Archive for the ‘Post-Christian’ Category

Model pelayanan kaum muda yang kedua dalam buku Youth Ministry in the 21st Century: Five View (2015), Chap Clark (Ed.) adalah The Reformed View of Youth Ministry oleh Brian Cosby.

Youth ministry in the 21st century

Model yang diusulkan oleh Brain terkesan sangat teoritis, namun dengan percaya diri ia menjelaskan bahwa gereja tempat ia melayani, Presbyteran Church in America (PCA) adalah salah satu denominasi gereja dengan pertumbuhan tercepat di US pada tahun 2013.

Model yang ia usulkan dimotivasi oleh kritik terhadap kekeliruan umum yang biasanya dilakukan di dalam pelayanan kaum muda dan semangat untuk menerapkan metodologi Reformed secara konsisten yang terekspresi melalui “sarana kasih karunia” (means of grace) di sepanjang sejarah Gereja. Sarana kasih karunia yang dimaksud menunjuk kepada pelayanan Firman, Doa, Sakramen (Baptisan dan Perjamuan Kudus), pelayanan Diakonia dan komunitas orang percaya.

Brian menyoroti tentang kekeliruan di dalam pelayanan kaum muda. Pertama, ia mengungkapkan bahwa data yang menyebutkan 50-88 % remaja meninggalkan gereja di akhir tahun pertama kuliah mereka harus dipahami sebagai titik puncak bebasnya mereka menentukan sendiri pilihan iman mereka sendiri lepas dari iman orang tua mereka. Krisis yang sesungguhnya sudah terjadi sebelum mereka menginjak masa kuliah. Pemimpin pelayanan kaum muda harus menyadari betapa pentingnnya memuridkan remaja sebaik-baiknya sebelum mereka memasuki masa kuliah. Hilangnya para pemuda usia kuliah merupakan fenomena ketidakberesan yang ada di dalam pelayanan remaja usia High School.

Kedua, Brian juga menyoroti tentang penggunaan entertainment sebagai metode untuk menarik kaum muda ke dalam komunitas gereja. Ia mengatakan bahwa hal ini adalah sebuah kesalahan di dalam membaca fenomena yang ada. Ia mengutip tulisan Janie Cheaney dalam World Magazine (2010) bahwa para remaja masa kini adalah remaja yang lebih sibuk dari pada generasi sebelumnya. Mereka lebih sibuk dalam urusan olahraga, pramuka, math clubs dan PR (dapat ditambahkan: organisasi di sekolah dan les pelajaran). Namun, pada waktu yang sama mereka adalah generasi yang mudah “bored” dan “purposeless.” Mereka hidup dari satu kesenangan kepada kesenangan yang lain, sambil berharap mereka akan menemukan kepuasan bagi jiwa yang mengembara. Ravi Zacharias mengatakan “the loneliest moment in life is when you have just experienced that which you thought would deliver the ultimate, and it has let you down.”

Brian berasumi bahwa penggunaan entertainment di dalam komunitas gereja hanya meninggalkan anak remaja dan anak muda ke dalam kondisi “ketidakpuasan, kehampaan dan kesendirian.” Jiwa mereka tetap kosong. Gereja seolah hanya berkompetisi dengan dunia melalui penggunaan entertainment.

Usaha untuk merasionalisasi penggunaan entertainment dengan membuatnya hanya sebagai jalan masuk untuk menarik dan membawa anak muda masuk ke dalam pintu gereja, juga ditolak oleh Brain. Baginya “you keep them by how you attract them.” Sekali kita menggunakan entertainment sebagai sarana jalan masuk penginjilan maka seterusnya hal ini akan menjadi metode untuk terus menjaga mereka tetap ada di dalam gereja.

Sebaliknya, riset yang dituangkan di dalam buku Sticky Faith oleh tim Fuller Youth Institute, yang dipimpin oleh Kara Powell menunjukkan bahwa anak-anak muda yang telah melewati masa High School, berpendapat bahwa yang paling mereka inginkan dalam pelayanan ketika mereka di masa High School dulu, antara lain: 1) Waktu untuk obrolan yang dalam; 2) Mission trips; 3) Proyek pelayanan sosial; 4) akuntabilitas; 5) pertemuan one-on-one dengan pemimpin kaum muda. Apa yang tidak masuk dalam daftar ini adalah: video games, Pujian penyembahan yang wah dan sarana entertainment lainnya.

Brian sebagai seorang Reformed merasa bahwa pelayanan kaum muda membutuhkan sebuah model yang lain. Model yang ia sebuah sebagai consistently Reformed, yaitu sebuah model yang SETIA dengan tradisi Reformed (yang baginya adalah model yang paling alkitabiah) yang menjadikan “sarana kasih karunia” (means of grace) sebagai alat yang melaluinya Allah menyelamatkan dan menguduskan umatNya, yaitu pelayanan Firman, Doa, Sakramen (Baptisan dan Perjamuan Kudus), pelayanan Diakonia dan komunitas orang percaya.

Ia menggaris bawahi bahwa “faithfulness to God is always more important than success in ministry.” Baginya, kesetiaan kepada Tuhan di dalam pelayanan berarti me-maintain-ing sebuah pendekatan secara konsisten di dalam teori dan praktek. Teori dan praktek pendekatan itu harus berasal dan diafirmasi oleh Alkitab. Kesetiaan ini lebih penting dari pada kesuksesan di dalam pelayanan.

Model ini sangat tajam mengkritik pendekatan modern terhadap pelayanan kaum muda. Brian mencoba mengembalikan pelayanan kaum muda kepada makna yang dalam yang berakar pada teks Alkitab dan doktrin gereja serta tradisinya. Namun, penekanan pada konteks tampaknya agak lemah.

Sejumlah pertanyaan muncul:

Berkaitan dengan isu kesetiaan dan kesuksesan, menurut saya, kesetiaan kepada Tuhan memang tidak berbanding lurus dengan kesuksesan yang kasat mata dalam pelayanan (misalnya: jumlah kehadiran yang semakin bertambah). Namun, bukankah terkadang kondisi “tidak sukses” secara kasat mata (misalnya: hilangnya anak muda dari gereja) mengimplikasikan adanya kesalahan-kesalahan di dalam pelayanan, yang mungkin merupakan sebuah bentuk ketidaksetiaan kepada Tuhan?

Berkaitan dengan isu entertainment, apakah itu artinya anak muda dalam pelayanan kaum muda tidak boleh “having fun”? Jika gereja memfasilitasi sarana yang baik bagi kaum muda untuk menyalurkan energi yang sangat besar di masa muda mereka, bukankah hal ini merupakan sesuatu yang baik? Bukankah hidup ini (termasuk hidup orang muda) adalah sebuah tarian yang seimbang  antara “makna yang dalam” dan “permukaan yang dangkal”?

Rabi Yahudi dalam Talmud pernah berkata: “Everyone must give an account before God of all good things one saw in life and did not enjoy.”

Enjoyment is not only permitted, it is commanded; it is not only an opportunity, it is a divine imperative.

Secara garis besar, model ini perlu diperhitungkan dan memberikan masukan yang berharga bagi pelayanan kaum muda sehingga pelayanan kaum muda tidak terjebak ke dalam sebuah pelayanan yang “mere entertaining yet purposeless.”

 

 

Advertisements

Salah satu pergumulan utama gereja-gereja di dunia di era Post-Christian ini adalah menurunnya jumlah anak muda di dalam gereja secara drastis. Banyak gereja kebingungan untuk menemukan cara terbaik di dalam menghadapi pergumulan ini, bahkan beberapa pihak mulai menjadi pesimis dengan pelayanan kaum muda di dalam gereja. Pertanyaan besar yang muncul adalah:

Masihkah ada harapan bagi pelayanan kaum muda di dalam gereja?

Apakah gereja masih dapat terlihat “cantik” di mata generasi muda masa kini?

Sebelum kita terlalu cepat menjawab pertanyaan ini, mari kita terlebih dahulu sama-sama bergumul. Seperti yang Paulus katakan di dalam Roma 8:22-23 (NLT):

(22) For we know that all creation has been groaning as in the pains of childbirth right up to the present time. (23) And we believers also groan, even though we have the Holy Spirit within us as a foretaste of future glory, for we long for our bodies to be released from sin and suffering. We, too, wait with eager hope for the day when God will give us our full rights as his adopted children, including the new bodies he has promised us.

Pelayanan kaum muda adalah “a ministry in between,” di mana kita akan terus bergumul dan bergumul sampai akhirnya. Tuhan mau kita bergumul.

Youth ministry in the 21st century

Dalam pergumulan itu, buku Youth Ministry in the 21st Century: Five Views (2015), Chap Clark (Ed.) tampaknya dapat menjadi salah satu buku wajib yang harus dibaca oleh pemimpin-pemimpin pelayanan Kaum Muda masa kini.

 

Goal dari buku ini adalah:
“Our desire is to offer five relatively unique voices and perspectives on the basics and foundation of what youth ministry should be about now and in the coming decades….. Our intent is to give you a clear and compelling apologetic for each of our views and to defend their basic tenets even as we attempt to respond to and at times “correct” one another.”

Kita mulai dari model pelayanan kaum muda yang pertama, yang diusulkan oleh Greg Stier: The Gospel Advancing View of Youth Ministry
Model pertama yang diusulkan oleh Greg Stier adalah model yang menjadikan Injil dan penginjilan sebagai penggerak dan pusat dari pelayanan kaum muda.
Ia menghubungkan antara praktek penginjilan dengan kemuridan bahwa penginjilan akan mempercepat proses pemuridan. Ia mengatakan: “when we lead the way for evangelism personally and equip teenegers to do the same, it accelerates the descipleship process faster than just about anything.”

Tujuan utamanya bukanlah program penginjilan itu sendiri, melainkan membina remaja untuk hidup dan membagikan Injil di dalam perkataan dan tindakan mereka secara disengaja.

Greg tampaknya sadar bahwa dalam pelayanan kaum muda, pemimpin kaum muda perlu menghadirkan sebuah kerangka untuk menantang anak muda untuk mendapatkan pengalaman yang dapat membuat mereka bergantung kepada Tuhan.

Greg memahami Amanat Agung atau apa yang ia sebut sebagai “the Cause” demikian:
Ketika Yesus berkata kepada murid-muridnya “pergilah dan jadikanlah murid..” maka Yesus sedang menantang mereka untuk membawa Injil ke tempat yang”wide.” Lalu ketika Yesus berkata agar para murid “mentaati semua yang ia telah katakan” maka ia sedang mengarahkan murid untuk “go deep.”

Filosofi ini akan membawa kaum muda untuk memiliki relasi yang lebih dalam dengan Tuhan ketika mereka membawa Kabar Baik ke tempat yang lebih luas kepada yang terhilang. “the deep feeds the wide, and the wide feeds the deep.”

Maka semua bentuk pelatihan di dalam pelayanan Kaum Muda harus diarahkan untuk pergi ke tempat yang lebih luas dan misi yang membawa mereka ke tempat yang lebih luas harus membawa mereka untuk semakin dalam di dalam relasi mereka dengan Tuhan.

Hal yang menarik dari model ini adalah: Greg mencoba meruntuhkan pandangan tentang pelayanan Kaum Muda yang hanya berpusat pada “Kegiatan” dan “Pertemuan.” Ia mengkritik pelayanan Kaum Muda di abad modern demikian:
“the modern youth ministry model has largely abandoned the focus of Jesus and delivers, instead, a series of competing programs. We have exchanged mission for meetings. We have separated evangelism and discipleship. We have turned outreach into the program instead of a lifestyle.”

Model yang diusulkan Greg dimaksudkan untuk menghidupkan kembali semangat pemuridan seperti yang dilakukan Yesus kepada murid-murid-Nya yang tercatat di dalam Injil, yaitu pemuridan yang digerakkan oleh misi penginjilan sebagai gaya hidup.
“It’s a messy approach that embraces the bad, the broken, and the bullied. But it’s an approach that truly transforms teenagers not into “good church kids” but into world changers.”

Apakah model ini dapat menjadi solusi di dalam konteks pelayanan di gereja anda? Anda yang menilainya…

Continue to the next blog post….