya di Indonesia. Kendala pertama adalah model ini adalah  model pelayanan yang holistik, maka perubahan yang harus dibuat bukanlah pada segment Youth Ministry, tetapi pada pola dan strategi pelayanan gereja lokal secara utuh. Perubahan perspektif pelayanan dan penggembalaan dari Gembala Sidang dan para Majelis Gereja adalah kunci dari model ini. Namun, hal ini membawa kita kepada kendala yang kedua, yaitu kendala yang menyangkut kurangnya waktu dari para Gembala Sidang dan Majelis Gereja di dalam mempelajari generasi muda dan budaya yang mereka hidupi. Para pemimpin gereja ini sadar bahwa generasi muda kini hidup dengan paradigma dan budaya yang berbeda dari yang dulu mereka hidupi di masa muda mereka, tetapi mereka kurang fokus dan kurang waktu (jika tidak kurang rendah hati :p) untuk mempelajari dan mengubah paradigma pelayanan mereka.

Akhirnya seperti yang dikatakan oleh Mike Yaconelli: “Maybe we don’t need a revolution in youth ministry; maybe what we need is what we’ve always needed—a few adults who are willing to follow God’s call to love young people into the kingdom of God no matter what the result.”

 

Notes:

[1] Clark mengatakan bahwa model dan prakek pelayanan Kaum Muda yang berfokus pada individual faith merupakan sebuah releksi dari budaya individualism di dalam masyarakat dan gereja di Abad Modern. Kabar Baik yang diberitakan dapat disebut sebagai a gospel of individualistic faith.

 

 

I hope that there was a place that I could explore those thoughts and those contradictions in an intelligent way that’s still within the christian faith…. It’s pilgrimage. We are still on the road. It’s never going to end – Martin Scorsese

mv5bmjy3otk0nja2nv5bml5banbnxkftztgwntg3mjc2mdi-_v1_sy1000_cr006401000_al_

Pernyataan ini dikatakan oleh Martin Scorsese dalam wawancaranya berkaitan dengan Film “Silence” yang disutradainya. Film yang dipublish di bulan Desember 2016 yang lalu, namun baru tayang di Bioskop Indonesia pada bulan Maret 2017 ini. Setelah menonton ini, saya susah move on dari film ini. Saya terus memikirkannya dan mengingat sejumlah unanswered problems dalam film ini. So, here’s my muse about this movie… (better you watch this movie with friends, discuss with them, then come to read this post).

Film ini diangkat dari sebuah Novel karangan Novelist Jepang, Shusaku Endo, tentang seorang Misionaris Jesuit (salah satu ordo dalam Gereja Katolik) di Abad ke-17, Rodriguez, yang melakukan perjalanan ke Jepang untuk mencari Mentornya yang hilang dan diduga telah meninggalkan imannya, Ferreira. Pencarian ini tidaklah mudah, sebab pada waktu itu Jepang memasuki sebuah periode isolasi dan penganiayaan terhadap orang Kristen (dalam catatan sejarah, dari tahun 1614-1640 diperkirakan 5000-6000 orang Kristen dibunuh di Jepang), karena Jepang menanggap bahwa Kekristenan adalah senjata dari penjajahan bangsa Barat, khususnya Portugis pada waktu itu. Otoritas Jepang memaksa orang Kristen Jepang menyangkal imannya, karena bagi mereka menjadi Kristen merupakan jalan menuju kehancuran budaya, kepercayaan dan identitas Jepang. Ketika identitas ke-Jepang-an mereka hancur, maka sama saja dengan memusnahkan Jepang. Itulah sebabnya, Otoritas Jepang dengan kekejamannya ingin menghapuskan Kekristenan yang berkembang cukup subur pada waktu itu. Mereka membunuh dengan sadis bagi orang-orang Kristen yang tidak mau menyangkal imannya (dengan cara menginjak gambar Yesus). Mereka meneteskan air panas secara perlahan, membakar hidup-hidup, menyalibkan di pantai sampai mati, menghanyutkan orang Kristen hidup-hidup di laut, memancung kepala orang Kristen, bahkan menggantung orang Kristen secara terbalik.

Akan tetapi, ketika mereka ingin membuat para Misionaris menyangkal imannya, mereka tidak langsung membunuh mereka ketika mereka menolak menyangkal. Mereka justru menghadirkan penderitaan yang paling menyakitkan, yaitu dengan membuat mereka menyaksikan penderitaan orang-orang Kristen, baik yang menyangkal maupun yang tidak menyangkal imannya. Mereka membiarkan Misionaris yang gagal ini tetap hidup dan menghidupi kebudayaan dan kepercayaan Jepang. Mereka memberikan identitas Jepang kepada para Misionaris tersebut. Ferriera dan Rodriguez, kedua Pastur yang gagal ini menjadi orang Jepang, menikahi wanita Jepang dan hidup dengan tradisi Jepang, bahkan sampai mereka mati. Dengan begitu, Otoritas Jepang berpikir mereka dapat menghapus Kekristenan di Jepang.

Film ini bukanlah sebuah film “easy-watching.” Di sepanjang film ini, Scorsese tidak memberikan jawaban dari problem yang ia munculkan. Namun, hal inilah yang menjadikan film ini brilliant, karena problem yang tanpa jawaban ini memberikan kesan Silence yang dalam. Ketika tokoh-tokoh dalam film ini bertanya-tanya kepada Tuhan, namun seolah Tuhan tetap Silence, maka Scorsese menyempurnakannya dengan menghadirkan kesan Silence saat kita menginginkan jawaban dari problem yang ia munculkan. Scorsese mengakhiri film ini dengan kesan Ambiguous yang dalam. Seolah-olah ia memberikan kebebasan bagi penontonnya untuk memberikan respon masing-masing, sehingga tidaklah salah jika film ini dikategorikan sebagai sebuah Reader-Response Movie. Scorsese membiarkan film ini Silence dan menjadi perenungan bagi orang-orang yang menontonnya.

Di saat Cinema modern menghadirkan film-film bergenre Heroic yang selalu menuntun penonton untuk memiliki kesan “Good guys always win over the bad guys.” Film ini sebaliknya menghadirkan sesuatu yang bertolak belakang. Tidak ada kemenangan yang dirayakan. Namun, teriakan, keraguan, keputusasaan, kelemahan, krisis dan penyangkalan, hal-hal inilah yang seolah-olah ingin dirangkul dan dirayakan di dalam film ini. Mungkin agak terkesan pesimistis, dan bagi sebagian orang yang selalu optimis, film ini mungkin tidak relevan. Tetapi ada keindahan di dalam kelemahan yang dirayakan di dalam film ini, yaitu the beauty of extended God’s Grace in believers’ weekness.

Rodriguez: “I pray but I’m lost. Am I just praying to silence?”

Jesus: “I suffered beside you, I was never silent.”

Ada 3 hal yang menarik bagi saya, yang juga sekaligus menjadi sebuah pertanyaan bagi iman Kristen:

Menginjak Gambar Yesus

Hal ini pasti akan ditanyakan oleh kita setelah menonton: Apakah orang yang dipaksa untuk menyangkal iman kepada Yesus dengan menginjak gambar Yesus akan diampuni atau diterima oleh Tuhan? Mengingat mereka akan mati jika mereka tidak menginjak gambar Yesus?

Film ini Silence ketika berhadapan dengan pertanyaan iman ini. Scorsese memberikan 2 pilihan kepada penonton. Kita dapat mengatakan bahwa orang tersebut pasti tidak akan diampuni, dan orang tersebut tidak akan diselamatkan, karena Yesus sendiri berkata: “Barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan BapaKu yang di sorga” (Matius 10:33).

Scorsese dalam wawancaranya mengatakan bahwa orang Kristen Jepang yang mati di hukum karena menolak menyangkal iman mereka dengan tidak menginjak gambar Yesus adalah orang-orang Kristen yang menunjukkan tindakan iman yang extraordinary, dan kita tentu tersentuh dengan iman mereka sekaligus marah dengan perlakuan yang mereka terima. Mereka mengutip perkataan Tertulianus “Darah para martir adalah benih Injil.” Tetapi Scorsese juga dengan cerdik mempertanyakan apakah sesungguhnya mereka mati karena iman mereka kepada Yesus atau mereka mati supaya Misionaris yang menyebarkan agama Kristen tidak mati? Maka, di sini ia sedang memberikan pilihan kepada penonton apakah mereka ingin melihat bahwa tindakan martyr tersebut adalah sebuah pengorbanan iman kepada Kristus atau hanya bentuk loyalty kepada pemimpin agama.

Inqusitor Inoue berkata kepada Rodriguez: “The price for you glory is their suffering.”

Hal inilah yang pada akhirnya juga mengguncangkan iman Father Rodriguez, ia dipaksa untuk memilih,  apakah ia menginjak gambar Yesus dan diklaim oleh Jepang telah menyangkal imannya kepada Yesus ATAU ia menolaknya namun ia akan melihat kematian orang-orang Kristen yang sebenarnya sudah menyangkal Yesus dan bebas dari hukuman, tetapi tetap diperhadapkan dengan hukuman. Rodriguez diperhadapkan dengan pilihan yang sulit. Namun, muncullah sebuah pertanyaan, “Jika Yesus di sini, apakah Yesus akan menginjak gambar Yesus demi menyelamatkan orang-orang ini? Apakah Yesus akan “menyangkal imannya” untuk membuat orang-orang ini tetap hidup?”

Pertanyaan ini yang akhirnya membuat Rodriguez menginjak gambar Yesus. Tindakan ini dianggap oleh otoritas Jepang sebagai tindakan penyangkalan iman. Namun, sekali lagi Scorsese meninggalkan problem ini sebagai sesuatu yang open-ended, sebab di bagian akhir dari film ini ketika Rodriguez mati dan akan dibakar, Rodriguez masih memegang icon salib.

Pengampunan Bagi seorang yang Menyangkal iman

Pertanyaan kedua adalah berkaitan dengan tindakan Kichijiro, seorang Kristen Jepang yang digambarkan seperti Yudas yang menghianati Yesus. Ia menyangkali imannya dengan menginjak gambar Yesus, lalu meminta pengampunan, tetapi ketika diperhadapkan dengan pilihan menyangkal atau setia, maka ia tetap memilih menyangakali imannya. Lalu meminta pengampunan kembali. Seolah-olah Kichijiro melihat anugerah pengampunan Tuhan itu sebagai sesuatu yang murahan (cheap grace). Maka pertanyaannya: Apakah orang yang demikian diampuni atau diterima oleh Tuhan kembali?

Pengampunan dan Berkat yang berulang kali diberikan Father Rodriguez kepada Kichijiro seolah menunjukkan bahwa selalu ada tempat untuk orang yang mengaku berdosa dan meminta pengampunan, meskipun berulang kali. Namun, apakah dengan begitu tidak akan membuat Kasih dan Anugerah Tuhan menjadi sesuatu yang dapat dipermainkan dan murahan? Tetapi pertanyaan lain juga dapat ditanyakan, tidakkah selalu ada tempat bagi orang-orang yang lemah di dalam anugerah Tuhan?

Sekali lagi Scorsese memberikan pilihan kepada penonton untuk menjawab, apakah iman Kristen yang lemah itu memang pantas? Apakah iman Kristen memberikan tempat bagi seorang percaya untuk “fail and try our best”? Apakah Tuhan mau menerima orang yang memiliki iman yang demikian?

Saya tidak memiliki jawabannya, tetapi saya percaya satu hal:

“God’s grace is wider and larger and bigger and deeper and higher than what we can imagine, than our human judgment.”

Iman dan Injil yang Universal

pertanyaan terakhir yang membuat saya merenung adalah perdebatan yang terjadi antara Inquisitor Inoue dengan Rodriguez, apakah kebenaran Kristen itu universal sehingga dapat  berlaku baik itu di Portugis maupun di tanah Jepang atau tidak?

Inoue meyakini bahwa Kekristenan tidak dapat tumbuh di Jepang karena tanah Jepang berbeda, sedangkan Rodriguez bersikeras berkata bahwa Kekristenan pernah tumbuh subur, namun sekarang tidak lagi karena tanah itu sudah diracuni.

Akan tetapi, Scorsese membawa penonton untuk melihat bahwa lahan Jepang adalah “sebuah Rawa.” Misionaris datang menyebarkan iman Kristen namun tidak mau mencoba memahami kepercayaan, budaya dan identitas Jepang. Bahkan Father Ferreira sendiri berkata bahwa ada kemungkinan pada waktu itu orang Jepang memiliki iman Kristen yang sesat. Bagaimana mungkin Jepang dapat memahami iman Kristen yang benar, jika Misionaris Kristen tidak mencoba memahami cara berpikir, keyakinan dan budaya Jepang?

Iman Kristen adalah kebenaran universal yang berlaku di berbagai tempat dan zaman, namun implementasi dan penyerapan iman Kristen itu bersifat “culture-conditioned.”  Penulis keempat kitab Injil sendiri menggunakan cara berpikir, agenda, gaya bahasa, bahkan penuturan yang sesuai dengan budaya dan zamannya saat mereka ingin menjelaskan dan memaknai Stories of Jesus. Injil yang kita miliki adalah culture-conditioned texts.

Bahkan Leslie Newibin, seorang Teolog dan Misionaris yang pernah melayani di India pernah berkata:

“It is obviously true that we have no way to understanding the Bible except through the concepts and categories of thought with which our culture has eqquiped us through our whole intellectual formation from earliest childhood.”

Namun, secara umum, sama seperti kutipan di awal dari wawancara Scorsese, melalui film ini, ia seolah-olah ingin bertanya:

“Jika perjalanan iman itu sama seperti sebuah Pilgrimage, adakah tempat bagi keraguan, keputusasaan, ketakutan, kelemahan, kejatuhan, krisis dan bahkan kegagalan di dalam iman Kristen?”

Click here to watch the interview with Martin Scorsese by Fuller Studio.

Christmas….

Sebagian orang mengidentikkan Christmas dengan holiday season, late night shopping, hadiah, makanan yang berlimpah dan hal-hal lain yang dapat membuat kita tertawa dan bergembira.

Sebagian lagi mengidentikkan Christmas dengan serangkaian acara yang harus mereka hadiri di gereja. Acara-acara yang dipersiapkan beberapa bulan sebelumnya. Acara-acara yang menguras tenaga, pikiran dan tentunya sejumlah uang demi suksesnya acara itu. Acara-acara yang dibuat dengan tujuan untuk membawa orang-orang yang hadir mengerti makna Christmas dan pada akhirnya membuat mereka hidup lebih sungguh-sungguh di dalam Tuhan.

Semuanya itu tentu tidak salah, dan setiap orang berhak untuk mengidentikkan Christmas dengan kegiatan apapun yang biasa ia lakukan setiap kali Christmas tiba. Lagipula Christmas itu untuk semua orang, jadi semua orang dapat menikmati Christmas sesuai dengan konteks mereka.

Konteks…

Ya kita tidak dapat hidup di luar konteks. Jika ada orang yang menginginkan kehidupan yang demikian, maka tampaknya orang itu bosan hidup di dunia ini.

Konteks…

Jika ada kata yang dapat menggambarkan konteks bagaimana kita merayakan Christmas, maka kata itu pasti: Busyness. Kesibukan yang berujung kepada kelelahan.

Konteks…

Mengapa kita tidak mulai dengan pertanyaan, seperti apakah konteks the first Christmas itu dirayakan? Wahh… Jika ada orang yang mencoba menjawab pertanyaan ini, jawabannya pastilah sebuah interpretasi. Siapa yang tahu seperti apakah sebenarnya dan wujudnya Christmas yang pertama itu.

Namun, usaha untuk menggambarkan seperti apakah Christmas pertama itu telah dilakukan banyak tokoh disepanjang sejarah. Salah satunya adalah dalam bentuk Hymne Natal yang selalu dinyanyikan di saat malam Natal, yaitu Silent Night atau Malam Kudus.

Silent Night adalah sebuah Christmas carol yang berasal dari Jerman. Judul aslinya adalah “Stille Nacht.” Sebenarnya lagu ini tidak tepat diterjemahkan sebagai “Silent” apalagi sebagai “kudus” dalam terjemahan Indonesia. Terjemahan yang lebih tepat adalah “Still” yang dipahami sebagai:

“the elimination of not only noise but movement, the absence of all sensory evidence of others who want to talk to us or attract our attention or engage us in some activity.”

Stillness yang tentu dapat diidentikkan dengan kata “Rest.”

Umat Tuhan dari jaman ke jaman sebelum Yesus lahir hidup dalam kondisi yang “Restless”. Mereka tertekan, menderita dan miskin. Mereka hidup terjajah. Mereka mengharapkan dan merindukan sebuah kelepasan dari kondisi mereka yang “restless”. Seorang utusan pada jaman Herodes Agung menjadi Raja di Israel memberikan laporan kepada Kaisar di Roma:

A high level delegation went to Rome claiming of Herod’s tyranny that “he had reduced the entire people to helpless poverty” (Ant. 17.3-7)

Kehadiran Mesias dinantikan dan diharapkan dapat membawa mereka kepada kelepasan, ketenangan dan “rest” yang dapat memberikan mereka “Comfort.” Itulah sebabnya Yesus pernah berkata: “Come to me, all you who are weary and burdened, and I will give you rest” (Matthew 11:28). Christmas seharusnya diidentikkan dengan “Stillness, Rest and Comfort.”

Christmas dalam konteks dunia kita kini tampaknya bukan membuat kita dapat “rest” tetapi sebaliknya “restless.” Dan bukan hanya saat Christmas, manusia modern hidup sehari-hari di dalam kesibukan yang tiada henti. Kesibukan untuk mencari kepuasan dan happiness dalam hidup. Kondisi ini sepertinya tidak akan berhenti. St. Augustine menyadari bahwa di dalam diri manusia terdapat “love” dan “desire to love,” itulah sebabnya ia menulis dalam “the confession” demikian:

“Love longs for some object to be, loves to rest itself in the thing beloved. But in things there is no enduring place to lie. They don’t last. They run away.”

Hidup manusia akan terus menurus berada di dalam lingkaran “restless” jika salah dalam meletakkan cintanya dan keinginannya untuk mencintai, sebab:

“You made us for Yourself, and our heart is restless until it finds its place of rest in You” – St. Augustine

Christmas, Immanuel, God with Us seharusnya menjadi “perayaan” akan “Stillness and Rest.” Sebab kita dapat puas dan mengalami apa yang disebut “rest” yang membawa kepada “comfort” jika kita meletakkan cinta, hati dan pengharapan kita di dalam Kristus. Sehingga sama seperti Daud kita dapat berkata: “THE LORD is my shepherd; I have that all I need” (Psalm 23:1).

God with Us yang telah menjalani kehidupan sebagai Manusia di dunia dengan berbagai bentuk kehidupan yang sederhana dan berbagai bentuk penderitaan itu memahami betapa restless-nya kita dan betapa kita lapar akan “stillness.” Dia memahami bahwa kita membutuhkan “the true and lasting rest” yang hanya ada di dalam Dia.

Stillness dan Rest itu tidak dapat kita temukan di dalam liburan, pesta, makanan berlimpah, hadiah, drama Natal dan musik Natal yang megah, dekorasi Natal yang indah, atau bahkan khotbah Natal yang berapi-api dan mengharukan (termasuk tulisan tentang refleksi Christmas yang saya buat ini).

Tetapi apa artinya Christmas tanpa semuanya itu? Christmas tetap akan menjadi Christmas tanpa semuanya itu.

Konteks…

Sepertinya Stillness dan Rest bukanlah konteks hidup kita masa kini dan di dunia ini. Tetapi kita dapat memintanya kepada Bapa. Dalam kosakata Jerman, bentuk kata kerja dari “Stille” berarti:

“to nurse a baby, to stop up its mouth, to relax its frantic grasping, with the comfort and warmth and nourishment of the nipple.”

Maka mari di dalam nuansa Christmas ini kita berdoa kepada Bapa:

“Still my mouth, my hands, my schedule of activities. Make me like a newborn child – like your own Son on that first Christmas morning. I am incapable of stilling myself. Still me. Still my heart and the innermost of my brain. Comfort me with your presence. Let me rest in you. Make me know that I am yours.”

– God with Us –

“The Impossible” adalah film yang diangkat dari kisah nyata yang dialami oleh sebuah keluarga berkebangsaan Spanyol (Maria Bellon dan suaminya Enrique, bersama dengan anak-anak mereka) pada waktu mereka berlibur ke Thailand, dimana bencana Tsunami menghancurkan beberapa tempat yang berdekatan dengan Samudera Hindia termasuk resort dimana mereka berlibur, tepat satu hari setelah Hari Natal 2004.
Salah satu topik yang sangat menyentuh yang diangkat dalam film ini adalah “Human responses toward disaster” dalam hubungannya dengan orang lain. Ada 2 respon yang diperlihatkan oleh Juan Antonio Bayona sang Director dan Sergio G. Sánchez, penulis script film ini. Respon yang pertama adalah Egois, dan yang kedua adalah full of compassion.
Respon Egois terlihat pada waktu Henry (Ewan McGregor) ingin meminjam telepon selular dari korban Tsunami yang lainnya untuk menelopon keluarganya, tetapi mendapatkan penolakan dari orang tersebut karena alasan dia butuh dan persediaan battery yang terbatas. Sedangkan respon full of Compassion terlihat pada waktu Maria (Naomi Watts) menyuruh anaknya Lucas (Tom Holland) untuk menolong seorang anak yang tersangkut pada tumbukan sampah setelah Tsunami, meskipun mereka juga sedang menyelamatkan diri, menderita dan kesakitan karena terluka. Perhatikan klip dan dialog berikut:
Maria: “Wait, did you hear that?”
Lucas: “Mom, there’s nothing we can do.”
Maria: “Wait”
Lucas: “We are almost there but we have to get to safety.”
Maria: “No, we have to help that boy.”
Lucas: “If a wave catches us down here, we will die! We have to climb that tree right now.”
Maria: [Yells] “Where are you?”
Lucas: “Mom, look at you. We need help! We can’t risk it mom. Come on.”
Maria: “Listen, what if that boy was Simon or Thomas? What if they needed help? You’d want someone to help them, wouldn’t you?”
Lucas: “Simon and Thomas are dead!”
Maria: “Even if it’s the last thing we do…”
Selain itu, pada waktu Henry meminjam telepon selular kepada korban yang lain, ia mendapatkan respon yang sangat baik, bahkan Henry diberikan kesempatan menelepon dua kali. Scene yang berkaitan dengan hal di atas sangat menyentuh.
Tidak ada hal yang lebih besar yang dapat menggerakan hati kita, memaksa air mata kita untuk tumpah dan memicu pembuluh darah kita mengalirkan darah yang hangat, selain dari pada melihat seseorang yang membutuhkan belas kasihan dapat tetap menunjukkan belas kasihan kepada orang lain. Melihat seseorang yang terluka dapat tetap menunjukkan kasihnya dengan mengobati orang lain.
Henri Nouwen menulis sebuah buku yang berjudul “The Wounded Healer.” Dalam buku ini Henri menawarkan sebuah interpretasi yang fresh tentang bagaimana kita dapat melayani orang lain. Henri menganjurkan agar kita mengidentifikasi penderitaan yang kita alami terlebih dahulu supaya kita dapat mengobati luka orang lain. Dalam luka kita, justru kita dapat menjadi sumber kehidupan bagi orang lain. Tentu hal ini sangat kontradiksi, bagaimana seorang yang terluka dapat mengobati orang lain. Bagaimana mungkin seorang yang membutuhkan pengobatan dapat menyembuhkan orang lain. Henri menulis dalam “The Wounded healer”:

When we are not afraid to journey into our own center, and to concentrate on the stirrings of our own souls, we come to know that being alive means being loved. This experience tells us that we can only love because we are born out of love, that we can only give because our life is a gift, and that we can only make others free because we are set free by the One whose heart is greater than our own.”

Jadi, ada 2 rahasia supaya kita dapat menjadi “The Wounded Healer”, antara lain:
Pertama, kita harus terlebih dahulu “mengakui penderitaan, kelemahan, keterbatasan dan ketakutan kita.” Dalam film “The Impossible,” sang Director dan Penulis menghadirkan point penting ini dalam scene berikut:
Dalam scene ini, Maria dan Lucas, anaknya baru saja menerima hantaman gelombang Tsunami yang dahsyat dan sedang berjuang untuk menyelamatkan diri dari arus yang membawa mereka. Lucas berkata kepada Ibunya bahwa Ia adalah anak yang berani, tetapi hantaman Tsunami sangat membuat ia takut. Maria, Ibunya tidak meresponi pengakuan Lucas dengan sebuah sikap yang heroic, tetapi justru dengan sebuah pengakuan bahwa ia juga adalah manusia yang rentan dan sesunggunhnya ia juga mengalami ketakutan yang sama.  Maria mengakui: “I am scared too.”
Kedua, kita harus  terlebih dahulu “Memohon dan datang kepada Pribadi yang lebih besar dari kita,” yaitu Tuhan, Allah kita yang menciptakan dan yang mengontrol segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita dan dunia ini. Ketika kita datang maka kita akan dikasihi, diberikan anugerah dan belas kasihan, serta dibebaskan dari ketakutan-ketakutan kita, sehingga kita dapat mengasihi, memberikan belas kasihan atau compassion kepada orang lain yang menderita dan terluka, meskipun kita sedang mengalami luka dan derita.

Compassion in the midst of disaster adalah salah satu point penting yang ingin diangkat melalui film  “The Impossible”. Compassion yang dapat menggetarkan hati setiap orang yang menontonnya. Compassion yang demikian juga yang kita dapat tunjukkan dalam hidup kita supaya hati dunia yang keras ini dapat digetarkan dan luka yang dalam dari dunia ini dapat disembuhkan.
What thrills your heart so hard? Compassion???

“Life is all about taking risk to get what you want. “

Kalimat ini adalah kalimat yang diucapkan Adam Lambert, finalis American Idol season 8 (2009). Kalimat inilah yang menginspirasikan dirinya untuk meninggalkan bangku kuliah dan berangkat menuju Los Angeles untuk memulai karir musiknya. Hasilnya selain ia menjadi Runner-up di American Idol season 8, dia juga menduduki urutan pertama di Billboard 200 chart pada bulan Mei 2012 yang lalu. Memang di satu sisi kalimat ini membawanya kepada sesuatu yang positif bagi hidupnya, tetapi kemungkinan kalimat ini jugalah (interpretasi saya) yang membawa Lambert untuk mengakui secara terbuka bahwa ia adalah seorang artis yang gay dan mendukung komunitas ini.

Tentu hal ini sangat ironis, dan dalam banyak hal sering kali ditemui dalam hidup kita, kalimat yang sama dapat membawa kepada sesuatu yang baik, tetapi kalimat yang sama dapat membawa seseorang menuju kepada sesuatu yang salah.

Tetapi bukan hal ini yang saya ingin soroti. Yang paling menjadi perhatian saya adalah topik yang berkaitan dengan “Life” dan “Risk”.

Resiko adalah kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada waktu seseorang mengambil sebuah keputusan.

Resiko adalah pelajaran yang sangat menonjol bagi para peserta yang mengikuti acara Running Youth yang lalu yang diadakan oleh Disciple Making Youth (DMY). Peserta pada waktu meinggalkan GKY dberikan sebuah kalimat clue yang berisi demikan:

“Santai santai ngopi di depan, merah kuning hijau daun kelapa, 4 itu angka haram.”

Mereka harus menebak tempat apakah yang dimaksud dalam kalimat clue yang ada. Hasilnya beberapa kelompok menebak clue itu menunjuk pada 7eleven Sunter, bahkan ada yang menebak bahwa kemungkinan tempat itu ada di Sunter Mall. Padahal tempat yang dimaksud adalah Starbucks di MKG 3. Apakah clue yang diberikan terlalu susah? Atau apakah beberapa kelompok itu terlalu “bodoh” sehingga tidak dapat menebak clue itu dengan benar?

Jawabannya TIDAK. Clue itu dapat ditebak dan mereka tahu jawabannya, yaitu tempat ngopi yang ada di MKG. Lalu mengapa mereka tidak langsung saja menuju MKG. Jawabanya adalah karena mereka TIDAK BERANI mengambil sebuah RESIKO. Seorang peserta berkata: “MKG terlalu jauh, kalo salah, maka kita akan susah untuk kembali lagi, uang kita terbatas dll.”

Mereka tidak berani mengambil resiko, tetapi untuk sebuah tidakan yang “tidak berani mengambil resiko” itu tetap ada resikonya. Mereka tertinggal jauh dari tim yang lain, dan kehilangan bonus piggy bank (berisi uang 50 ribu rupiah).

Life is all about taking risks…

Why….???? Because we don’t know what future holds…

Resiko dalam hidup selalu berkaitan dengan masa depan yang tidak kita ketahui dan selalu penuh dengan misteri. Ketika kita mengambil sebuah keputusan dalam hidup, seberapapun yakinnya kita tentang apa yang akan kita lalui, kita tidak akan pernah dapat benar-benar tahu dengan jelas apa yang ada di ujung sana. Keyakinan dan kebahagiaan di awal sebuah keputusan dapat berakhir dengan air mata di ujung sana. Contohnya sepasang pemuda-pemudi yang mengambil keputusan untuk memulai hubungan yang serius, memulainya dengan sebuah senyuman dan tawa (bahagia), tetapi kemudian berujung pada air mata kerena hubungan tersebut harus berakhir.

Tetapi dalam pergumulan saya, saya juga melihat bahwa ternyata resiko juga tidak berkaitan dengan “future”. Resiko juga berkaitan dengan “Past” atau masa lalu.

Peter Rollins pernah mencoba menuliskan salah satu aspek dari Theology of Hope Jurgen Moltmann dengan ilustrasi yang sederhana demikian:

“The last words in a sentence can radically change the meaning that we had ascribed to the previous words. Here, what comes after, can effect how we interpret what came before.”

Artinya apa yang terjadi pada kita di masa yang akan datang, dapat mengubah cara kita melihat apa yang terjadi dalam hidup kita di masa lalu dan sekarang.
Misalnya seorang yang susah hidupnya dan miskin, lalu dalam segala kesusahan dia pada akhirnya menjadi seorang yang tangguh dan pantang menyerah, sehingga pada akhirnya ia menjadi sukses dalam pekerjaan dan kehidupan keluarganya. Kesuksesannya itu akan mengubah caranya melihat kesusahan-kesusahannya di masa yang lalu. Kesusahan-kesusahannya itu tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang “menyusahkan”.

Maka, resiko itu tidak hanya berkaitan dengan “Future” tapi juga “Past”.

Salah satu Tim yang menjadi pemenang dalam acara Running Youth adalah Tim yang berjalan kaki dari Lotte Mart – GKY Sunter. Tentu hal ini melelahkan, tetapi kemenangan di akhir yang diperoleh akan mengubah cara tim ini memandang kelelahan yang telah mereka lalui. Kelelahan itu tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang “melelahkan.”

Itulah sebabnya bagi Jurgen Moltmann “A proper theology would therefore have to be constructed in the light of its future goal. Eschatology should not be its end, but its beginning.”

Memamami hal ini akan memberikan “HOPE” bagi yang mengalami kesulitan dan kegagalan-kegagalan hidup di masa lalu dan saat ini, tetapi juga memberikan “FAITH” dan “CONFIDENCE” bagi yang sedang “galau” dalam mengambil keputusan bagi masa depannya.

To live is to risk. To risk the past as much as the future. But we know who holds our life in the past and our future as well.