Archive for the ‘Religion’ Category

Christmas….

Sebagian orang mengidentikkan Christmas dengan holiday season, late night shopping, hadiah, makanan yang berlimpah dan hal-hal lain yang dapat membuat kita tertawa dan bergembira.

Sebagian lagi mengidentikkan Christmas dengan serangkaian acara yang harus mereka hadiri di gereja. Acara-acara yang dipersiapkan beberapa bulan sebelumnya. Acara-acara yang menguras tenaga, pikiran dan tentunya sejumlah uang demi suksesnya acara itu. Acara-acara yang dibuat dengan tujuan untuk membawa orang-orang yang hadir mengerti makna Christmas dan pada akhirnya membuat mereka hidup lebih sungguh-sungguh di dalam Tuhan.

Semuanya itu tentu tidak salah, dan setiap orang berhak untuk mengidentikkan Christmas dengan kegiatan apapun yang biasa ia lakukan setiap kali Christmas tiba. Lagipula Christmas itu untuk semua orang, jadi semua orang dapat menikmati Christmas sesuai dengan konteks mereka.

Konteks…

Ya kita tidak dapat hidup di luar konteks. Jika ada orang yang menginginkan kehidupan yang demikian, maka tampaknya orang itu bosan hidup di dunia ini.

Konteks…

Jika ada kata yang dapat menggambarkan konteks bagaimana kita merayakan Christmas, maka kata itu pasti: Busyness. Kesibukan yang berujung kepada kelelahan.

Konteks…

Mengapa kita tidak mulai dengan pertanyaan, seperti apakah konteks the first Christmas itu dirayakan? Wahh… Jika ada orang yang mencoba menjawab pertanyaan ini, jawabannya pastilah sebuah interpretasi. Siapa yang tahu seperti apakah sebenarnya dan wujudnya Christmas yang pertama itu.

Namun, usaha untuk menggambarkan seperti apakah Christmas pertama itu telah dilakukan banyak tokoh disepanjang sejarah. Salah satunya adalah dalam bentuk Hymne Natal yang selalu dinyanyikan di saat malam Natal, yaitu Silent Night atau Malam Kudus.

Silent Night adalah sebuah Christmas carol yang berasal dari Jerman. Judul aslinya adalah “Stille Nacht.” Sebenarnya lagu ini tidak tepat diterjemahkan sebagai “Silent” apalagi sebagai “kudus” dalam terjemahan Indonesia. Terjemahan yang lebih tepat adalah “Still” yang dipahami sebagai:

“the elimination of not only noise but movement, the absence of all sensory evidence of others who want to talk to us or attract our attention or engage us in some activity.”

Stillness yang tentu dapat diidentikkan dengan kata “Rest.”

Umat Tuhan dari jaman ke jaman sebelum Yesus lahir hidup dalam kondisi yang “Restless”. Mereka tertekan, menderita dan miskin. Mereka hidup terjajah. Mereka mengharapkan dan merindukan sebuah kelepasan dari kondisi mereka yang “restless”. Seorang utusan pada jaman Herodes Agung menjadi Raja di Israel memberikan laporan kepada Kaisar di Roma:

A high level delegation went to Rome claiming of Herod’s tyranny that “he had reduced the entire people to helpless poverty” (Ant. 17.3-7)

Kehadiran Mesias dinantikan dan diharapkan dapat membawa mereka kepada kelepasan, ketenangan dan “rest” yang dapat memberikan mereka “Comfort.” Itulah sebabnya Yesus pernah berkata: “Come to me, all you who are weary and burdened, and I will give you rest” (Matthew 11:28). Christmas seharusnya diidentikkan dengan “Stillness, Rest and Comfort.”

Christmas dalam konteks dunia kita kini tampaknya bukan membuat kita dapat “rest” tetapi sebaliknya “restless.” Dan bukan hanya saat Christmas, manusia modern hidup sehari-hari di dalam kesibukan yang tiada henti. Kesibukan untuk mencari kepuasan dan happiness dalam hidup. Kondisi ini sepertinya tidak akan berhenti. St. Augustine menyadari bahwa di dalam diri manusia terdapat “love” dan “desire to love,” itulah sebabnya ia menulis dalam “the confession” demikian:

“Love longs for some object to be, loves to rest itself in the thing beloved. But in things there is no enduring place to lie. They don’t last. They run away.”

Hidup manusia akan terus menurus berada di dalam lingkaran “restless” jika salah dalam meletakkan cintanya dan keinginannya untuk mencintai, sebab:

“You made us for Yourself, and our heart is restless until it finds its place of rest in You” – St. Augustine

Christmas, Immanuel, God with Us seharusnya menjadi “perayaan” akan “Stillness and Rest.” Sebab kita dapat puas dan mengalami apa yang disebut “rest” yang membawa kepada “comfort” jika kita meletakkan cinta, hati dan pengharapan kita di dalam Kristus. Sehingga sama seperti Daud kita dapat berkata: “THE LORD is my shepherd; I have that all I need” (Psalm 23:1).

God with Us yang telah menjalani kehidupan sebagai Manusia di dunia dengan berbagai bentuk kehidupan yang sederhana dan berbagai bentuk penderitaan itu memahami betapa restless-nya kita dan betapa kita lapar akan “stillness.” Dia memahami bahwa kita membutuhkan “the true and lasting rest” yang hanya ada di dalam Dia.

Stillness dan Rest itu tidak dapat kita temukan di dalam liburan, pesta, makanan berlimpah, hadiah, drama Natal dan musik Natal yang megah, dekorasi Natal yang indah, atau bahkan khotbah Natal yang berapi-api dan mengharukan (termasuk tulisan tentang refleksi Christmas yang saya buat ini).

Tetapi apa artinya Christmas tanpa semuanya itu? Christmas tetap akan menjadi Christmas tanpa semuanya itu.

Konteks…

Sepertinya Stillness dan Rest bukanlah konteks hidup kita masa kini dan di dunia ini. Tetapi kita dapat memintanya kepada Bapa. Dalam kosakata Jerman, bentuk kata kerja dari “Stille” berarti:

“to nurse a baby, to stop up its mouth, to relax its frantic grasping, with the comfort and warmth and nourishment of the nipple.”

Maka mari di dalam nuansa Christmas ini kita berdoa kepada Bapa:

“Still my mouth, my hands, my schedule of activities. Make me like a newborn child – like your own Son on that first Christmas morning. I am incapable of stilling myself. Still me. Still my heart and the innermost of my brain. Comfort me with your presence. Let me rest in you. Make me know that I am yours.”

– God with Us –

What is Postmodernism? Obviously, no single post can describe it. But one way to think about it is to recognize that we no longer live in a time or culture where there is a single agree-upon version of, or story about, reality. Instead, there are lots of competing stories about what makes the world go round.” [read full article here]

Tulisan di atas adalah cuplikan artikel yang ditulis oleh David Lose, the Marbury E. Anderson Chair in Biblical Preaching at Luther Seminary [read his blog]. Dalam artikel itu ia menyoroti issue Gereja dan Postmodernism. Menurut saya ada 2 issue utama yang ia soroti yang memang menjadi karakteristik utama dari Postmodern Culture:

  • Authenticity

Maksudnya adalah: generasi ini (generasi yang dekat dengan era postmodern adalah generasi Y yang lahir 1984 s/d akhir 1990), ingin menjadi generasi yang “apa adanya”. Generasi yang berani memilih dan mengikuti apa yang mereka sukai. Dalam kaitannya dengan kehidupan gereja,  mereka tidak akan pergi ke gereja karena orang tua mereka melakukannya. Mereka akan memilih, mencurahkan energi dan uang mereka kepada “sesuatu” (Narrative & Activity) yang paling membentuk hidup mereka. Mereka tidak suka dengan paksaan atau keharusan, mereka ingin memilih apa yang mereka sukai. Mereka ingin menjadi apa adanya mereka. Jika di dalam gereja mereka tidak menemukan Komunitas yang dapat / layak mereka cintai karena membentuk mereka maka mereka akan mencari komunitas lain di luar gereja. Komunitas yang adalah “home” bagi mereka. Komunitas yang authentic, bukan yang penuh dengan “topeng”.

  • Experience

Maksudnya adalah generasi ini mencari yang namanya “pengalaman”. Jika mereka ingin pergi ke gereja alasannya bukanlah hanya karena “itulah yang seharusnya mereka lakukan” sebab mereka lahir di tengah-tengah keluarga kristen, tetapi karena mereka ingin mendapatkan sebuah “experience”, yaitu pengalaman bersama dengan Allah, pengalaman yang dapat mentransform mereka. Jika experience yang demikian tidak mereka temui, maka mereka akan mencari experience yang lain. Kita tahu bahwa pada hari ini, ada banyak pilihan lain yang dapat kita lakukan yang akan menyita waktu dan perhatian kita pada hari minggu. Tetapi sebagai gereja terkadang kita terlihat seperti hidup di tahun 50-an, 60-an, 70-an atau 80-an, dimana seseorang akan tetap pergi ke gereja hanya karena “itulah yang seharusnya kita lakukan” sebab tidak ada pilihan lain. Generasi ini akan bertanya: “Mengapa harus? Apa alasannya?”

Lalu di sisi yang lain kita tidak boleh lupa bahwa hari ini kita hidup dengan kompetisi, tidak hanya kompetisi dengan agama lain, tetapi juga dengan aktivitas lain, seperti quality time dengan keluarga di akhir pekan setelah menjalani weekdays yang hectic, serta pilihan hiburan-hiburan yang lain yang juga menawarkan experience.

Apakah komunitas kita menawarkan “experience” yang dapat memuaskan dahaga generasi ini akan Allah? Atau jangan-jangan komunitas gereja kita hanya menawarkan aktivitas-aktivitas berulang tanpa meaning dan sebuah tradisi ritual yang diulang-ulang setiap minggunya yang berpusat pada “pemikiran-pemikiran” bukan pada “experience” yang mengubahkan?

Lepas dari fakta bahwa memang tidak ada gereja yang sempurna (setiap gereja atau lebih tepatnya orang-orang yang ada di dalam gereja tidak dapat kebal untuk memiliki dan memakai “topeng”nya masing-masing, termasuk saya…) dan lepas dari apa yang saya sebut disiplin rohani (sebab bagi saya bersekutu di gereja adalah salah satu dari disiplin rohani yang harus dikerjakan seorang percaya jika ia ingin mengalami Allah di dalam hidupnya), saya pikir 2 karakteristik di atas juga perlu dipertimbangkan jika kita ingin menyentuh dan memenangkan generasi bagi Kristus.

Berkaitan dengan issue ini juga, dalam video di bawah ini Pastor Jay Gamelin bertanya apakah kita siap untuk melayani generasi ini?

 

What do you think about this issue?

 

“I believe that the greatest trick of devil is not to get us into some sort of evil but rather have us wasting time. this is why the devil tries so hard to get Christian to be religious. If he can sink a man’s mind into habit, he will prevent his heart from enganging God.”

Kalimat itulah yang dituliskan oleh Donald Miller dalam Blue Like Jazz Chapter 2 “Problem: What I learned on Televison”. Ada

Trik terbesar dari Iblis untuk menjatuhkan orang-orang percaya adalah dengan membuat kita membuang-buang waktu, membuat orang Kristen terlihat religius dengan habit dan tradisi rutin kekristenan. Namun, sesungguhnya hanya berakhir pada habit dan tradisi, tanpa hati yang melekat lagi pada Allah. Secara implisit, Don ingin menjelaskan bahwa apa yang disebut “the true spirituality” adalah “hati yang melekat pada Allah.”

Hal ini membawa saya berpikir sejenak:

  • Apakah keterlibatan saya dalam kegiatan-kegiatan gerejawi  benar-benar membuat saya dekat dengan Allah atau justru hanya membuat saya terlihat sibuk dan kelelahan lalu memunculkan kesan bahwa saya adalah “orang yang religius”?
  • Apakah kebiasaan-kebiasaan doa, pergi ke gereja setiap Minggu (at least 3 kali dalam seminggu), memberi perpuluhan dan persembahan benar-benar membuat saya dekat dengan Allah atau justru hanya membuat saya “terlihat religius”?
  • Apakah kebiasaan saya bernyanyi dengan keras, berdoa dengan melipat tangan dengan genggaman yang erat, dan menyembah Tuhan dalam ibadah benar-benar membuat saya semakin melekat dengan Allah, atau justru semua itu hanyalah tradisi dan habit yang saya ikuti sejak dari masa kecil dan terus berlanjut sampai dewasa, yang kemudian membuat saya “terlihat religius” di depan orang percaya yang lain?
  • Lebih tajam lagi, apakah khotbah-khotbah atau pengajaran-pengajaran Firman Tuhan yang saya lakukan setiap minggunya (bahkan tiap hari di sekolah) semakin membuat saya melekat dengan Tuhan atau semuanya itu hanya berakhir pada satu kata yaitu “routine” pekerjaan yang saya lakukan sebagai seorang hamba Tuhan?

Saya berpikir…. Jika saya menemukan hidup saya demikian bahwa semua itu tidak membuat saya melekat pada Allah, apakah itu artinya saya harus menghentikan semua habit, tradisi dan rutinitas itu?

Jawabannya IYA dan TIDAK…..

Sebab sebenarnya rutinitas, habit dan tradisi yang menunjuk kepada kata “disiplin rohani”  juga dapat berguna bagi spiritualitas. Henri Nouwen mengatakan bahwa: “In the spiritual life, the word ‘discipline’ means the effort to create some space in which God can act.”

Sehingga adalah salah jika sama sekali menolak rutinitas, habit dan tradisi. Karena ternyata Tuhan juga dapat bekerja di dalamnya dan sebagai sarana dimana kita bisa merasakan pengalaman dekat dan melekat dengan-Nya.

Namun, walaupun demikian rasanya kita perlu sedikit mengevaluasi diri kita dan mengarahkan kepada arah yang benar:

Apakah semua rutinitas, habit dan tradisi itu kita lakukan hanya untuk membuat kita memiliki “KESIBUKAN” rohani, atau memang kita ingin melakukannya untuk sebuah “DISIPLIN” rohani. Yang pertama membawa kita kepada “KELELAHAN” secara rohani dan “KEHAMPAAN” (karena sebenarnya kita tidak punya relasi yang dalam dengan Allah, meskipun kita merasa atau  terlihat religious di depan orang lain). Yang kedua membawa hidup kita kepada “KEPUASAN” secara rohani, karena kita melekat dengan Allah dan kita akan melihat Allah bekerja di dalam dan melalui kita.

Apakah yang sedang anda lakukan hari-hari ini adalah sebuah “KESIBUKAN” rohani atau sebuah “DISIPLIN” rohani?

Selanjutnya dalam Chapter ini, Donald Miller menjelaskan hubungan antara Loving, Knowing dan Serving GOD:

“If you don’t love somebody, it gets annoying when they tell you what to do or what to feel. when you love them you get pleasure from their pleasure, and it makes it easy to serve. I didn’t love God because I didn’t know God.”

Kita tidak mungkin bisa melayani Tuhan dengan sukacita jika kita tidak mencintai Dia. Dan kita tidak dapat mencintai Dia, jika kita tidak mengenal Dia.

Itu artinya mengenal Allah adalah dasar bagi kasih kepada Allah. Kasih kepada adalah dasar bagi pelayanan untuk Allah.

Adalah sebuah kesalahan jika kita melayani Allah dengan tujuan bahwa hal ini akan membuat kita lebih mengasihi Dia dan mengenal Dia. Karena pelayanan itu harusnya keluar dari pengenalan dan rasa cinta kepada Allah. Sehingga kita dapat berkata kepada Allah yang kita layani: “Your Pleasure is My Pleasure.”

I’ve known God because He has revealed Himself to me. The more I know Him, the more I love Him. The more I love Him, the more I really want to serve Him.

Do you really serve Him with your pleasure…??? If not, maybe there’s something wrong with your love.

Do you love Him deeper and deeper…??? If not, maybe there’s something wrong with your knowledge about God.

Absennya pengenalan dan kasih kepada Allah dalam rutinitas, habit dan tradisi agamawi adalah Trik Iblis yang menghancurkan kehidupan orang percaya. Yang akan membawa mereka kepada “wasting time, being religious without spiritual, busyness without direction and meaning, burn out, boring and emptiness.”

“I never liked jazz music because jazz music doesn’t resolve. but I was outside the Bagdad Theater in Portland one night when I saw a man playing the saxophone. I stood there for fifteen minutes, and he never opened his eyes. After that I liked jazz music.”

“Sometimes you have to watch somebody love something before you can love it yourself. It is as if they are showing you the way.”

I used to not like God because God didn’t resolve. But that was before any of this happened…

Kalimat-kalimat di atas adalah catatan awal yang ditulis oleh Donald Miller (follow his twitter and blog) dalam buku “Blue Like Jazz: Nonreligious Thoughts on Christian Spirituality” yang ia tulis. Buku yang berisi perjalanan spiritual Don sebagai seorang mahasiswa muda Kristen di Reed College dan  yang hidup di tengah-tengah Post-Christian era. Tulisan yang berisi pengakuan yang jujur seorang muda Kristen yang mengalami dilema-dilema iman dalam hidupnya.

Buku ini adalah sebuah buku “kesaksian” hidup seseorang, bukan buku yang ingin menjelaskan “doktrin-doktrin”  kristen. Seperti musik Jazz yang adalah genre musik yang ditemukan oleh generasi pertama yang bebas dari “Slavery” di Amerika. Sebuah genre musik yang merupakan ekspresi dari kebebasan, yang keluar dari jiwa dan ketulusan. Kekristenan yang seperti inilah yang ingin digambarkan oleh Don dalam bukunya. Keristenan yang lahir dari jiwa dan ketulusan, tanpa topeng dan kemunafikan.

Berkaitan dengan kejujurannya ini, tidak sedikit kritik yang ditujukan kepada Don. Beberapa kritik yang secara konsisten datang dari sesama orang kristen adalah:“Why do you do that book criticizing the church? Why would you go airing our dirty laundry for the public to see?” 

Saya baru saja menyelesaikan Bab I, dan ada bbeberapa  kejujuran yang ditulis oleh Don dalam Bab ini:

  • Bagaimana ia mengalami kesulitan saat ia mencoba untuk memikirkan dan memahami Allah yang digambarkan sebagai “Bapa” di dalam Alkitab. Don menulis: “Why would God want to call Himself Father when so many fathers abandon their children? Saya tidak ingin megomentari kalimat ini secara teologis, tetapi saya sangat menghargai kejujuran yang Don tuliskan. Pertanyaan yang muncul karena pengalaman hidup yang pahit yang ia alami bersama ayahnya. Dan bukankah banyak di antara  kita  juga terkadang mengalami hal ini, di saat kita sulit menerima dan mempertanyakan sebuah kebenaran di dalam Alkitab karena kita pernah mengalami sebuah kepahitan. (This is what I do, questioning and questioning through my spiritual journey with God. Though sometimes it makes me uncomfortable and doubt, but I know He wouldn’t leave me alone in this journey)
  • Bagaimana ia terjebak di dalam dosa “pornography” untuk pertama kalinya pada waktu ia berusia 10 tahun. Perasaan deg-degan yang luar biasa yang ia bawa sampai di tempat tidurnya di malam hari, serta bagaimana gambar itu seperti sebuah movie slides yang bermain di dalam kepalanya (Hi boys…. just be honest.. We did it, didn’t we..???)
  • Bagaimana ia mengungkapkan persepsinya tentang Allah dan pengalaman hidupnya. Ia sempat berpikir bahwa Allah itu seperti sebuah “Slot-Machine” yang akan menyediakan penyembuhan dari rasa bersalah dan pengharapan yang membuat hidupnya diarahkan kepada sebuah tujuan. Namun, implikasinya adalah  “jika sesuatu yang baik terjadi dalam hidupnya, maka ia berpikir itu dari Allah. Jika tidak, maka hal itu adalah karena dosa atau kesalahan yang ia lakukan, maka ia akan bersujud di dalam doa untuk menyembuhkan rasa bersalah itu dan mendapatkan ketenangan kembali. (Hi churchman… just be honest… We do it every week in church building when we do the confession of sin ritual also, right…???)

Tentu masih banyak kejujuran dan ketulusan yang lain yang ia tuliskan di dalam bukunya. I hope I can share it in my next posting…

Buku ini juga sudah difilmkan dan film yang mengambil judul yang sama “Blue Like Jazz” ini akan direlease tanggal 13 April ini. I’m so excited to watch it. Here’s the trailer of that movie:

Seorang “young online evangelist”, Jefferson Bethke menyampaikan sebuah pesan bahwa Yesus tidak sama dengan “religion” melalui sebuah Video Youtube yang telah ditonton 15  juta orang dan mendapatkan ratusan komentar. Video itu berjudul “Why I hate religion, but love Jesus” di upload pada tanggal 10 Januari yang lalu. Dan video ini menjadi populer dan sekaligus kontroversi (260,880 likes, 38,355 dislikes).

Berikut ini adalah beberapa kalimat yang diucapkan Bethke dalam videonya:

“What if I told you, Jesus came to abolish religion? If religion is so great, why has it started so many wars? Why does it build huge churches, but fails to feed the poor? 

Religion preaches grace, but another thing they practice. Can’t fix their problems, so they try to mask it. Not realizing that’s just like sprayin perfume on a casket.

If grace is water, then the church should be an ocean, cuz it’s not a museum for good people, it’s a hospital for the broken. I no longer have to hide my failures I dont have to hide my sin, because my salvation doesn’t  depend on me, it depends on him. Because when I was Gods enemy and certainly not a fan, God looked down on me and said, “I want that man!” Which is so different from religious people, and why Jesus called em fools. Don’t you see he’s so much better than just following some rules? Now let me clarify, I love the church, I love the bible, and I believe in sin but my question, is if Jesus were here today, would your church let Him in? Remember He was called a drunkard and a glutton by “religious men.”

Now back to the point, one thing is vital to mention. How Jesus and religion are on opposite spectrums. See one’s the work of God, but one’s a man made invention. See one is the cure, but the other’s the infection. See because religion says do, Jesus says done. Religion says slave, Jesus says son. Religion puts you in bondage, while Jesus sets you free. Religion makes you blind, but Jesus makes you see. And that’s why religion and Jesus are two different clans.

Religion is man searching for God, Christianity is God searching for man. Which is why salvation is freely mine, and forgiveness is my own. Not based on my merits but Jesus’s obedience alone [baca selengkapnya….]

Pertama kali saya melihat video ini, saya tidak langsung mengkritik apa yang Bethke katakan, tetapi saya mencoba menjadikan video ini sebagai sebuah refleksi dan bertanya “Inikah kekristenan yang saya hidupi?” Bukankah saya yang sedang ia bicarakan JIKA:

  • …… saya mengkhotbahkan tentang kasih dan anugerah, tetapi saya tidak mau mengasihi orang yang tidak “lovable”, yang tidak berbuat baik kepada saya, yang justru mengkritik dan sangat “annoying”.
  • …… saya memakai topeng saat saya melayani di gereja pada hari minggu, dan melepaskan topeng itu saat saya menjalani hidup saya di luar gereja.
  • …… saya hanya mau menerima, bersahabat dan bersukacita atas orang-orang yang multi-talented dan dipakai luar biasa dalam pelayanan di gereja, tetapi melupakan dan meng-ignore orang-orang yang tergolong sebagai “The broken people” yang kurang bertalenta, sederhana dan tidak “bersuara” di dalam gereja.

Video ini memang mendapatkan banyak kritikan, salah satunya dalam bentuk Video yang berjudul “Jesus Loves Religion: A Christian Response

Kevin De Young juga memberikan kritiknya: “I’ve already said that I don’t think “religion” is the right term for what Bethke is talking about. But he has done a great job here of describing “false religion”. Jesus blasted the Pharisees for being “whitewashed tombs,” for looking beautiful on the outside and full of dead people’s bones on the inside, for appearing righteous but being full of hypocrisy and lawlessness (Matt. 23:27-28). It is possible for churches and churchgoers to have the reputation for being alive, but actually be dead (Rev. 3:1). Some churches claim to love grace, but all they give you is legalism. Bethke is hitting on a real problem.” [baca selengkapnya…]

De Young mengkritisi istilah “religion” yang digunakan oleh Bethke, karena Bethke mengidentikkan kata “religion” dengan “self-righteousness”. Dalam blognya De Young berkata bahwa jika religion yang dimaksud demikian, maka ia juga setuju bahwa”Jesus hates religion”. Tetapi persoalannya, Alkitab tidak menggunakan kata religion demikian. De Young mengatakan bahwa “religion is characterized by doctrine, commands, rituals, and structure” berdasarkan Matt. 5:17, Matt. 16:18, Matt. 18:15-20, Matt. 26:26-28, Matt. 28:19-20, John 3:16-18; 8:24.

Berkaitan dengan kritik De Young,  saya ingin mengatakan bahwa saya menghargai Kekristenan sebagai Religion atau apa yang dapat saya simpulkan sebagai “System of Belief” (seperti yang dikatakan De Young), tetapi jika kekristenan hanya sebagai “System of Belief” maka saya tidak sependapat. Bagi saya Kekristenan adalah “the way of life”.

De Young sendiri mengatakan bahwa kata Alkitab English Standard Version menggunakan istilah “religion” sebanyak 5 kali, dimana 4 kali di antaranya berbicara tentang “Judaism & bad Religion that is self-made”, dan hanya satu kali berbicara tentang religion yang memberi makan para janda, anak yatim dan menjaga kekudusan hidup (James 1:27) {bukankah yang terakhir ini berbicara tentang “the way of life”….????}.

Hhmmmmmmmm……..

Lepas dari berbagai pro dan kontra, pada waktu saya menulis artikel ini, saya berpikir dan bertanya:

Bukankah Kekristenan tidak kebal dan dapat “jatuh” kepada apa yang dulu pernah terjadi pada Judaism?

Bukankah Kekristenan yang tidak seimbang dan lebih condong kepada “system of belief” (yang hanya dapat berkata, tetapi tidak dapat melakukannya), politik, institusi, ritual, dan doktrin akan membuat Kekristenan menjadi sebuah “religion yang kosong”?

Mungkin saya (atau jika saudara mau: “KITA”) perlu berkaca sambil bertanya “Kekristenan yang seperti apakah yang saya (/kita) sedang hidupi….???

Thanks for Jefferson Bethke (follow him on twitter), yang sudah menjadi contoh dengan menghidupi kekristenan yang  “Humble” pada waktu menerima kritikan De Young (De Young menyebut Bethke sebagai “a humble, sincere, a real love for God and the gospel.”)

“My prayer is my generation would represent Christ faithfully and not swing to the other spectrum…”  Inilah motivasi dan doa dari Bethke pada waktu ia membuat video itu. And that’s my prayer also.