Archive for the ‘Spirituality’ Category

I hope that there was a place that I could explore those thoughts and those contradictions in an intelligent way that’s still within the christian faith…. It’s pilgrimage. We are still on the road. It’s never going to end – Martin Scorsese

mv5bmjy3otk0nja2nv5bml5banbnxkftztgwntg3mjc2mdi-_v1_sy1000_cr006401000_al_

Pernyataan ini dikatakan oleh Martin Scorsese dalam wawancaranya berkaitan dengan Film “Silence” yang disutradainya. Film yang dipublish di bulan Desember 2016 yang lalu, namun baru tayang di Bioskop Indonesia pada bulan Maret 2017 ini. Setelah menonton ini, saya susah move on dari film ini. Saya terus memikirkannya dan mengingat sejumlah unanswered problems dalam film ini. So, here’s my muse about this movie… (better you watch this movie with friends, discuss with them, then come to read this post).

Film ini diangkat dari sebuah Novel karangan Novelist Jepang, Shusaku Endo, tentang seorang Misionaris Jesuit (salah satu ordo dalam Gereja Katolik) di Abad ke-17, Rodriguez, yang melakukan perjalanan ke Jepang untuk mencari Mentornya yang hilang dan diduga telah meninggalkan imannya, Ferreira. Pencarian ini tidaklah mudah, sebab pada waktu itu Jepang memasuki sebuah periode isolasi dan penganiayaan terhadap orang Kristen (dalam catatan sejarah, dari tahun 1614-1640 diperkirakan 5000-6000 orang Kristen dibunuh di Jepang), karena Jepang menanggap bahwa Kekristenan adalah senjata dari penjajahan bangsa Barat, khususnya Portugis pada waktu itu. Otoritas Jepang memaksa orang Kristen Jepang menyangkal imannya, karena bagi mereka menjadi Kristen merupakan jalan menuju kehancuran budaya, kepercayaan dan identitas Jepang. Ketika identitas ke-Jepang-an mereka hancur, maka sama saja dengan memusnahkan Jepang. Itulah sebabnya, Otoritas Jepang dengan kekejamannya ingin menghapuskan Kekristenan yang berkembang cukup subur pada waktu itu. Mereka membunuh dengan sadis bagi orang-orang Kristen yang tidak mau menyangkal imannya (dengan cara menginjak gambar Yesus). Mereka meneteskan air panas secara perlahan, membakar hidup-hidup, menyalibkan di pantai sampai mati, menghanyutkan orang Kristen hidup-hidup di laut, memancung kepala orang Kristen, bahkan menggantung orang Kristen secara terbalik.

Akan tetapi, ketika mereka ingin membuat para Misionaris menyangkal imannya, mereka tidak langsung membunuh mereka ketika mereka menolak menyangkal. Mereka justru menghadirkan penderitaan yang paling menyakitkan, yaitu dengan membuat mereka menyaksikan penderitaan orang-orang Kristen, baik yang menyangkal maupun yang tidak menyangkal imannya. Mereka membiarkan Misionaris yang gagal ini tetap hidup dan menghidupi kebudayaan dan kepercayaan Jepang. Mereka memberikan identitas Jepang kepada para Misionaris tersebut. Ferriera dan Rodriguez, kedua Pastur yang gagal ini menjadi orang Jepang, menikahi wanita Jepang dan hidup dengan tradisi Jepang, bahkan sampai mereka mati. Dengan begitu, Otoritas Jepang berpikir mereka dapat menghapus Kekristenan di Jepang.

Film ini bukanlah sebuah film “easy-watching.” Di sepanjang film ini, Scorsese tidak memberikan jawaban dari problem yang ia munculkan. Namun, hal inilah yang menjadikan film ini brilliant, karena problem yang tanpa jawaban ini memberikan kesan Silence yang dalam. Ketika tokoh-tokoh dalam film ini bertanya-tanya kepada Tuhan, namun seolah Tuhan tetap Silence, maka Scorsese menyempurnakannya dengan menghadirkan kesan Silence saat kita menginginkan jawaban dari problem yang ia munculkan. Scorsese mengakhiri film ini dengan kesan Ambiguous yang dalam. Seolah-olah ia memberikan kebebasan bagi penontonnya untuk memberikan respon masing-masing, sehingga tidaklah salah jika film ini dikategorikan sebagai sebuah Reader-Response Movie. Scorsese membiarkan film ini Silence dan menjadi perenungan bagi orang-orang yang menontonnya.

Di saat Cinema modern menghadirkan film-film bergenre Heroic yang selalu menuntun penonton untuk memiliki kesan “Good guys always win over the bad guys.” Film ini sebaliknya menghadirkan sesuatu yang bertolak belakang. Tidak ada kemenangan yang dirayakan. Namun, teriakan, keraguan, keputusasaan, kelemahan, krisis dan penyangkalan, hal-hal inilah yang seolah-olah ingin dirangkul dan dirayakan di dalam film ini. Mungkin agak terkesan pesimistis, dan bagi sebagian orang yang selalu optimis, film ini mungkin tidak relevan. Tetapi ada keindahan di dalam kelemahan yang dirayakan di dalam film ini, yaitu the beauty of extended God’s Grace in believers’ weekness.

Rodriguez: “I pray but I’m lost. Am I just praying to silence?”

Jesus: “I suffered beside you, I was never silent.”

Ada 3 hal yang menarik bagi saya, yang juga sekaligus menjadi sebuah pertanyaan bagi iman Kristen:

Menginjak Gambar Yesus

Hal ini pasti akan ditanyakan oleh kita setelah menonton: Apakah orang yang dipaksa untuk menyangkal iman kepada Yesus dengan menginjak gambar Yesus akan diampuni atau diterima oleh Tuhan? Mengingat mereka akan mati jika mereka tidak menginjak gambar Yesus?

Film ini Silence ketika berhadapan dengan pertanyaan iman ini. Scorsese memberikan 2 pilihan kepada penonton. Kita dapat mengatakan bahwa orang tersebut pasti tidak akan diampuni, dan orang tersebut tidak akan diselamatkan, karena Yesus sendiri berkata: “Barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan BapaKu yang di sorga” (Matius 10:33).

Scorsese dalam wawancaranya mengatakan bahwa orang Kristen Jepang yang mati di hukum karena menolak menyangkal iman mereka dengan tidak menginjak gambar Yesus adalah orang-orang Kristen yang menunjukkan tindakan iman yang extraordinary, dan kita tentu tersentuh dengan iman mereka sekaligus marah dengan perlakuan yang mereka terima. Mereka mengutip perkataan Tertulianus “Darah para martir adalah benih Injil.” Tetapi Scorsese juga dengan cerdik mempertanyakan apakah sesungguhnya mereka mati karena iman mereka kepada Yesus atau mereka mati supaya Misionaris yang menyebarkan agama Kristen tidak mati? Maka, di sini ia sedang memberikan pilihan kepada penonton apakah mereka ingin melihat bahwa tindakan martyr tersebut adalah sebuah pengorbanan iman kepada Kristus atau hanya bentuk loyalty kepada pemimpin agama.

Inqusitor Inoue berkata kepada Rodriguez: “The price for you glory is their suffering.”

Hal inilah yang pada akhirnya juga mengguncangkan iman Father Rodriguez, ia dipaksa untuk memilih,  apakah ia menginjak gambar Yesus dan diklaim oleh Jepang telah menyangkal imannya kepada Yesus ATAU ia menolaknya namun ia akan melihat kematian orang-orang Kristen yang sebenarnya sudah menyangkal Yesus dan bebas dari hukuman, tetapi tetap diperhadapkan dengan hukuman. Rodriguez diperhadapkan dengan pilihan yang sulit. Namun, muncullah sebuah pertanyaan, “Jika Yesus di sini, apakah Yesus akan menginjak gambar Yesus demi menyelamatkan orang-orang ini? Apakah Yesus akan “menyangkal imannya” untuk membuat orang-orang ini tetap hidup?”

Pertanyaan ini yang akhirnya membuat Rodriguez menginjak gambar Yesus. Tindakan ini dianggap oleh otoritas Jepang sebagai tindakan penyangkalan iman. Namun, sekali lagi Scorsese meninggalkan problem ini sebagai sesuatu yang open-ended, sebab di bagian akhir dari film ini ketika Rodriguez mati dan akan dibakar, Rodriguez masih memegang icon salib.

Pengampunan Bagi seorang yang Menyangkal iman

Pertanyaan kedua adalah berkaitan dengan tindakan Kichijiro, seorang Kristen Jepang yang digambarkan seperti Yudas yang menghianati Yesus. Ia menyangkali imannya dengan menginjak gambar Yesus, lalu meminta pengampunan, tetapi ketika diperhadapkan dengan pilihan menyangkal atau setia, maka ia tetap memilih menyangakali imannya. Lalu meminta pengampunan kembali. Seolah-olah Kichijiro melihat anugerah pengampunan Tuhan itu sebagai sesuatu yang murahan (cheap grace). Maka pertanyaannya: Apakah orang yang demikian diampuni atau diterima oleh Tuhan kembali?

Pengampunan dan Berkat yang berulang kali diberikan Father Rodriguez kepada Kichijiro seolah menunjukkan bahwa selalu ada tempat untuk orang yang mengaku berdosa dan meminta pengampunan, meskipun berulang kali. Namun, apakah dengan begitu tidak akan membuat Kasih dan Anugerah Tuhan menjadi sesuatu yang dapat dipermainkan dan murahan? Tetapi pertanyaan lain juga dapat ditanyakan, tidakkah selalu ada tempat bagi orang-orang yang lemah di dalam anugerah Tuhan?

Sekali lagi Scorsese memberikan pilihan kepada penonton untuk menjawab, apakah iman Kristen yang lemah itu memang pantas? Apakah iman Kristen memberikan tempat bagi seorang percaya untuk “fail and try our best”? Apakah Tuhan mau menerima orang yang memiliki iman yang demikian?

Saya tidak memiliki jawabannya, tetapi saya percaya satu hal:

“God’s grace is wider and larger and bigger and deeper and higher than what we can imagine, than our human judgment.”

Iman dan Injil yang Universal

pertanyaan terakhir yang membuat saya merenung adalah perdebatan yang terjadi antara Inquisitor Inoue dengan Rodriguez, apakah kebenaran Kristen itu universal sehingga dapat  berlaku baik itu di Portugis maupun di tanah Jepang atau tidak?

Inoue meyakini bahwa Kekristenan tidak dapat tumbuh di Jepang karena tanah Jepang berbeda, sedangkan Rodriguez bersikeras berkata bahwa Kekristenan pernah tumbuh subur, namun sekarang tidak lagi karena tanah itu sudah diracuni.

Akan tetapi, Scorsese membawa penonton untuk melihat bahwa lahan Jepang adalah “sebuah Rawa.” Misionaris datang menyebarkan iman Kristen namun tidak mau mencoba memahami kepercayaan, budaya dan identitas Jepang. Bahkan Father Ferreira sendiri berkata bahwa ada kemungkinan pada waktu itu orang Jepang memiliki iman Kristen yang sesat. Bagaimana mungkin Jepang dapat memahami iman Kristen yang benar, jika Misionaris Kristen tidak mencoba memahami cara berpikir, keyakinan dan budaya Jepang?

Iman Kristen adalah kebenaran universal yang berlaku di berbagai tempat dan zaman, namun implementasi dan penyerapan iman Kristen itu bersifat “culture-conditioned.”  Penulis keempat kitab Injil sendiri menggunakan cara berpikir, agenda, gaya bahasa, bahkan penuturan yang sesuai dengan budaya dan zamannya saat mereka ingin menjelaskan dan memaknai Stories of Jesus. Injil yang kita miliki adalah culture-conditioned texts.

Bahkan Leslie Newibin, seorang Teolog dan Misionaris yang pernah melayani di India pernah berkata:

“It is obviously true that we have no way to understanding the Bible except through the concepts and categories of thought with which our culture has eqquiped us through our whole intellectual formation from earliest childhood.”

Namun, secara umum, sama seperti kutipan di awal dari wawancara Scorsese, melalui film ini, ia seolah-olah ingin bertanya:

“Jika perjalanan iman itu sama seperti sebuah Pilgrimage, adakah tempat bagi keraguan, keputusasaan, ketakutan, kelemahan, kejatuhan, krisis dan bahkan kegagalan di dalam iman Kristen?”

Click here to watch the interview with Martin Scorsese by Fuller Studio.

Advertisements
“The Impossible” adalah film yang diangkat dari kisah nyata yang dialami oleh sebuah keluarga berkebangsaan Spanyol (Maria Bellon dan suaminya Enrique, bersama dengan anak-anak mereka) pada waktu mereka berlibur ke Thailand, dimana bencana Tsunami menghancurkan beberapa tempat yang berdekatan dengan Samudera Hindia termasuk resort dimana mereka berlibur, tepat satu hari setelah Hari Natal 2004.
Salah satu topik yang sangat menyentuh yang diangkat dalam film ini adalah “Human responses toward disaster” dalam hubungannya dengan orang lain. Ada 2 respon yang diperlihatkan oleh Juan Antonio Bayona sang Director dan Sergio G. Sánchez, penulis script film ini. Respon yang pertama adalah Egois, dan yang kedua adalah full of compassion.
Respon Egois terlihat pada waktu Henry (Ewan McGregor) ingin meminjam telepon selular dari korban Tsunami yang lainnya untuk menelopon keluarganya, tetapi mendapatkan penolakan dari orang tersebut karena alasan dia butuh dan persediaan battery yang terbatas. Sedangkan respon full of Compassion terlihat pada waktu Maria (Naomi Watts) menyuruh anaknya Lucas (Tom Holland) untuk menolong seorang anak yang tersangkut pada tumbukan sampah setelah Tsunami, meskipun mereka juga sedang menyelamatkan diri, menderita dan kesakitan karena terluka. Perhatikan klip dan dialog berikut:
Maria: “Wait, did you hear that?”
Lucas: “Mom, there’s nothing we can do.”
Maria: “Wait”
Lucas: “We are almost there but we have to get to safety.”
Maria: “No, we have to help that boy.”
Lucas: “If a wave catches us down here, we will die! We have to climb that tree right now.”
Maria: [Yells] “Where are you?”
Lucas: “Mom, look at you. We need help! We can’t risk it mom. Come on.”
Maria: “Listen, what if that boy was Simon or Thomas? What if they needed help? You’d want someone to help them, wouldn’t you?”
Lucas: “Simon and Thomas are dead!”
Maria: “Even if it’s the last thing we do…”
Selain itu, pada waktu Henry meminjam telepon selular kepada korban yang lain, ia mendapatkan respon yang sangat baik, bahkan Henry diberikan kesempatan menelepon dua kali. Scene yang berkaitan dengan hal di atas sangat menyentuh.
Tidak ada hal yang lebih besar yang dapat menggerakan hati kita, memaksa air mata kita untuk tumpah dan memicu pembuluh darah kita mengalirkan darah yang hangat, selain dari pada melihat seseorang yang membutuhkan belas kasihan dapat tetap menunjukkan belas kasihan kepada orang lain. Melihat seseorang yang terluka dapat tetap menunjukkan kasihnya dengan mengobati orang lain.
Henri Nouwen menulis sebuah buku yang berjudul “The Wounded Healer.” Dalam buku ini Henri menawarkan sebuah interpretasi yang fresh tentang bagaimana kita dapat melayani orang lain. Henri menganjurkan agar kita mengidentifikasi penderitaan yang kita alami terlebih dahulu supaya kita dapat mengobati luka orang lain. Dalam luka kita, justru kita dapat menjadi sumber kehidupan bagi orang lain. Tentu hal ini sangat kontradiksi, bagaimana seorang yang terluka dapat mengobati orang lain. Bagaimana mungkin seorang yang membutuhkan pengobatan dapat menyembuhkan orang lain. Henri menulis dalam “The Wounded healer”:

When we are not afraid to journey into our own center, and to concentrate on the stirrings of our own souls, we come to know that being alive means being loved. This experience tells us that we can only love because we are born out of love, that we can only give because our life is a gift, and that we can only make others free because we are set free by the One whose heart is greater than our own.”

Jadi, ada 2 rahasia supaya kita dapat menjadi “The Wounded Healer”, antara lain:
Pertama, kita harus terlebih dahulu “mengakui penderitaan, kelemahan, keterbatasan dan ketakutan kita.” Dalam film “The Impossible,” sang Director dan Penulis menghadirkan point penting ini dalam scene berikut:
Dalam scene ini, Maria dan Lucas, anaknya baru saja menerima hantaman gelombang Tsunami yang dahsyat dan sedang berjuang untuk menyelamatkan diri dari arus yang membawa mereka. Lucas berkata kepada Ibunya bahwa Ia adalah anak yang berani, tetapi hantaman Tsunami sangat membuat ia takut. Maria, Ibunya tidak meresponi pengakuan Lucas dengan sebuah sikap yang heroic, tetapi justru dengan sebuah pengakuan bahwa ia juga adalah manusia yang rentan dan sesunggunhnya ia juga mengalami ketakutan yang sama.  Maria mengakui: “I am scared too.”
Kedua, kita harus  terlebih dahulu “Memohon dan datang kepada Pribadi yang lebih besar dari kita,” yaitu Tuhan, Allah kita yang menciptakan dan yang mengontrol segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita dan dunia ini. Ketika kita datang maka kita akan dikasihi, diberikan anugerah dan belas kasihan, serta dibebaskan dari ketakutan-ketakutan kita, sehingga kita dapat mengasihi, memberikan belas kasihan atau compassion kepada orang lain yang menderita dan terluka, meskipun kita sedang mengalami luka dan derita.

Compassion in the midst of disaster adalah salah satu point penting yang ingin diangkat melalui film  “The Impossible”. Compassion yang dapat menggetarkan hati setiap orang yang menontonnya. Compassion yang demikian juga yang kita dapat tunjukkan dalam hidup kita supaya hati dunia yang keras ini dapat digetarkan dan luka yang dalam dari dunia ini dapat disembuhkan.
What thrills your heart so hard? Compassion???

“Life is all about taking risk to get what you want. “

Kalimat ini adalah kalimat yang diucapkan Adam Lambert, finalis American Idol season 8 (2009). Kalimat inilah yang menginspirasikan dirinya untuk meninggalkan bangku kuliah dan berangkat menuju Los Angeles untuk memulai karir musiknya. Hasilnya selain ia menjadi Runner-up di American Idol season 8, dia juga menduduki urutan pertama di Billboard 200 chart pada bulan Mei 2012 yang lalu. Memang di satu sisi kalimat ini membawanya kepada sesuatu yang positif bagi hidupnya, tetapi kemungkinan kalimat ini jugalah (interpretasi saya) yang membawa Lambert untuk mengakui secara terbuka bahwa ia adalah seorang artis yang gay dan mendukung komunitas ini.

Tentu hal ini sangat ironis, dan dalam banyak hal sering kali ditemui dalam hidup kita, kalimat yang sama dapat membawa kepada sesuatu yang baik, tetapi kalimat yang sama dapat membawa seseorang menuju kepada sesuatu yang salah.

Tetapi bukan hal ini yang saya ingin soroti. Yang paling menjadi perhatian saya adalah topik yang berkaitan dengan “Life” dan “Risk”.

Resiko adalah kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada waktu seseorang mengambil sebuah keputusan.

Resiko adalah pelajaran yang sangat menonjol bagi para peserta yang mengikuti acara Running Youth yang lalu yang diadakan oleh Disciple Making Youth (DMY). Peserta pada waktu meinggalkan GKY dberikan sebuah kalimat clue yang berisi demikan:

“Santai santai ngopi di depan, merah kuning hijau daun kelapa, 4 itu angka haram.”

Mereka harus menebak tempat apakah yang dimaksud dalam kalimat clue yang ada. Hasilnya beberapa kelompok menebak clue itu menunjuk pada 7eleven Sunter, bahkan ada yang menebak bahwa kemungkinan tempat itu ada di Sunter Mall. Padahal tempat yang dimaksud adalah Starbucks di MKG 3. Apakah clue yang diberikan terlalu susah? Atau apakah beberapa kelompok itu terlalu “bodoh” sehingga tidak dapat menebak clue itu dengan benar?

Jawabannya TIDAK. Clue itu dapat ditebak dan mereka tahu jawabannya, yaitu tempat ngopi yang ada di MKG. Lalu mengapa mereka tidak langsung saja menuju MKG. Jawabanya adalah karena mereka TIDAK BERANI mengambil sebuah RESIKO. Seorang peserta berkata: “MKG terlalu jauh, kalo salah, maka kita akan susah untuk kembali lagi, uang kita terbatas dll.”

Mereka tidak berani mengambil resiko, tetapi untuk sebuah tidakan yang “tidak berani mengambil resiko” itu tetap ada resikonya. Mereka tertinggal jauh dari tim yang lain, dan kehilangan bonus piggy bank (berisi uang 50 ribu rupiah).

Life is all about taking risks…

Why….???? Because we don’t know what future holds…

Resiko dalam hidup selalu berkaitan dengan masa depan yang tidak kita ketahui dan selalu penuh dengan misteri. Ketika kita mengambil sebuah keputusan dalam hidup, seberapapun yakinnya kita tentang apa yang akan kita lalui, kita tidak akan pernah dapat benar-benar tahu dengan jelas apa yang ada di ujung sana. Keyakinan dan kebahagiaan di awal sebuah keputusan dapat berakhir dengan air mata di ujung sana. Contohnya sepasang pemuda-pemudi yang mengambil keputusan untuk memulai hubungan yang serius, memulainya dengan sebuah senyuman dan tawa (bahagia), tetapi kemudian berujung pada air mata kerena hubungan tersebut harus berakhir.

Tetapi dalam pergumulan saya, saya juga melihat bahwa ternyata resiko juga tidak berkaitan dengan “future”. Resiko juga berkaitan dengan “Past” atau masa lalu.

Peter Rollins pernah mencoba menuliskan salah satu aspek dari Theology of Hope Jurgen Moltmann dengan ilustrasi yang sederhana demikian:

“The last words in a sentence can radically change the meaning that we had ascribed to the previous words. Here, what comes after, can effect how we interpret what came before.”

Artinya apa yang terjadi pada kita di masa yang akan datang, dapat mengubah cara kita melihat apa yang terjadi dalam hidup kita di masa lalu dan sekarang.
Misalnya seorang yang susah hidupnya dan miskin, lalu dalam segala kesusahan dia pada akhirnya menjadi seorang yang tangguh dan pantang menyerah, sehingga pada akhirnya ia menjadi sukses dalam pekerjaan dan kehidupan keluarganya. Kesuksesannya itu akan mengubah caranya melihat kesusahan-kesusahannya di masa yang lalu. Kesusahan-kesusahannya itu tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang “menyusahkan”.

Maka, resiko itu tidak hanya berkaitan dengan “Future” tapi juga “Past”.

Salah satu Tim yang menjadi pemenang dalam acara Running Youth adalah Tim yang berjalan kaki dari Lotte Mart – GKY Sunter. Tentu hal ini melelahkan, tetapi kemenangan di akhir yang diperoleh akan mengubah cara tim ini memandang kelelahan yang telah mereka lalui. Kelelahan itu tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang “melelahkan.”

Itulah sebabnya bagi Jurgen Moltmann “A proper theology would therefore have to be constructed in the light of its future goal. Eschatology should not be its end, but its beginning.”

Memamami hal ini akan memberikan “HOPE” bagi yang mengalami kesulitan dan kegagalan-kegagalan hidup di masa lalu dan saat ini, tetapi juga memberikan “FAITH” dan “CONFIDENCE” bagi yang sedang “galau” dalam mengambil keputusan bagi masa depannya.

To live is to risk. To risk the past as much as the future. But we know who holds our life in the past and our future as well.

“Your father and I were gonna change the lives of millions, including mine”

Kalimat itulah yang diucapkan oleh Dr. Curt Connors (seorang ilmuan yang cacat tanpa lengan sebelah kanan) pada waktu ia berbicara dengan Peter Parker dalam film The Amazing Spiderman (Have you watched this Movie yet? I’m not going to be a spoiler….).

 

Bagi saya The Amazing Spiderman lebih cocok dengan komik aslinya yang dipublish pada tahun 1963, tentang bagaimana Peter bisa berubah menjadi “Manusia Laba-laba”, yaitu karena terkena gigitan “Radioactive Spider”, dari pada film”Spiderman” versi sebelumnya. Karena issue yang ada pada tahun publikasi komik itu adalah “Cold War” yang berkaitan dengan “Nuklir”.

Tapi bukan itu yang menjadi point utama, pertanyaan utama yang saya ingin angkat adalah kehidupan yang seperti apakah yang ingin diubah oleh Dr. Curt Connors. Jawabannya ada dalam film tersebut yaitu: “Human without weaknesses.” Mengapa ia menolak “Kelemahan”? Karena kehidupan dengan kelemahan adalah “Powerless life” sehingga membuat “kehidupan manusia itu diluar kendali manusia itu sendiri.”

Manusia ingin mengendalikan hidupnya, ingin memastikan apakah hidupnya aman dan damai. Manusia ingin hidupnya menjadi Pasti (Certainty) dan dapat Diketahui (Known) olehnya. Kerinduan ini diwakili oleh kehadiran film-film Hollywood yang bertemakan “Superhero”. Kehadiran Superheroes menjadi kepastian dan pengetahuan bahwa kehidupan manusia akan baik-baik saja meskipun ada ancaman dan bahaya. The Avangers & The Dark Night misalnya menempati urutan ke 3 & 4 dalam jumlah pendapatannya di Box Office. Selain itu, The Amazing Spiderman dan The Dark Knight Rises adalah 2 film yang paling dinantikan di tahun ini.

Powerless life yang adalah akar dari Uncertainty & Unknown tentu bertolak belakang dengan Certainty & Known.

Yesus pernah bertanya kepada para murid-Nya: “Siapakah aku ini?” Petrus menjawab: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Namun, apakah yang dimengerti oleh Petrus dengan perkataannya ini?

Hal ini terlihat pada waktu Yesus berkata bahwa ia akan pergi ke Yerusalem, menderita dan dibunuh. Petrus seketika itu juga menarik Yesus dan menegornya, dan berkata bahwa hal itu tidak mungkin terjadi pada-Nya. Maka, sebenarnya bagi Petrus “Mesias” itu tidak dekat dengan penderitaan dan kematian. Atau dengan kata lain, Mesias itu jauh dari kehidupan yang “Powerless”, yang diluar kendali, Uncertainty dan Unknown. Petrus menolak kehidupan yang demikian, dan sejujurnya kita juga (terbukti melalui film “Superheroes” yang sangat kita sukai dan nantikan).

Padahal sesungguhnya hidup bersama dengan Tuhan adalah hidup yang “powerless, out of our control, uncertain and unknown”. Hidup yang sepenuhya bergantung kepada Tuhan. Tetapi Tuhan berjanji bahwa Dia akan memberikan kekuatan untuk menikmati hidup yang demikian. Hidup yang penuh dengan kelemahan-kelemahan, penderitaan dan kesulitan-kesulitan.

Maka sebenarnya impian Dr. Curt Conners bukanlah impian kita sebagai murid Kristus. Filosofi dibalik film “Superheroes” bukanlah filosofi prajurit Kristus.

Go and watch this movie and another “Superheroes” movies  as an entertainment…!!!

Renungkanlah dan pahamilah betapa “poor” atau “miserable”nya impian-impian hidup manusia, sehingga kita dapat mengevaluasi diri kita dan berbicara menolang sesama kita.

“God called us to come into the powerless, uncertain and unknown life with Him, and we can enjoy it for sure.”

Mari bersama Rasul Paulus kita merayakan kelemahan-kelemahan kita sambil berkata: “Therefore, I’m all right with weaknesses, insults, disasters, harrassments, and stressful situations for the sake of Christ, because when I’m weak, then I’m strong.”

What is Postmodernism? Obviously, no single post can describe it. But one way to think about it is to recognize that we no longer live in a time or culture where there is a single agree-upon version of, or story about, reality. Instead, there are lots of competing stories about what makes the world go round.” [read full article here]

Tulisan di atas adalah cuplikan artikel yang ditulis oleh David Lose, the Marbury E. Anderson Chair in Biblical Preaching at Luther Seminary [read his blog]. Dalam artikel itu ia menyoroti issue Gereja dan Postmodernism. Menurut saya ada 2 issue utama yang ia soroti yang memang menjadi karakteristik utama dari Postmodern Culture:

  • Authenticity

Maksudnya adalah: generasi ini (generasi yang dekat dengan era postmodern adalah generasi Y yang lahir 1984 s/d akhir 1990), ingin menjadi generasi yang “apa adanya”. Generasi yang berani memilih dan mengikuti apa yang mereka sukai. Dalam kaitannya dengan kehidupan gereja,  mereka tidak akan pergi ke gereja karena orang tua mereka melakukannya. Mereka akan memilih, mencurahkan energi dan uang mereka kepada “sesuatu” (Narrative & Activity) yang paling membentuk hidup mereka. Mereka tidak suka dengan paksaan atau keharusan, mereka ingin memilih apa yang mereka sukai. Mereka ingin menjadi apa adanya mereka. Jika di dalam gereja mereka tidak menemukan Komunitas yang dapat / layak mereka cintai karena membentuk mereka maka mereka akan mencari komunitas lain di luar gereja. Komunitas yang adalah “home” bagi mereka. Komunitas yang authentic, bukan yang penuh dengan “topeng”.

  • Experience

Maksudnya adalah generasi ini mencari yang namanya “pengalaman”. Jika mereka ingin pergi ke gereja alasannya bukanlah hanya karena “itulah yang seharusnya mereka lakukan” sebab mereka lahir di tengah-tengah keluarga kristen, tetapi karena mereka ingin mendapatkan sebuah “experience”, yaitu pengalaman bersama dengan Allah, pengalaman yang dapat mentransform mereka. Jika experience yang demikian tidak mereka temui, maka mereka akan mencari experience yang lain. Kita tahu bahwa pada hari ini, ada banyak pilihan lain yang dapat kita lakukan yang akan menyita waktu dan perhatian kita pada hari minggu. Tetapi sebagai gereja terkadang kita terlihat seperti hidup di tahun 50-an, 60-an, 70-an atau 80-an, dimana seseorang akan tetap pergi ke gereja hanya karena “itulah yang seharusnya kita lakukan” sebab tidak ada pilihan lain. Generasi ini akan bertanya: “Mengapa harus? Apa alasannya?”

Lalu di sisi yang lain kita tidak boleh lupa bahwa hari ini kita hidup dengan kompetisi, tidak hanya kompetisi dengan agama lain, tetapi juga dengan aktivitas lain, seperti quality time dengan keluarga di akhir pekan setelah menjalani weekdays yang hectic, serta pilihan hiburan-hiburan yang lain yang juga menawarkan experience.

Apakah komunitas kita menawarkan “experience” yang dapat memuaskan dahaga generasi ini akan Allah? Atau jangan-jangan komunitas gereja kita hanya menawarkan aktivitas-aktivitas berulang tanpa meaning dan sebuah tradisi ritual yang diulang-ulang setiap minggunya yang berpusat pada “pemikiran-pemikiran” bukan pada “experience” yang mengubahkan?

Lepas dari fakta bahwa memang tidak ada gereja yang sempurna (setiap gereja atau lebih tepatnya orang-orang yang ada di dalam gereja tidak dapat kebal untuk memiliki dan memakai “topeng”nya masing-masing, termasuk saya…) dan lepas dari apa yang saya sebut disiplin rohani (sebab bagi saya bersekutu di gereja adalah salah satu dari disiplin rohani yang harus dikerjakan seorang percaya jika ia ingin mengalami Allah di dalam hidupnya), saya pikir 2 karakteristik di atas juga perlu dipertimbangkan jika kita ingin menyentuh dan memenangkan generasi bagi Kristus.

Berkaitan dengan issue ini juga, dalam video di bawah ini Pastor Jay Gamelin bertanya apakah kita siap untuk melayani generasi ini?

 

What do you think about this issue?

 

“I believe that the greatest trick of devil is not to get us into some sort of evil but rather have us wasting time. this is why the devil tries so hard to get Christian to be religious. If he can sink a man’s mind into habit, he will prevent his heart from enganging God.”

Kalimat itulah yang dituliskan oleh Donald Miller dalam Blue Like Jazz Chapter 2 “Problem: What I learned on Televison”. Ada

Trik terbesar dari Iblis untuk menjatuhkan orang-orang percaya adalah dengan membuat kita membuang-buang waktu, membuat orang Kristen terlihat religius dengan habit dan tradisi rutin kekristenan. Namun, sesungguhnya hanya berakhir pada habit dan tradisi, tanpa hati yang melekat lagi pada Allah. Secara implisit, Don ingin menjelaskan bahwa apa yang disebut “the true spirituality” adalah “hati yang melekat pada Allah.”

Hal ini membawa saya berpikir sejenak:

  • Apakah keterlibatan saya dalam kegiatan-kegiatan gerejawi  benar-benar membuat saya dekat dengan Allah atau justru hanya membuat saya terlihat sibuk dan kelelahan lalu memunculkan kesan bahwa saya adalah “orang yang religius”?
  • Apakah kebiasaan-kebiasaan doa, pergi ke gereja setiap Minggu (at least 3 kali dalam seminggu), memberi perpuluhan dan persembahan benar-benar membuat saya dekat dengan Allah atau justru hanya membuat saya “terlihat religius”?
  • Apakah kebiasaan saya bernyanyi dengan keras, berdoa dengan melipat tangan dengan genggaman yang erat, dan menyembah Tuhan dalam ibadah benar-benar membuat saya semakin melekat dengan Allah, atau justru semua itu hanyalah tradisi dan habit yang saya ikuti sejak dari masa kecil dan terus berlanjut sampai dewasa, yang kemudian membuat saya “terlihat religius” di depan orang percaya yang lain?
  • Lebih tajam lagi, apakah khotbah-khotbah atau pengajaran-pengajaran Firman Tuhan yang saya lakukan setiap minggunya (bahkan tiap hari di sekolah) semakin membuat saya melekat dengan Tuhan atau semuanya itu hanya berakhir pada satu kata yaitu “routine” pekerjaan yang saya lakukan sebagai seorang hamba Tuhan?

Saya berpikir…. Jika saya menemukan hidup saya demikian bahwa semua itu tidak membuat saya melekat pada Allah, apakah itu artinya saya harus menghentikan semua habit, tradisi dan rutinitas itu?

Jawabannya IYA dan TIDAK…..

Sebab sebenarnya rutinitas, habit dan tradisi yang menunjuk kepada kata “disiplin rohani”  juga dapat berguna bagi spiritualitas. Henri Nouwen mengatakan bahwa: “In the spiritual life, the word ‘discipline’ means the effort to create some space in which God can act.”

Sehingga adalah salah jika sama sekali menolak rutinitas, habit dan tradisi. Karena ternyata Tuhan juga dapat bekerja di dalamnya dan sebagai sarana dimana kita bisa merasakan pengalaman dekat dan melekat dengan-Nya.

Namun, walaupun demikian rasanya kita perlu sedikit mengevaluasi diri kita dan mengarahkan kepada arah yang benar:

Apakah semua rutinitas, habit dan tradisi itu kita lakukan hanya untuk membuat kita memiliki “KESIBUKAN” rohani, atau memang kita ingin melakukannya untuk sebuah “DISIPLIN” rohani. Yang pertama membawa kita kepada “KELELAHAN” secara rohani dan “KEHAMPAAN” (karena sebenarnya kita tidak punya relasi yang dalam dengan Allah, meskipun kita merasa atau  terlihat religious di depan orang lain). Yang kedua membawa hidup kita kepada “KEPUASAN” secara rohani, karena kita melekat dengan Allah dan kita akan melihat Allah bekerja di dalam dan melalui kita.

Apakah yang sedang anda lakukan hari-hari ini adalah sebuah “KESIBUKAN” rohani atau sebuah “DISIPLIN” rohani?

Selanjutnya dalam Chapter ini, Donald Miller menjelaskan hubungan antara Loving, Knowing dan Serving GOD:

“If you don’t love somebody, it gets annoying when they tell you what to do or what to feel. when you love them you get pleasure from their pleasure, and it makes it easy to serve. I didn’t love God because I didn’t know God.”

Kita tidak mungkin bisa melayani Tuhan dengan sukacita jika kita tidak mencintai Dia. Dan kita tidak dapat mencintai Dia, jika kita tidak mengenal Dia.

Itu artinya mengenal Allah adalah dasar bagi kasih kepada Allah. Kasih kepada adalah dasar bagi pelayanan untuk Allah.

Adalah sebuah kesalahan jika kita melayani Allah dengan tujuan bahwa hal ini akan membuat kita lebih mengasihi Dia dan mengenal Dia. Karena pelayanan itu harusnya keluar dari pengenalan dan rasa cinta kepada Allah. Sehingga kita dapat berkata kepada Allah yang kita layani: “Your Pleasure is My Pleasure.”

I’ve known God because He has revealed Himself to me. The more I know Him, the more I love Him. The more I love Him, the more I really want to serve Him.

Do you really serve Him with your pleasure…??? If not, maybe there’s something wrong with your love.

Do you love Him deeper and deeper…??? If not, maybe there’s something wrong with your knowledge about God.

Absennya pengenalan dan kasih kepada Allah dalam rutinitas, habit dan tradisi agamawi adalah Trik Iblis yang menghancurkan kehidupan orang percaya. Yang akan membawa mereka kepada “wasting time, being religious without spiritual, busyness without direction and meaning, burn out, boring and emptiness.”

“I never liked jazz music because jazz music doesn’t resolve. but I was outside the Bagdad Theater in Portland one night when I saw a man playing the saxophone. I stood there for fifteen minutes, and he never opened his eyes. After that I liked jazz music.”

“Sometimes you have to watch somebody love something before you can love it yourself. It is as if they are showing you the way.”

I used to not like God because God didn’t resolve. But that was before any of this happened…

Kalimat-kalimat di atas adalah catatan awal yang ditulis oleh Donald Miller (follow his twitter and blog) dalam buku “Blue Like Jazz: Nonreligious Thoughts on Christian Spirituality” yang ia tulis. Buku yang berisi perjalanan spiritual Don sebagai seorang mahasiswa muda Kristen di Reed College dan  yang hidup di tengah-tengah Post-Christian era. Tulisan yang berisi pengakuan yang jujur seorang muda Kristen yang mengalami dilema-dilema iman dalam hidupnya.

Buku ini adalah sebuah buku “kesaksian” hidup seseorang, bukan buku yang ingin menjelaskan “doktrin-doktrin”  kristen. Seperti musik Jazz yang adalah genre musik yang ditemukan oleh generasi pertama yang bebas dari “Slavery” di Amerika. Sebuah genre musik yang merupakan ekspresi dari kebebasan, yang keluar dari jiwa dan ketulusan. Kekristenan yang seperti inilah yang ingin digambarkan oleh Don dalam bukunya. Keristenan yang lahir dari jiwa dan ketulusan, tanpa topeng dan kemunafikan.

Berkaitan dengan kejujurannya ini, tidak sedikit kritik yang ditujukan kepada Don. Beberapa kritik yang secara konsisten datang dari sesama orang kristen adalah:“Why do you do that book criticizing the church? Why would you go airing our dirty laundry for the public to see?” 

Saya baru saja menyelesaikan Bab I, dan ada bbeberapa  kejujuran yang ditulis oleh Don dalam Bab ini:

  • Bagaimana ia mengalami kesulitan saat ia mencoba untuk memikirkan dan memahami Allah yang digambarkan sebagai “Bapa” di dalam Alkitab. Don menulis: “Why would God want to call Himself Father when so many fathers abandon their children? Saya tidak ingin megomentari kalimat ini secara teologis, tetapi saya sangat menghargai kejujuran yang Don tuliskan. Pertanyaan yang muncul karena pengalaman hidup yang pahit yang ia alami bersama ayahnya. Dan bukankah banyak di antara  kita  juga terkadang mengalami hal ini, di saat kita sulit menerima dan mempertanyakan sebuah kebenaran di dalam Alkitab karena kita pernah mengalami sebuah kepahitan. (This is what I do, questioning and questioning through my spiritual journey with God. Though sometimes it makes me uncomfortable and doubt, but I know He wouldn’t leave me alone in this journey)
  • Bagaimana ia terjebak di dalam dosa “pornography” untuk pertama kalinya pada waktu ia berusia 10 tahun. Perasaan deg-degan yang luar biasa yang ia bawa sampai di tempat tidurnya di malam hari, serta bagaimana gambar itu seperti sebuah movie slides yang bermain di dalam kepalanya (Hi boys…. just be honest.. We did it, didn’t we..???)
  • Bagaimana ia mengungkapkan persepsinya tentang Allah dan pengalaman hidupnya. Ia sempat berpikir bahwa Allah itu seperti sebuah “Slot-Machine” yang akan menyediakan penyembuhan dari rasa bersalah dan pengharapan yang membuat hidupnya diarahkan kepada sebuah tujuan. Namun, implikasinya adalah  “jika sesuatu yang baik terjadi dalam hidupnya, maka ia berpikir itu dari Allah. Jika tidak, maka hal itu adalah karena dosa atau kesalahan yang ia lakukan, maka ia akan bersujud di dalam doa untuk menyembuhkan rasa bersalah itu dan mendapatkan ketenangan kembali. (Hi churchman… just be honest… We do it every week in church building when we do the confession of sin ritual also, right…???)

Tentu masih banyak kejujuran dan ketulusan yang lain yang ia tuliskan di dalam bukunya. I hope I can share it in my next posting…

Buku ini juga sudah difilmkan dan film yang mengambil judul yang sama “Blue Like Jazz” ini akan direlease tanggal 13 April ini. I’m so excited to watch it. Here’s the trailer of that movie: