Archive for the ‘God’ Category

Christmas….

Sebagian orang mengidentikkan Christmas dengan holiday season, late night shopping, hadiah, makanan yang berlimpah dan hal-hal lain yang dapat membuat kita tertawa dan bergembira.

Sebagian lagi mengidentikkan Christmas dengan serangkaian acara yang harus mereka hadiri di gereja. Acara-acara yang dipersiapkan beberapa bulan sebelumnya. Acara-acara yang menguras tenaga, pikiran dan tentunya sejumlah uang demi suksesnya acara itu. Acara-acara yang dibuat dengan tujuan untuk membawa orang-orang yang hadir mengerti makna Christmas dan pada akhirnya membuat mereka hidup lebih sungguh-sungguh di dalam Tuhan.

Semuanya itu tentu tidak salah, dan setiap orang berhak untuk mengidentikkan Christmas dengan kegiatan apapun yang biasa ia lakukan setiap kali Christmas tiba. Lagipula Christmas itu untuk semua orang, jadi semua orang dapat menikmati Christmas sesuai dengan konteks mereka.

Konteks…

Ya kita tidak dapat hidup di luar konteks. Jika ada orang yang menginginkan kehidupan yang demikian, maka tampaknya orang itu bosan hidup di dunia ini.

Konteks…

Jika ada kata yang dapat menggambarkan konteks bagaimana kita merayakan Christmas, maka kata itu pasti: Busyness. Kesibukan yang berujung kepada kelelahan.

Konteks…

Mengapa kita tidak mulai dengan pertanyaan, seperti apakah konteks the first Christmas itu dirayakan? Wahh… Jika ada orang yang mencoba menjawab pertanyaan ini, jawabannya pastilah sebuah interpretasi. Siapa yang tahu seperti apakah sebenarnya dan wujudnya Christmas yang pertama itu.

Namun, usaha untuk menggambarkan seperti apakah Christmas pertama itu telah dilakukan banyak tokoh disepanjang sejarah. Salah satunya adalah dalam bentuk Hymne Natal yang selalu dinyanyikan di saat malam Natal, yaitu Silent Night atau Malam Kudus.

Silent Night adalah sebuah Christmas carol yang berasal dari Jerman. Judul aslinya adalah “Stille Nacht.” Sebenarnya lagu ini tidak tepat diterjemahkan sebagai “Silent” apalagi sebagai “kudus” dalam terjemahan Indonesia. Terjemahan yang lebih tepat adalah “Still” yang dipahami sebagai:

“the elimination of not only noise but movement, the absence of all sensory evidence of others who want to talk to us or attract our attention or engage us in some activity.”

Stillness yang tentu dapat diidentikkan dengan kata “Rest.”

Umat Tuhan dari jaman ke jaman sebelum Yesus lahir hidup dalam kondisi yang “Restless”. Mereka tertekan, menderita dan miskin. Mereka hidup terjajah. Mereka mengharapkan dan merindukan sebuah kelepasan dari kondisi mereka yang “restless”. Seorang utusan pada jaman Herodes Agung menjadi Raja di Israel memberikan laporan kepada Kaisar di Roma:

A high level delegation went to Rome claiming of Herod’s tyranny that “he had reduced the entire people to helpless poverty” (Ant. 17.3-7)

Kehadiran Mesias dinantikan dan diharapkan dapat membawa mereka kepada kelepasan, ketenangan dan “rest” yang dapat memberikan mereka “Comfort.” Itulah sebabnya Yesus pernah berkata: “Come to me, all you who are weary and burdened, and I will give you rest” (Matthew 11:28). Christmas seharusnya diidentikkan dengan “Stillness, Rest and Comfort.”

Christmas dalam konteks dunia kita kini tampaknya bukan membuat kita dapat “rest” tetapi sebaliknya “restless.” Dan bukan hanya saat Christmas, manusia modern hidup sehari-hari di dalam kesibukan yang tiada henti. Kesibukan untuk mencari kepuasan dan happiness dalam hidup. Kondisi ini sepertinya tidak akan berhenti. St. Augustine menyadari bahwa di dalam diri manusia terdapat “love” dan “desire to love,” itulah sebabnya ia menulis dalam “the confession” demikian:

“Love longs for some object to be, loves to rest itself in the thing beloved. But in things there is no enduring place to lie. They don’t last. They run away.”

Hidup manusia akan terus menurus berada di dalam lingkaran “restless” jika salah dalam meletakkan cintanya dan keinginannya untuk mencintai, sebab:

“You made us for Yourself, and our heart is restless until it finds its place of rest in You” – St. Augustine

Christmas, Immanuel, God with Us seharusnya menjadi “perayaan” akan “Stillness and Rest.” Sebab kita dapat puas dan mengalami apa yang disebut “rest” yang membawa kepada “comfort” jika kita meletakkan cinta, hati dan pengharapan kita di dalam Kristus. Sehingga sama seperti Daud kita dapat berkata: “THE LORD is my shepherd; I have that all I need” (Psalm 23:1).

God with Us yang telah menjalani kehidupan sebagai Manusia di dunia dengan berbagai bentuk kehidupan yang sederhana dan berbagai bentuk penderitaan itu memahami betapa restless-nya kita dan betapa kita lapar akan “stillness.” Dia memahami bahwa kita membutuhkan “the true and lasting rest” yang hanya ada di dalam Dia.

Stillness dan Rest itu tidak dapat kita temukan di dalam liburan, pesta, makanan berlimpah, hadiah, drama Natal dan musik Natal yang megah, dekorasi Natal yang indah, atau bahkan khotbah Natal yang berapi-api dan mengharukan (termasuk tulisan tentang refleksi Christmas yang saya buat ini).

Tetapi apa artinya Christmas tanpa semuanya itu? Christmas tetap akan menjadi Christmas tanpa semuanya itu.

Konteks…

Sepertinya Stillness dan Rest bukanlah konteks hidup kita masa kini dan di dunia ini. Tetapi kita dapat memintanya kepada Bapa. Dalam kosakata Jerman, bentuk kata kerja dari “Stille” berarti:

“to nurse a baby, to stop up its mouth, to relax its frantic grasping, with the comfort and warmth and nourishment of the nipple.”

Maka mari di dalam nuansa Christmas ini kita berdoa kepada Bapa:

“Still my mouth, my hands, my schedule of activities. Make me like a newborn child – like your own Son on that first Christmas morning. I am incapable of stilling myself. Still me. Still my heart and the innermost of my brain. Comfort me with your presence. Let me rest in you. Make me know that I am yours.”

– God with Us –

Advertisements
“The Impossible” adalah film yang diangkat dari kisah nyata yang dialami oleh sebuah keluarga berkebangsaan Spanyol (Maria Bellon dan suaminya Enrique, bersama dengan anak-anak mereka) pada waktu mereka berlibur ke Thailand, dimana bencana Tsunami menghancurkan beberapa tempat yang berdekatan dengan Samudera Hindia termasuk resort dimana mereka berlibur, tepat satu hari setelah Hari Natal 2004.
Salah satu topik yang sangat menyentuh yang diangkat dalam film ini adalah “Human responses toward disaster” dalam hubungannya dengan orang lain. Ada 2 respon yang diperlihatkan oleh Juan Antonio Bayona sang Director dan Sergio G. Sánchez, penulis script film ini. Respon yang pertama adalah Egois, dan yang kedua adalah full of compassion.
Respon Egois terlihat pada waktu Henry (Ewan McGregor) ingin meminjam telepon selular dari korban Tsunami yang lainnya untuk menelopon keluarganya, tetapi mendapatkan penolakan dari orang tersebut karena alasan dia butuh dan persediaan battery yang terbatas. Sedangkan respon full of Compassion terlihat pada waktu Maria (Naomi Watts) menyuruh anaknya Lucas (Tom Holland) untuk menolong seorang anak yang tersangkut pada tumbukan sampah setelah Tsunami, meskipun mereka juga sedang menyelamatkan diri, menderita dan kesakitan karena terluka. Perhatikan klip dan dialog berikut:
Maria: “Wait, did you hear that?”
Lucas: “Mom, there’s nothing we can do.”
Maria: “Wait”
Lucas: “We are almost there but we have to get to safety.”
Maria: “No, we have to help that boy.”
Lucas: “If a wave catches us down here, we will die! We have to climb that tree right now.”
Maria: [Yells] “Where are you?”
Lucas: “Mom, look at you. We need help! We can’t risk it mom. Come on.”
Maria: “Listen, what if that boy was Simon or Thomas? What if they needed help? You’d want someone to help them, wouldn’t you?”
Lucas: “Simon and Thomas are dead!”
Maria: “Even if it’s the last thing we do…”
Selain itu, pada waktu Henry meminjam telepon selular kepada korban yang lain, ia mendapatkan respon yang sangat baik, bahkan Henry diberikan kesempatan menelepon dua kali. Scene yang berkaitan dengan hal di atas sangat menyentuh.
Tidak ada hal yang lebih besar yang dapat menggerakan hati kita, memaksa air mata kita untuk tumpah dan memicu pembuluh darah kita mengalirkan darah yang hangat, selain dari pada melihat seseorang yang membutuhkan belas kasihan dapat tetap menunjukkan belas kasihan kepada orang lain. Melihat seseorang yang terluka dapat tetap menunjukkan kasihnya dengan mengobati orang lain.
Henri Nouwen menulis sebuah buku yang berjudul “The Wounded Healer.” Dalam buku ini Henri menawarkan sebuah interpretasi yang fresh tentang bagaimana kita dapat melayani orang lain. Henri menganjurkan agar kita mengidentifikasi penderitaan yang kita alami terlebih dahulu supaya kita dapat mengobati luka orang lain. Dalam luka kita, justru kita dapat menjadi sumber kehidupan bagi orang lain. Tentu hal ini sangat kontradiksi, bagaimana seorang yang terluka dapat mengobati orang lain. Bagaimana mungkin seorang yang membutuhkan pengobatan dapat menyembuhkan orang lain. Henri menulis dalam “The Wounded healer”:

When we are not afraid to journey into our own center, and to concentrate on the stirrings of our own souls, we come to know that being alive means being loved. This experience tells us that we can only love because we are born out of love, that we can only give because our life is a gift, and that we can only make others free because we are set free by the One whose heart is greater than our own.”

Jadi, ada 2 rahasia supaya kita dapat menjadi “The Wounded Healer”, antara lain:
Pertama, kita harus terlebih dahulu “mengakui penderitaan, kelemahan, keterbatasan dan ketakutan kita.” Dalam film “The Impossible,” sang Director dan Penulis menghadirkan point penting ini dalam scene berikut:
Dalam scene ini, Maria dan Lucas, anaknya baru saja menerima hantaman gelombang Tsunami yang dahsyat dan sedang berjuang untuk menyelamatkan diri dari arus yang membawa mereka. Lucas berkata kepada Ibunya bahwa Ia adalah anak yang berani, tetapi hantaman Tsunami sangat membuat ia takut. Maria, Ibunya tidak meresponi pengakuan Lucas dengan sebuah sikap yang heroic, tetapi justru dengan sebuah pengakuan bahwa ia juga adalah manusia yang rentan dan sesunggunhnya ia juga mengalami ketakutan yang sama.  Maria mengakui: “I am scared too.”
Kedua, kita harus  terlebih dahulu “Memohon dan datang kepada Pribadi yang lebih besar dari kita,” yaitu Tuhan, Allah kita yang menciptakan dan yang mengontrol segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita dan dunia ini. Ketika kita datang maka kita akan dikasihi, diberikan anugerah dan belas kasihan, serta dibebaskan dari ketakutan-ketakutan kita, sehingga kita dapat mengasihi, memberikan belas kasihan atau compassion kepada orang lain yang menderita dan terluka, meskipun kita sedang mengalami luka dan derita.

Compassion in the midst of disaster adalah salah satu point penting yang ingin diangkat melalui film  “The Impossible”. Compassion yang dapat menggetarkan hati setiap orang yang menontonnya. Compassion yang demikian juga yang kita dapat tunjukkan dalam hidup kita supaya hati dunia yang keras ini dapat digetarkan dan luka yang dalam dari dunia ini dapat disembuhkan.
What thrills your heart so hard? Compassion???

“I believe that the greatest trick of devil is not to get us into some sort of evil but rather have us wasting time. this is why the devil tries so hard to get Christian to be religious. If he can sink a man’s mind into habit, he will prevent his heart from enganging God.”

Kalimat itulah yang dituliskan oleh Donald Miller dalam Blue Like Jazz Chapter 2 “Problem: What I learned on Televison”. Ada

Trik terbesar dari Iblis untuk menjatuhkan orang-orang percaya adalah dengan membuat kita membuang-buang waktu, membuat orang Kristen terlihat religius dengan habit dan tradisi rutin kekristenan. Namun, sesungguhnya hanya berakhir pada habit dan tradisi, tanpa hati yang melekat lagi pada Allah. Secara implisit, Don ingin menjelaskan bahwa apa yang disebut “the true spirituality” adalah “hati yang melekat pada Allah.”

Hal ini membawa saya berpikir sejenak:

  • Apakah keterlibatan saya dalam kegiatan-kegiatan gerejawi  benar-benar membuat saya dekat dengan Allah atau justru hanya membuat saya terlihat sibuk dan kelelahan lalu memunculkan kesan bahwa saya adalah “orang yang religius”?
  • Apakah kebiasaan-kebiasaan doa, pergi ke gereja setiap Minggu (at least 3 kali dalam seminggu), memberi perpuluhan dan persembahan benar-benar membuat saya dekat dengan Allah atau justru hanya membuat saya “terlihat religius”?
  • Apakah kebiasaan saya bernyanyi dengan keras, berdoa dengan melipat tangan dengan genggaman yang erat, dan menyembah Tuhan dalam ibadah benar-benar membuat saya semakin melekat dengan Allah, atau justru semua itu hanyalah tradisi dan habit yang saya ikuti sejak dari masa kecil dan terus berlanjut sampai dewasa, yang kemudian membuat saya “terlihat religius” di depan orang percaya yang lain?
  • Lebih tajam lagi, apakah khotbah-khotbah atau pengajaran-pengajaran Firman Tuhan yang saya lakukan setiap minggunya (bahkan tiap hari di sekolah) semakin membuat saya melekat dengan Tuhan atau semuanya itu hanya berakhir pada satu kata yaitu “routine” pekerjaan yang saya lakukan sebagai seorang hamba Tuhan?

Saya berpikir…. Jika saya menemukan hidup saya demikian bahwa semua itu tidak membuat saya melekat pada Allah, apakah itu artinya saya harus menghentikan semua habit, tradisi dan rutinitas itu?

Jawabannya IYA dan TIDAK…..

Sebab sebenarnya rutinitas, habit dan tradisi yang menunjuk kepada kata “disiplin rohani”  juga dapat berguna bagi spiritualitas. Henri Nouwen mengatakan bahwa: “In the spiritual life, the word ‘discipline’ means the effort to create some space in which God can act.”

Sehingga adalah salah jika sama sekali menolak rutinitas, habit dan tradisi. Karena ternyata Tuhan juga dapat bekerja di dalamnya dan sebagai sarana dimana kita bisa merasakan pengalaman dekat dan melekat dengan-Nya.

Namun, walaupun demikian rasanya kita perlu sedikit mengevaluasi diri kita dan mengarahkan kepada arah yang benar:

Apakah semua rutinitas, habit dan tradisi itu kita lakukan hanya untuk membuat kita memiliki “KESIBUKAN” rohani, atau memang kita ingin melakukannya untuk sebuah “DISIPLIN” rohani. Yang pertama membawa kita kepada “KELELAHAN” secara rohani dan “KEHAMPAAN” (karena sebenarnya kita tidak punya relasi yang dalam dengan Allah, meskipun kita merasa atau  terlihat religious di depan orang lain). Yang kedua membawa hidup kita kepada “KEPUASAN” secara rohani, karena kita melekat dengan Allah dan kita akan melihat Allah bekerja di dalam dan melalui kita.

Apakah yang sedang anda lakukan hari-hari ini adalah sebuah “KESIBUKAN” rohani atau sebuah “DISIPLIN” rohani?

Selanjutnya dalam Chapter ini, Donald Miller menjelaskan hubungan antara Loving, Knowing dan Serving GOD:

“If you don’t love somebody, it gets annoying when they tell you what to do or what to feel. when you love them you get pleasure from their pleasure, and it makes it easy to serve. I didn’t love God because I didn’t know God.”

Kita tidak mungkin bisa melayani Tuhan dengan sukacita jika kita tidak mencintai Dia. Dan kita tidak dapat mencintai Dia, jika kita tidak mengenal Dia.

Itu artinya mengenal Allah adalah dasar bagi kasih kepada Allah. Kasih kepada adalah dasar bagi pelayanan untuk Allah.

Adalah sebuah kesalahan jika kita melayani Allah dengan tujuan bahwa hal ini akan membuat kita lebih mengasihi Dia dan mengenal Dia. Karena pelayanan itu harusnya keluar dari pengenalan dan rasa cinta kepada Allah. Sehingga kita dapat berkata kepada Allah yang kita layani: “Your Pleasure is My Pleasure.”

I’ve known God because He has revealed Himself to me. The more I know Him, the more I love Him. The more I love Him, the more I really want to serve Him.

Do you really serve Him with your pleasure…??? If not, maybe there’s something wrong with your love.

Do you love Him deeper and deeper…??? If not, maybe there’s something wrong with your knowledge about God.

Absennya pengenalan dan kasih kepada Allah dalam rutinitas, habit dan tradisi agamawi adalah Trik Iblis yang menghancurkan kehidupan orang percaya. Yang akan membawa mereka kepada “wasting time, being religious without spiritual, busyness without direction and meaning, burn out, boring and emptiness.”

“I never liked jazz music because jazz music doesn’t resolve. but I was outside the Bagdad Theater in Portland one night when I saw a man playing the saxophone. I stood there for fifteen minutes, and he never opened his eyes. After that I liked jazz music.”

“Sometimes you have to watch somebody love something before you can love it yourself. It is as if they are showing you the way.”

I used to not like God because God didn’t resolve. But that was before any of this happened…

Kalimat-kalimat di atas adalah catatan awal yang ditulis oleh Donald Miller (follow his twitter and blog) dalam buku “Blue Like Jazz: Nonreligious Thoughts on Christian Spirituality” yang ia tulis. Buku yang berisi perjalanan spiritual Don sebagai seorang mahasiswa muda Kristen di Reed College dan  yang hidup di tengah-tengah Post-Christian era. Tulisan yang berisi pengakuan yang jujur seorang muda Kristen yang mengalami dilema-dilema iman dalam hidupnya.

Buku ini adalah sebuah buku “kesaksian” hidup seseorang, bukan buku yang ingin menjelaskan “doktrin-doktrin”  kristen. Seperti musik Jazz yang adalah genre musik yang ditemukan oleh generasi pertama yang bebas dari “Slavery” di Amerika. Sebuah genre musik yang merupakan ekspresi dari kebebasan, yang keluar dari jiwa dan ketulusan. Kekristenan yang seperti inilah yang ingin digambarkan oleh Don dalam bukunya. Keristenan yang lahir dari jiwa dan ketulusan, tanpa topeng dan kemunafikan.

Berkaitan dengan kejujurannya ini, tidak sedikit kritik yang ditujukan kepada Don. Beberapa kritik yang secara konsisten datang dari sesama orang kristen adalah:“Why do you do that book criticizing the church? Why would you go airing our dirty laundry for the public to see?” 

Saya baru saja menyelesaikan Bab I, dan ada bbeberapa  kejujuran yang ditulis oleh Don dalam Bab ini:

  • Bagaimana ia mengalami kesulitan saat ia mencoba untuk memikirkan dan memahami Allah yang digambarkan sebagai “Bapa” di dalam Alkitab. Don menulis: “Why would God want to call Himself Father when so many fathers abandon their children? Saya tidak ingin megomentari kalimat ini secara teologis, tetapi saya sangat menghargai kejujuran yang Don tuliskan. Pertanyaan yang muncul karena pengalaman hidup yang pahit yang ia alami bersama ayahnya. Dan bukankah banyak di antara  kita  juga terkadang mengalami hal ini, di saat kita sulit menerima dan mempertanyakan sebuah kebenaran di dalam Alkitab karena kita pernah mengalami sebuah kepahitan. (This is what I do, questioning and questioning through my spiritual journey with God. Though sometimes it makes me uncomfortable and doubt, but I know He wouldn’t leave me alone in this journey)
  • Bagaimana ia terjebak di dalam dosa “pornography” untuk pertama kalinya pada waktu ia berusia 10 tahun. Perasaan deg-degan yang luar biasa yang ia bawa sampai di tempat tidurnya di malam hari, serta bagaimana gambar itu seperti sebuah movie slides yang bermain di dalam kepalanya (Hi boys…. just be honest.. We did it, didn’t we..???)
  • Bagaimana ia mengungkapkan persepsinya tentang Allah dan pengalaman hidupnya. Ia sempat berpikir bahwa Allah itu seperti sebuah “Slot-Machine” yang akan menyediakan penyembuhan dari rasa bersalah dan pengharapan yang membuat hidupnya diarahkan kepada sebuah tujuan. Namun, implikasinya adalah  “jika sesuatu yang baik terjadi dalam hidupnya, maka ia berpikir itu dari Allah. Jika tidak, maka hal itu adalah karena dosa atau kesalahan yang ia lakukan, maka ia akan bersujud di dalam doa untuk menyembuhkan rasa bersalah itu dan mendapatkan ketenangan kembali. (Hi churchman… just be honest… We do it every week in church building when we do the confession of sin ritual also, right…???)

Tentu masih banyak kejujuran dan ketulusan yang lain yang ia tuliskan di dalam bukunya. I hope I can share it in my next posting…

Buku ini juga sudah difilmkan dan film yang mengambil judul yang sama “Blue Like Jazz” ini akan direlease tanggal 13 April ini. I’m so excited to watch it. Here’s the trailer of that movie: