Archive for the ‘Natal’ Category

“At his birth the holy family was welcomed into a peasant home. These people did their best and it was enough” – Kenneth E. Bailey

Manger

“Ketika mereka tiba di Bethlehem, tibalah waktunya bagi Maria untuk melahirkan. Yusuf tidak mendapatkan tempat bagi Maria untuk bersalin. Ia sudah berkeliling dari satu pintu penginapan ke penginapan lainnya. Namun, hanya respon dingin yang ia terima dari pemilik penginapan. Semua orang di kota itu sibuk dengan urusannya sendiri, dan melupakan keluarga yang miskin ini. Tidak ada tempat yang layak bagi bayi Mesias, Juruselamat manusia untuk dilahirkan, hanya kandang ternak yang dingin, bau, kotor dan hina. Ia dibaringkan di dalam palungan, tempat makan hewan.”

Gambaran inilah yang biasanya tersaji di moment Natal, sambil menekankan bahwa Yesus mengalami penderitaan dan ketertolakan sejak dari pertama kali Ia hadir di tengah-tengah dunia ini. Yesus sejak bayi sudah menderita karena tidak ada tempat bagi Yesus. Semua orang sibuk dan tidak peduli dengan kedatangan-Nya, sampai Ia harus lahir di kandang yang bau, kotor dan hina. Apalagi kemudian di kontraskan dengan hakekat diri-Nya yang adalah Allah yang bertahta di Sorga. Hal ini kemudian membuat kita kagum, terharu, dan memuliakan Tuhan.

Namun, apakah gambaran Natal yang demikian tepat?

Pemahaman tentang kondisi sosial-budaya Palestina Abad Pertama akan mengajukan beberapa keberatan terhadap gambaran ini:

  • Gambaran ini menyajikan sosok Yusuf yang kurang bertanggung jawab terhadap istri dan anaknya.
  • Orang tua seperti apakah Yusuf dan Maria yang meletakkan bayinya yang baru dilahirkan di dalam palungan yang bau, bekas liur hewan?
  • Gambaran ini tidak cocok dengan gambaran budaya Timur Tengah yang mengutamakan hospitality (keramahan) terhadap orang asing dan orang yang membutuhkan. Apakah mungkin seorang ibu yang akan melahirkan akan diterlantarkan?
  • Bukankah Yusuf dan Maria kembali ke kota asalnya, bukankah mereka pasti memiliki kerabat? Untuk apa mencari tempat penginapan?

Jika keberatan-keberatan ini benar, maka narasi Natal seperti apakah yang akan muncul?

Kenneth E. Bailey [1] (salah satu pioneer, yang mengkritisi gambaran tradisional Natal) menjelaskan bahwa kunci dari Narasi Natal ini terletak pada pemahaman tentang rumah penginapan (Yunani: kataluma) dan bentuk rumah orang Palestina Abad Pertama.

Kataluma tidak tepat jika diterjemahkan sebagai “penginapan”

Kataluma seharusnya diterjemahkan sebagai “ruang tamu” atau “ruang atas.

Kata yang sama juga digunakan dalam Lukas 22:11, ketika Yesus menyuruh Petrus dan Yohanes mencari ruang untuk perjamuan paskah. Ia berkata: “dan katakanlah kepada tuan rumah itu: Guru bertanya kepadamu: di manakah ruangan (kataluma) tempat Aku bersama-sama dengan murid-murid-Ku akan makan Paskah?”

Kataluma bukanlah penginapan, melainkan ruang tamu atas.

Gambarannya demikian:

kataluma

 

Untuk penginapan, kata yang digunakan bukanlah kataluma, melainkan kata pandoceion. Misalnya dalam Lukas 10:34, di mana Orang Samaria yang baik hati merawat korban perampokan yang ditolongnnya itu ke sebuah rumah penginapan.

Jadi, yang dimaksudkan Lukas, adalah bahwa Yusuf dan Maria tidak mendapatkan tempat di ruang tamu atas dari rumah kerabatnya di Bethlehem. Yusuf dan Maria tampaknya agak terlambat datang karena kehamilan Maria. Ruang tamu atas itu sudah penuh, ribut dan sesak karena mungkin ruangan itu sudah ditempati oleh sanak saudara yang lain, yang datang lebih duluan. Tidak ada adegan seorang pemilik penginapan yang dingin di dalam kisah Natal.

Dalam kondisi yang demikian, apakah yang harus dilakukan Kerabat dari Yusuf dan Maria ini?

Maria harus melahirkan. Jika tetap dipaksakan di kataluma, maka tentu akan membuat bayi dan ibunya tidak dapat beristirahat karena tempat itu sudah penuh dan sesak. Harus ada tampat yang terpisah dari ruang tamu atas yang penuh sesak itu. Berdasarkan bentuk rumah orang Yahudi, satu-satunya tempat terbaik yang dapat diberikan adalah ruangan bawah, di mana mereka biasa menjaga ternak mereka pada waktu malam (itulah sebabnya terdapat palungan di dalamnya). Namun, demi kenyamanan, maka ruangan itu pasti dirapihkan di buat senyaman mungkin. Ruangan itu tidak mungkin kotor, karena ruangan itu menyatu dengan ruangan keluarga, di mana keluarga itu tinggal. Ruangan bawah itu adalah ruangan keluarga plus ruangan untuk meletakkan hewan ternak mereka di waktu malam, sehingga tidak dicuri. Baik manusia maupun hewan keluar dari satu pintu yang sama. Bentuk rumah yang seperti ini terdapat di Timur Tengah (Palestina) mulai dari zaman Hakim-hakim (kisah Nazar Yefta – dimana ia berani bernazar karena ia pikir yang akan keluar pertama adalah hewan, ternyata anak perempuannya), bahwa sampai pertengahan Abad ke-20.

Dengan kata lain, kerabat tersebut memberikan ruangan yang tersisa, karena ruangan itulah yang terbaik yang dapat mereka berikan. Ruangan itu adalah ruangan keluarga (menyatu dengan ruangan ternak di waktu malam), yaitu ruangan tempat mereka hidup. Ruangan hidup merekalah yang mereka berikan untuk bayi Mesias. Memberikan ruangan hidup itu adalah sebuah tindakan hospitality sederhana namun bermakna.

Hal ini semakin dipertegas oleh Lukas, yaitu ketika para gembala datang melihat bayi Yesus, mereka pulang dengan memuji Allah karena semua yang mereka dengar dan lihat.” kata semua jelas termasuk the quality of the hospitality yang mereka saksikan pada waktu mereka tiba di rumah petani sederhana, kerabat dari Yusuf dan Maria itu. Mereka melihat bahwa bayi Yesus mendapatkan akomodasi yang cukup baik, bukanlah sebuah kandang yang dingin dan bau. Jika yang mereka jumpai adalah sebuah kandang yang bau, seorang ibu yang ketakutan dan seorang suami yang putus asa, maka kemungkinan besar mereka akan berkata: “this is outrageous! Come home with us! Our women will take care of you!” Dalam beberapa menit gembala-gembala ini pasti sudah memindahkan keluarga Yusuf ke rumah mereka. Fakta bahwa mereka pulang tanpa memindahkan keluarga Yusuf menunjukkan bahwa mereka merasa bahwa hospitality yang diberikan oleh Kerabat tersebut sudah baik.

Lebih lagi, berdasarkan struktur teks, Lukas 2:1-7 tampaknya ingin mempertontonkan sebuah kontras. Yesus lahir ke dalam  dunia ini di saat kondisi dunia dikuasai oleh Kaisar Agustus yang dengan sangat dingin dan kejam menjajah dan memeras bangsa Israel dengan pengumpulan pajak. Namun, di tengah-tengah kondisi itu, kisah Natal mempertontonkan sebuah kisah kecil keramahan yang penuh kehangatan.

Kelahiran Yesus tidak perlu diromantisasikan dengan mengatakan bahwa Yesus lahir dikandang yang hina, kotor dan bau, untuk mendapatkan makna bahwa Yesus telah berkorban sejak masa bayinya. Kedatangan Yesus menjadi Manusia itu sudah cukup hina untuk menggambarkan betapa berkorban-Nya Dia bagi kita manusia berdosa.

Kisah keramahan di dalam Lukas 2:7, justru menunjukkan kepada kita bahwa menyambut Natal itu tidak perlu sesuatu yang berlebihan, sesuatu yang mewah atau yang mahal, atau yang meriah. Sikap terbaik di dalam menyambut Natal adalah menyambut Tuhan dengan sebuah keramahan yang sederhana. Kita harus jujur jika memang kita hanya punya ruang yang kecil dan sempit untuk Yesus, karena sudah terlalu banyak hal yang membuat ruang hidup kita penuh sesak, sibuk, dan terburu-buru. Berlakulah ramah untuk Yesus hadir dalam ruang yang kecil-sempit itu, karena Yesus dapat mengubah ruang yang kecil dan sempit itu menjadi tahta-Nya, dari sana Ia memerintah hidup kita. Berikan ruang hidupmu yang kecil dan mungkin berantakan itu. Biarkan Dia bertahta di ruangan itu. Biarkan Dia bertahta di dalam hidupmu!

Merry Christmas 2017…

 

 

Notes:

[1] Kenneth E. Bailey, Jesus Through Middle Eastern Eyes: Cultural Studies in the Gospels (Downers Grove: InterVarsity Press, 2008), p. 25-37.

Advertisements

Christmas….

Sebagian orang mengidentikkan Christmas dengan holiday season, late night shopping, hadiah, makanan yang berlimpah dan hal-hal lain yang dapat membuat kita tertawa dan bergembira.

Sebagian lagi mengidentikkan Christmas dengan serangkaian acara yang harus mereka hadiri di gereja. Acara-acara yang dipersiapkan beberapa bulan sebelumnya. Acara-acara yang menguras tenaga, pikiran dan tentunya sejumlah uang demi suksesnya acara itu. Acara-acara yang dibuat dengan tujuan untuk membawa orang-orang yang hadir mengerti makna Christmas dan pada akhirnya membuat mereka hidup lebih sungguh-sungguh di dalam Tuhan.

Semuanya itu tentu tidak salah, dan setiap orang berhak untuk mengidentikkan Christmas dengan kegiatan apapun yang biasa ia lakukan setiap kali Christmas tiba. Lagipula Christmas itu untuk semua orang, jadi semua orang dapat menikmati Christmas sesuai dengan konteks mereka.

Konteks…

Ya kita tidak dapat hidup di luar konteks. Jika ada orang yang menginginkan kehidupan yang demikian, maka tampaknya orang itu bosan hidup di dunia ini.

Konteks…

Jika ada kata yang dapat menggambarkan konteks bagaimana kita merayakan Christmas, maka kata itu pasti: Busyness. Kesibukan yang berujung kepada kelelahan.

Konteks…

Mengapa kita tidak mulai dengan pertanyaan, seperti apakah konteks the first Christmas itu dirayakan? Wahh… Jika ada orang yang mencoba menjawab pertanyaan ini, jawabannya pastilah sebuah interpretasi. Siapa yang tahu seperti apakah sebenarnya dan wujudnya Christmas yang pertama itu.

Namun, usaha untuk menggambarkan seperti apakah Christmas pertama itu telah dilakukan banyak tokoh disepanjang sejarah. Salah satunya adalah dalam bentuk Hymne Natal yang selalu dinyanyikan di saat malam Natal, yaitu Silent Night atau Malam Kudus.

Silent Night adalah sebuah Christmas carol yang berasal dari Jerman. Judul aslinya adalah “Stille Nacht.” Sebenarnya lagu ini tidak tepat diterjemahkan sebagai “Silent” apalagi sebagai “kudus” dalam terjemahan Indonesia. Terjemahan yang lebih tepat adalah “Still” yang dipahami sebagai:

“the elimination of not only noise but movement, the absence of all sensory evidence of others who want to talk to us or attract our attention or engage us in some activity.”

Stillness yang tentu dapat diidentikkan dengan kata “Rest.”

Umat Tuhan dari jaman ke jaman sebelum Yesus lahir hidup dalam kondisi yang “Restless”. Mereka tertekan, menderita dan miskin. Mereka hidup terjajah. Mereka mengharapkan dan merindukan sebuah kelepasan dari kondisi mereka yang “restless”. Seorang utusan pada jaman Herodes Agung menjadi Raja di Israel memberikan laporan kepada Kaisar di Roma:

A high level delegation went to Rome claiming of Herod’s tyranny that “he had reduced the entire people to helpless poverty” (Ant. 17.3-7)

Kehadiran Mesias dinantikan dan diharapkan dapat membawa mereka kepada kelepasan, ketenangan dan “rest” yang dapat memberikan mereka “Comfort.” Itulah sebabnya Yesus pernah berkata: “Come to me, all you who are weary and burdened, and I will give you rest” (Matthew 11:28). Christmas seharusnya diidentikkan dengan “Stillness, Rest and Comfort.”

Christmas dalam konteks dunia kita kini tampaknya bukan membuat kita dapat “rest” tetapi sebaliknya “restless.” Dan bukan hanya saat Christmas, manusia modern hidup sehari-hari di dalam kesibukan yang tiada henti. Kesibukan untuk mencari kepuasan dan happiness dalam hidup. Kondisi ini sepertinya tidak akan berhenti. St. Augustine menyadari bahwa di dalam diri manusia terdapat “love” dan “desire to love,” itulah sebabnya ia menulis dalam “the confession” demikian:

“Love longs for some object to be, loves to rest itself in the thing beloved. But in things there is no enduring place to lie. They don’t last. They run away.”

Hidup manusia akan terus menurus berada di dalam lingkaran “restless” jika salah dalam meletakkan cintanya dan keinginannya untuk mencintai, sebab:

“You made us for Yourself, and our heart is restless until it finds its place of rest in You” – St. Augustine

Christmas, Immanuel, God with Us seharusnya menjadi “perayaan” akan “Stillness and Rest.” Sebab kita dapat puas dan mengalami apa yang disebut “rest” yang membawa kepada “comfort” jika kita meletakkan cinta, hati dan pengharapan kita di dalam Kristus. Sehingga sama seperti Daud kita dapat berkata: “THE LORD is my shepherd; I have that all I need” (Psalm 23:1).

God with Us yang telah menjalani kehidupan sebagai Manusia di dunia dengan berbagai bentuk kehidupan yang sederhana dan berbagai bentuk penderitaan itu memahami betapa restless-nya kita dan betapa kita lapar akan “stillness.” Dia memahami bahwa kita membutuhkan “the true and lasting rest” yang hanya ada di dalam Dia.

Stillness dan Rest itu tidak dapat kita temukan di dalam liburan, pesta, makanan berlimpah, hadiah, drama Natal dan musik Natal yang megah, dekorasi Natal yang indah, atau bahkan khotbah Natal yang berapi-api dan mengharukan (termasuk tulisan tentang refleksi Christmas yang saya buat ini).

Tetapi apa artinya Christmas tanpa semuanya itu? Christmas tetap akan menjadi Christmas tanpa semuanya itu.

Konteks…

Sepertinya Stillness dan Rest bukanlah konteks hidup kita masa kini dan di dunia ini. Tetapi kita dapat memintanya kepada Bapa. Dalam kosakata Jerman, bentuk kata kerja dari “Stille” berarti:

“to nurse a baby, to stop up its mouth, to relax its frantic grasping, with the comfort and warmth and nourishment of the nipple.”

Maka mari di dalam nuansa Christmas ini kita berdoa kepada Bapa:

“Still my mouth, my hands, my schedule of activities. Make me like a newborn child – like your own Son on that first Christmas morning. I am incapable of stilling myself. Still me. Still my heart and the innermost of my brain. Comfort me with your presence. Let me rest in you. Make me know that I am yours.”

– God with Us –