Archive for the ‘Next Leader’ Category

Model pelayanan kaum muda yang kelima dalam buku Youth Ministry in the 21st Century: Five View (2015), Chap Clark (Ed.) adalah The D6 View of Youth Ministry oleh Ron Hunter.

Youth ministry in the 21st century

“Youth Pastors need to get dads and moms engaging in spiritual conversation with their teens by teaching them how to ask the right questions and how to show unconditional love. Parents should know that not every conversation needs to be critical, contain biblical lectures, or even be serious.”

Ada 2 masalah yang disoroti oleh Hunter yang menjadi latar belakang dari model pelayanan Kaum Muda yang ia usulkan. Pertama, adanya segregasi di antara masing-masing department pelayanan di dalam gereja. Masing-masing “bidang pelayanan dan komisi” bergerak di dalam isolasi satu dengan yang lain. Hasilnya, masing-masing bidang tidak memiliki interaksi dan kepemimpinan di dalam gereja menjadi terpecah-pecah. Perpecahan kepemimpinan dan agenda ini akan mengakibatkan kebingungan bahkan konflik yang berujung pada kemandekan pertumbuhan rohani jemaat. Perpecahan agenda biasanya terjadi karena para pemimpin di dalam gereja hanya berfokus pada program. Program tidaklah buruk, tetapi pemimpin harus melihat program sebagai sebuah cara untuk mencapai strategi (principled plan) yang lebih besar. Pemimpin yang program-oriented tanpa perencanaan dan tujuan yang holistik dan jelas seringkali terlihat sibuk tapi tanpa arah yang jelas. Pemimpin yang mengadopsi program sebagai tujuan pelayanan akan menciptakan kekacauan dan ketidakjelasan karena program hanya dapat menjadi “cara” bukan tujuan. INGAT: “students can temporarily conform to a program without ever changing their hearts. When all the activities are gone, the student is left.”

Kedua, adanya kecenderungan gereja untuk mempekerjakan pekerja yang khusus ditempatkan sebagai pelayan Kaum Muda, pelayan Anak dan lain-lain. Menurut Hunter, hal ini tidaklah salah. Namun, hal ini menjadi sebuah masalah jika orang tua mendelegasikan SEMUA tanggung jawab pertumbuhan rohani anak-anaknya kepada pelayan-pelayan ini. Pola pembinaan dengan mempekerjakan profesional adalah pola yang sangat umum di dalam sistem pendidikan modern. Orang tua mempekerjakan guru les untuk anaknya supaya lulus test dan mahir di dalam ketrampilan tertentu. Hal ini terjadi karena orang tua kurang waktu dan keahlian serta mereka menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Namun, sangat ironis bahwa keinginan yang terbaik untuk anak ini berdampak pada kurangnya interaksi antara orang tua dengan anak mereka. Hasilnya orang tua kehilangan pengaruh bagi anak mereka sendiri.

Kedua masalah ini akan membawa anak muda hilang dari gereja dan menghidupi prinsip-prinsip hidup yang tidak berpusat pada Kristus. Hunter mengusulkan model pelayanan Kaum Muda yang ia sebut sebagai D6 sebagai solusi bagi masalah ini. D6 adalah akronim dari Deuteronomy 6 (Ulangan 6) – dan juga Efesus 6 – sebagai dasar biblika dari model pelayanan ini. Dalam Ulangan 6 dan Efesus 6, Allah memerintahkan generasi yang lebih tua (kakak-nenek, orang tua, komunitas iman) sebagai satu kesatuan untuk memuridkan generasi berikutnya dengan memberikan teladan dan pengajaran yang berulang-ulang, dan tidak mendelegasikan tanggung jawab ini kepada orang lain.

D6 merupakan sebuah model pelayanan terhadap kaum muda di mana semua pemimpin gereja dan semua orang tua saling bermitra untuk mempersiapkan generasi berikutnya demi kehidupan mereka ke depan. Model D6 sering juga digambarkan sebagai pemuridan generasional yang dilakukan baik itu di dalam gereja maupun di dalam rumah. Gereja dan rumah harus terus-menerus menyuarakan kebenaran di dalam kehidupan anak-anak.

Secara praktis, model palayanan D6 dapat diaplikasikan demikian:

  1. Setiap bidang pelayanan harus saling bekerjasama untuk menghasilkan sebuah pertumbuhan rohani yang baik. Pelayanan anak harus bermitra dengan orang tua untuk memuridkan anak-anak dengan baik, sebab anak yang bertumbuh sebagai “unprepared teen” akan kesulitan untuk tetap terikat di dalam gereja. Jika kita ingin memiliki pelayanan kaum muda yang kuat, mulailah membangun murid-murid yang kuat ketika mereka berada di dalam pelayanan anak. Seorang  Pendeta Kaum Muda juga harus bertanya: Apakah strategiku (bukan program tapi prinsip pelayanan) yang dapat menghubungkan setiap bidang pelayanan di dalam gereja? Apakah aku sudah berbicara dengan pemimpin lainnya di dalam gereja untuk membangun sebuah strategi? Diperlukan sebuah pendekatan yang komprehensif di antara masing-masing bidang di dalam gereja, yang juga melibatkan orang tua.
  2. Orang tua akan belajar dari gereja melalui khotbah-khotbah, kelompok kecil, kelas-kelas pembinaan dan relasi di dalam gereja, sehingga orang tua dapat menyediakan sebuah pemuridan yang konsisten kepada anak mereka ketika mereka tidak berada di gereja. Model D6, dimulai dengan sebuah keluarga mendengarkan pengajaran Firman Tuhan di dalam gereja dan kemudian orang tua akan mengajar anak mereka selama seminggu sampai mereka kembali lagi ke gereja minggu depan. Pemuridan yang konsisten (with grace & trust) di dalam sebuah relasi yang sangat dekat antara orang tua dan anak akan menghasilkan sebuah pengaruh yang luar biasa untuk hidup seorang anak.
  3. Pendeta Kaum Muda berperan sebagai seorang “Transformational Leader,” yang berfokus pada pembaharuan hidup orang yang ia pimpin. Ia akan memimpin dan menggembalakan kelompok anak muda serta (bersama Gembala dan pemimpin lainnya di dalam gereja) memberikan pengaruh dan melatih (coaching) orang tua untuk menjadi “coach” yang memuridkan anak mereka juga. Pendeta Kaum Muda harus mengajak orang tua untuk terlibat dalam pembicaraan tentang hal-hal rohani dengan anak remaja mereka, dengan cara mengajarkan mereka bagaimana memberikan pertanyaan yang tepat dan bagaimana menunjukkan kasih yang tanpa syarat. Orang tua harus diingatkan bahwa tidak semua pembicaraan harus berisi kritikan, ceramah Alkitab atau harus selalu serius.
  4. Pendeta Kaum Muda tidak dapat memposisikan dirinya lebih cool dari orang tua anak remaja yang ia bimbing, sebab mereka bisa meremehkan orang tua mereka. Atau memposisikan pelayanan Kaum Muda lebih cool dari pelayanan dalam ibadah umum orang dewasa, karena mereka akan meremehkan dan tidak menyukai gereja secara umum. Pendeta Kaum Muda harus menolong remaja dan anak muda mencintai dan menghormati orang tua mereka. Pendeta Kaum Muda tidak perlu berusaha dengan keras untuk membuat anak remaja dan anak muda menyukai mereka, tetapi pekerjaan yang harus diusahakan dengan sungguh-sungguh adalah membuat orang tua tertarik untuk terkoneksi dengan anak-anak mereka.

Model ini adalah sebuah model ideal dan holistik yang perlu dipertimbangkan untuk diaplikasikan di dalam pelayanan Kaum Muda di dalam gereja. Namun, yang perlu menjadi catatan adalah bahwa tidak semua anak muda yang datang ke gereja memiliki orang tua yang juga bergereja, atau memiliki kemampuan untuk menjadi “coach” atau bahkan yang punya keinginan memuridkan anaknya. Bahkan di dalam realita, tidak sedikit orang tua yang sudah berusaha untuk dekat dengan anak remajanya justru tidak mendapatkan respon yang baik dari anaknya. Fenomena justru menunjukkan kebanyakan anak remaja lebih mendengarkan teman sebayanya atau bahkan pembimbing rohaninya di gereja. Apalagi ditambah dengan realita lain bahwa tuntutan ekonomi yang tinggi di dunia modern telah memaksa para orang tua kehilangan waktunya dengan anak-anak mereka di sepanjang minggu karena pekerjaan mereka. Penekanan pada melakukan coaching di dalam rumah harus diimbangi dengan penggembalaan dan mentoring oleh para pemimpin dan pembimbing Kaum Muda di dalam gereja.

 

Advertisements

You’re all going to die down here – Red Queen

Adalah sebuah kalimat ancaman yang sudah biasa kita dengar dalam film-film yang kita tonton. Tetapi perkataan ini menjadi tidak biasa karena perkataan ini tidak keluar dari seorang manusia. Perkataan ini muncul dari sebuah Program komputer, dan ditujukan kepada manusia. Program itu disebut “Red Queen” dalam film”Resident Evil“, di mana episode terbarunya yang diberi judul “retribution” baru saja dirilis minggu lalu.

Red Queen adalah sebuah “holographic avatar” dari Artificial Intelligence (Kecerdasan Bantuan) yang merupakan sebuah program yang diciptakan dalam sistem komputerisasi The Umbrella Cooporation /UC (sebuah perusahaan yang melakukan penelitian untuk memenuhi impian manusia, yaitu kondisi yang tidak dapat mati – Undead, di mana mereka menggunakan Virus yang disebut T-Virus, yang justru pada akhirnya menciptakan manusia menjadi monster-monster Zombie). UC menyadari kekurangan mereka bahwa mereka tidak dapat mengendalikan segala sesuatunya, oleh sebab itu, Red Queen diciptakan untuk mengawasi dan melindungi aset dari di UC serta untuk melindungi kehidupan dari pekerja di UC. Namun, sangat disayangkan bahwa pada akhirnya Red Queen justru memegang kendali penuh atas UC. Bahkan pada waktu Wesker (Pemimpin dari UC) ingin mengambil data dari komputer pun, Red Queen yang memegang kendali, memutuskan akses dan tidak mengijinkan Wesker untuk mengambil data tersebut, karena bagi Red Queen apa yang dilakukan oleh Wesker membahayakan UC. Apa yang diciptakan kini terlepas dari pencipta dan justru menjadi pengendali dan musuh bagi si pencipta.

Kondisi yang ada tampaknya “agak” mirip dengan apa yang akan dilakukan oleh warga kota Jakarta pada tanggal 20 September 2012, yaitu pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Warga kota Jakarta akan “menciptakan” / memilih pemimpin mereka, tetapi setelah pemilihan, maka apa yang warga Jakarta “ciptakan”, akan memimpin atau “menguasai” mereka. Pemimpin itu akan membuat banyak kebijakan-kebijakan atau keputusan-keputusan yang akan berpengaruh bagi kehidupan warga Jakarta. Tentu Gubenur tidaklah sama persis dengan Red Queen dalam film Resident Evil, tetapi setidaknya sama seperti Red Queen, Gurbenur akan berpikir yang “terbaik” untuk warga Jakarta, tetapi apa yang “terbaik” itu belum tentu sama dengan apa yang terbaik yang dipikirkan oleh warga Jakarta.

Calon Gubenur dan calon Wakil Gubenur yang akan dipilih adalah pasangan Fauzi Bowo & Nachrowi Ramli (No. urut 1) dan pasangan Joko Widodo & Basuki (No. urut 3). Kedua pasangan ini tentu sudah melakukan pendekatan dan kampanye kepada masyarakat kota Jakarta. Mereka juga sudah menjelaskan kepada masyarakat, kebijakan-kebijakan apa yang akan mereka ambil jika mereka terpilih sebagai Pemimpin bagi kota Jakarta.Mereka menawarkan apa yang “terbaik” bagi kota Jakarta. Namun, masyarakat kota Jakartalah yang menentukan siapa yang akan menjadi Pemimpin.

Pemimpin diangkat oleh rakyat, tetapi Alkitab juga menjelaskan bahwa otoritas seorang pemimpin di suatu negara (atau kota) diberikan oleh Tuhan. Istilah yang pernah dikumandangkan dalam sejarah dunia berkaitan dengan isu ini adalah “Vox Populli, Vox Dei” (People’s voice is the voice of God). Istilah ini digunakan oleh Rosseau dan Voltaire untuk memdukung keruntuhan sistem pemerintahan Monarki di Perancis. Pada waktu itulah di mulai sebuah sistem pemerintahan yang baru dimana rakyat menentukan nasib mereka sendiri dengan memilih pemimpin bagi negaranya.

Istilah ini sebenarnya pernah mendapat kritik melalui sebuah surat dari Alcuin untuk Charlemagne pada abad ke 8 (sebenarnya ini awal dari istilah ini muncul), karena bagi Alcuin, rakyat tidak selalu benar. Contohnya pada waktu Pilatus menyerahkan keputusan kepada rakyat: “apakah melepaskan Barabbas atau Yesus”, dan rakyat memilih Barabbas.

Akan tetapi, jika hal itu yang menjadi keberatannya, bukankah pada akhirnya melalui keputusan rakyat itulah ditetapkan bahwa Yesus dihukum mati dengan cara disalibkan? Dan bukankah pada akhirnya dengan jalan demikian rencana Allah bagi keselamatan manusia tergenapi? Memang adalah hal bodoh memilih Barabbas dari pada Yesus tetapi “all things work together for good” supaya pada akhirnya rencana-Nya tergenapi. Sehingga hal ini berarti “Vox Populli” menjadi sebuah alat di dalam kedaulatan Allah.

Siapa yang akan menjadi Gubernur DKI Jakarta tentu juga ada di dalam kedaulatan Allah, tetapi Allah akan menjadikan suara warga kota Jakarta sebagai alat untuk menyatakan kedaulatan-Nya melalui pemilihan Gubernur besok.

Terlepas dari berbagai pro dan kontra, isu agama, korupsi dan keinginan beberapa kelompok untuk mengangkat pemimpin yang baru atau ingin tetap mempertahankan pemimpin yang lama, sebagai orang percaya kita perlu berdoa agar Allah yang berdaulat itulah yang akan menyatakan kehendak-Nya atas kota Jakarta. Kita juga perlu meminta hikmat dari Tuhan untuk memnentukan pilihan kita. Kita “PERLU” memberikan suara kita, karena suara kita adalah alat bagi kedaulatan Allah.

Dalam ceramahnya tentang “Calvinisme dan politik” di Princeton University, Abraham Kuyper pernah mengutip apa yang ditulis oleh Calvin dalam tafsirannya tentang tokoh Samuel. Calvin menulis:

“Dan engkau, hai bangsa-bangsa, yang kepadanya Allah memberikan kemerdekaan untuk memilih penguasa-penguasa anda, usahakanlah agar anda tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dengan memilih orang-orang yang tidak jujur dan musuh-musuh Allah dan menempatkan mereka pada posisi-posisi kehormatan yang tertinggi.”

Pilihlah pemimpin yang tepat seperti yang kita gumulkan selama ini dalam hubungan kita dengan Tuhan.  Tidak perlu mengumbar kejelekan-kejelekan atau kekurangan-kekurangan salah satu pasangan yang bagi kita tidak layak untuk dipilih sebagai pemimpin. Ketahuilah bahwa setiap pemimpin pasti ada kekurangannya. Yang terpenting adalah Allah yang berdaulat, kita dan pemimpin yang akan kita pilih adalah alat di tangan Tuhan, yang satu sebagai alat untuk menyatakan suara atau kehendak Allah, yang satu lagi sebagai alat untuk memimpin kota Jakarta.

Ingatlah kepada siapa suara kita akan kita berikan besok akan berdampak kepada kehidupan warga Jakarta 5 tahun mendatang dan tidak hanya kota Jakarta tetapi juga Indonesia secara keseluruhan, sebab Jakarta adalah Ibukota yang menjadi barometer bagi banyak aspek kehidupan bangsa Indonesia. Mari kita doakan bersama….

Vox Populli, Vox Dei.  Selamat memilih…!!!