Archive for the ‘Honesty’ Category

“The Impossible” adalah film yang diangkat dari kisah nyata yang dialami oleh sebuah keluarga berkebangsaan Spanyol (Maria Bellon dan suaminya Enrique, bersama dengan anak-anak mereka) pada waktu mereka berlibur ke Thailand, dimana bencana Tsunami menghancurkan beberapa tempat yang berdekatan dengan Samudera Hindia termasuk resort dimana mereka berlibur, tepat satu hari setelah Hari Natal 2004.
Salah satu topik yang sangat menyentuh yang diangkat dalam film ini adalah “Human responses toward disaster” dalam hubungannya dengan orang lain. Ada 2 respon yang diperlihatkan oleh Juan Antonio Bayona sang Director dan Sergio G. Sánchez, penulis script film ini. Respon yang pertama adalah Egois, dan yang kedua adalah full of compassion.
Respon Egois terlihat pada waktu Henry (Ewan McGregor) ingin meminjam telepon selular dari korban Tsunami yang lainnya untuk menelopon keluarganya, tetapi mendapatkan penolakan dari orang tersebut karena alasan dia butuh dan persediaan battery yang terbatas. Sedangkan respon full of Compassion terlihat pada waktu Maria (Naomi Watts) menyuruh anaknya Lucas (Tom Holland) untuk menolong seorang anak yang tersangkut pada tumbukan sampah setelah Tsunami, meskipun mereka juga sedang menyelamatkan diri, menderita dan kesakitan karena terluka. Perhatikan klip dan dialog berikut:
Maria: “Wait, did you hear that?”
Lucas: “Mom, there’s nothing we can do.”
Maria: “Wait”
Lucas: “We are almost there but we have to get to safety.”
Maria: “No, we have to help that boy.”
Lucas: “If a wave catches us down here, we will die! We have to climb that tree right now.”
Maria: [Yells] “Where are you?”
Lucas: “Mom, look at you. We need help! We can’t risk it mom. Come on.”
Maria: “Listen, what if that boy was Simon or Thomas? What if they needed help? You’d want someone to help them, wouldn’t you?”
Lucas: “Simon and Thomas are dead!”
Maria: “Even if it’s the last thing we do…”
Selain itu, pada waktu Henry meminjam telepon selular kepada korban yang lain, ia mendapatkan respon yang sangat baik, bahkan Henry diberikan kesempatan menelepon dua kali. Scene yang berkaitan dengan hal di atas sangat menyentuh.
Tidak ada hal yang lebih besar yang dapat menggerakan hati kita, memaksa air mata kita untuk tumpah dan memicu pembuluh darah kita mengalirkan darah yang hangat, selain dari pada melihat seseorang yang membutuhkan belas kasihan dapat tetap menunjukkan belas kasihan kepada orang lain. Melihat seseorang yang terluka dapat tetap menunjukkan kasihnya dengan mengobati orang lain.
Henri Nouwen menulis sebuah buku yang berjudul “The Wounded Healer.” Dalam buku ini Henri menawarkan sebuah interpretasi yang fresh tentang bagaimana kita dapat melayani orang lain. Henri menganjurkan agar kita mengidentifikasi penderitaan yang kita alami terlebih dahulu supaya kita dapat mengobati luka orang lain. Dalam luka kita, justru kita dapat menjadi sumber kehidupan bagi orang lain. Tentu hal ini sangat kontradiksi, bagaimana seorang yang terluka dapat mengobati orang lain. Bagaimana mungkin seorang yang membutuhkan pengobatan dapat menyembuhkan orang lain. Henri menulis dalam “The Wounded healer”:

When we are not afraid to journey into our own center, and to concentrate on the stirrings of our own souls, we come to know that being alive means being loved. This experience tells us that we can only love because we are born out of love, that we can only give because our life is a gift, and that we can only make others free because we are set free by the One whose heart is greater than our own.”

Jadi, ada 2 rahasia supaya kita dapat menjadi “The Wounded Healer”, antara lain:
Pertama, kita harus terlebih dahulu “mengakui penderitaan, kelemahan, keterbatasan dan ketakutan kita.” Dalam film “The Impossible,” sang Director dan Penulis menghadirkan point penting ini dalam scene berikut:
Dalam scene ini, Maria dan Lucas, anaknya baru saja menerima hantaman gelombang Tsunami yang dahsyat dan sedang berjuang untuk menyelamatkan diri dari arus yang membawa mereka. Lucas berkata kepada Ibunya bahwa Ia adalah anak yang berani, tetapi hantaman Tsunami sangat membuat ia takut. Maria, Ibunya tidak meresponi pengakuan Lucas dengan sebuah sikap yang heroic, tetapi justru dengan sebuah pengakuan bahwa ia juga adalah manusia yang rentan dan sesunggunhnya ia juga mengalami ketakutan yang sama.  Maria mengakui: “I am scared too.”
Kedua, kita harus  terlebih dahulu “Memohon dan datang kepada Pribadi yang lebih besar dari kita,” yaitu Tuhan, Allah kita yang menciptakan dan yang mengontrol segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita dan dunia ini. Ketika kita datang maka kita akan dikasihi, diberikan anugerah dan belas kasihan, serta dibebaskan dari ketakutan-ketakutan kita, sehingga kita dapat mengasihi, memberikan belas kasihan atau compassion kepada orang lain yang menderita dan terluka, meskipun kita sedang mengalami luka dan derita.

Compassion in the midst of disaster adalah salah satu point penting yang ingin diangkat melalui film  “The Impossible”. Compassion yang dapat menggetarkan hati setiap orang yang menontonnya. Compassion yang demikian juga yang kita dapat tunjukkan dalam hidup kita supaya hati dunia yang keras ini dapat digetarkan dan luka yang dalam dari dunia ini dapat disembuhkan.
What thrills your heart so hard? Compassion???

“I never liked jazz music because jazz music doesn’t resolve. but I was outside the Bagdad Theater in Portland one night when I saw a man playing the saxophone. I stood there for fifteen minutes, and he never opened his eyes. After that I liked jazz music.”

“Sometimes you have to watch somebody love something before you can love it yourself. It is as if they are showing you the way.”

I used to not like God because God didn’t resolve. But that was before any of this happened…

Kalimat-kalimat di atas adalah catatan awal yang ditulis oleh Donald Miller (follow his twitter and blog) dalam buku “Blue Like Jazz: Nonreligious Thoughts on Christian Spirituality” yang ia tulis. Buku yang berisi perjalanan spiritual Don sebagai seorang mahasiswa muda Kristen di Reed College dan  yang hidup di tengah-tengah Post-Christian era. Tulisan yang berisi pengakuan yang jujur seorang muda Kristen yang mengalami dilema-dilema iman dalam hidupnya.

Buku ini adalah sebuah buku “kesaksian” hidup seseorang, bukan buku yang ingin menjelaskan “doktrin-doktrin”  kristen. Seperti musik Jazz yang adalah genre musik yang ditemukan oleh generasi pertama yang bebas dari “Slavery” di Amerika. Sebuah genre musik yang merupakan ekspresi dari kebebasan, yang keluar dari jiwa dan ketulusan. Kekristenan yang seperti inilah yang ingin digambarkan oleh Don dalam bukunya. Keristenan yang lahir dari jiwa dan ketulusan, tanpa topeng dan kemunafikan.

Berkaitan dengan kejujurannya ini, tidak sedikit kritik yang ditujukan kepada Don. Beberapa kritik yang secara konsisten datang dari sesama orang kristen adalah:“Why do you do that book criticizing the church? Why would you go airing our dirty laundry for the public to see?” 

Saya baru saja menyelesaikan Bab I, dan ada bbeberapa  kejujuran yang ditulis oleh Don dalam Bab ini:

  • Bagaimana ia mengalami kesulitan saat ia mencoba untuk memikirkan dan memahami Allah yang digambarkan sebagai “Bapa” di dalam Alkitab. Don menulis: “Why would God want to call Himself Father when so many fathers abandon their children? Saya tidak ingin megomentari kalimat ini secara teologis, tetapi saya sangat menghargai kejujuran yang Don tuliskan. Pertanyaan yang muncul karena pengalaman hidup yang pahit yang ia alami bersama ayahnya. Dan bukankah banyak di antara  kita  juga terkadang mengalami hal ini, di saat kita sulit menerima dan mempertanyakan sebuah kebenaran di dalam Alkitab karena kita pernah mengalami sebuah kepahitan. (This is what I do, questioning and questioning through my spiritual journey with God. Though sometimes it makes me uncomfortable and doubt, but I know He wouldn’t leave me alone in this journey)
  • Bagaimana ia terjebak di dalam dosa “pornography” untuk pertama kalinya pada waktu ia berusia 10 tahun. Perasaan deg-degan yang luar biasa yang ia bawa sampai di tempat tidurnya di malam hari, serta bagaimana gambar itu seperti sebuah movie slides yang bermain di dalam kepalanya (Hi boys…. just be honest.. We did it, didn’t we..???)
  • Bagaimana ia mengungkapkan persepsinya tentang Allah dan pengalaman hidupnya. Ia sempat berpikir bahwa Allah itu seperti sebuah “Slot-Machine” yang akan menyediakan penyembuhan dari rasa bersalah dan pengharapan yang membuat hidupnya diarahkan kepada sebuah tujuan. Namun, implikasinya adalah  “jika sesuatu yang baik terjadi dalam hidupnya, maka ia berpikir itu dari Allah. Jika tidak, maka hal itu adalah karena dosa atau kesalahan yang ia lakukan, maka ia akan bersujud di dalam doa untuk menyembuhkan rasa bersalah itu dan mendapatkan ketenangan kembali. (Hi churchman… just be honest… We do it every week in church building when we do the confession of sin ritual also, right…???)

Tentu masih banyak kejujuran dan ketulusan yang lain yang ia tuliskan di dalam bukunya. I hope I can share it in my next posting…

Buku ini juga sudah difilmkan dan film yang mengambil judul yang sama “Blue Like Jazz” ini akan direlease tanggal 13 April ini. I’m so excited to watch it. Here’s the trailer of that movie: