Archive for the ‘Spirituality’ Category

Model pelayanan kaum muda yang keempat dalam buku Youth Ministry in the 21st Century: Five View (2015), Chap Clark (Ed.) adalah The Ecclesial View of Youth Ministry oleh Fernando Arzola.

Youth ministry in the 21st century

Jika Chap Clark dengan model Adoption menekankan pada relasi antar generasi di dalam jemaat lokal. Arzola melangkah lebih jauh dengan menekankan pada relasi antara pelayanan kaum muda kini dengan gereja di sepanjang sejarah.

Maksud utama dari Arzola di dalam tulisannya adalah untuk mengusulkan sebuah konsep Eklesiologi yang sering diabaikan di dalam pelayanan kaum muda. Pelayanan kaum muda hanya berfokus pada unsur praktis seperti Pemuridan dan Pujian Penyembahan. Arzola berpendapat bahwa pelayan kaum muda perlu memahami konsep Eklesiologi yang ada di dalam perjalanan panjang sejarah gereja. Namun, secara khusus ia menekankan pentingnya Eklesiologi dari gereja Abad Mula-mula karena dianggap memiliki keterikatan yang kuat dengan masa kehadiaran Kristus di bumi. Eklesiologi dari Abad Mula-mula dianggap yang paling murni untuk membangun sebuah pelayanan gereja. Eklesiologi ini harus menjadi dasar untuk membangun sebuah pelayanan kaum muda.

Penggalian kembali akan kekayaan dari gereja Abad Mula-mula menjadi penting karena gereja masa kini sudah terjebak di dalam pengaruh buruk yang diwariskan dari Abad Pencerahan. Ada dua masalah yang dilihat oleh Arzola: pertama, penekanan pada pragmatisme, di mana gereja mengadopsi model-model dari dunia bisnis dan mengaplikasikannya di dalam gereja demi tujuan keefektifan. Kedua, penekanan pada individualisme, bahwa pemuridan, penyembahan dan khotbah di dalam gereja semuanya hanya diarahkan kepada pertumbuhan rohani seseorang secara individu.

Ada empat karakteristik gereja yang diakui di Abad Mula-mula yang diangkat oleh Arzola, antara lain: gereja itu satu, gereja itu kudus, gereja itu katolik, gereja itu apostolik. Gereja itu satu karena berasal dari Kristus yang satu. Gereja itu kudus sehingga gereja harus mendasarkan kekudusannya pada kekudusan Kristus. Gereja itu katolik karena seluruh gereja itu terhubung satu dengan yang lain di sepanjang masa dan tempat. Gereja itu apostolik artinya gereja harus berakar pada pengajaran rasul.

Pemahaman yang tepat tentang Eklesiologi dan sejarah gereja akan mencegah pemimpin kaum muda untuk menciptakan sebuah pelayanan gereja yang hanya didasari oleh karakter dan tempramen pemimpin. Sebaliknya, pemahaman tentang keempat karakteristik gereja ini akan menolong pelayan kaum muda, baik sebagai individu maupun komunitas lokal untuk melihat keluar kepada gereja yang lebih luas, universal dan yang pernah ada di dalam sejarah. Eklesiologi ini harus menjadi presuposisi dan teori di dalam membangun model pelayanan kaum muda.

Hal yang disayangkan dari apa yang diusulkan oleh Arzola adalah bahwa ia hanya berfokus pada teori dari pada paktek. Ia tidak mengusulkan sebuah model pelayanan kaum muda yang didasarkan pada presuposisi atau teori yang ia kemukakan tetapi ia hanya menyediakan sebuah perspektif yang ia pikir telah hilang dari pelayanan kaum muda. Perspektif yang ia bangun dari tiga tokoh yang menggali kembali kekayaan gereja di zaman Patristik, seperti Donald G. Bloesch, Thomas C. Oden dan Robert E. Webber.

Tampaknya pandangan pelayanan kaum muda yang Ecclesial hanya memberikan sebuah pelajaran bahwa anak muda harus diajarkan bahwa Allah bekerja di dalam sejarah gereja dan kehadiran mereka kini memiliki relasi dengan gereja segala masa dan tempat.

Advertisements

Youth ministry in the 21st century

Model pelayanan kaum muda yang ketiga dalam buku Youth Ministry in the 21st Century: Five View (2015), Chap Clark (Ed.) adalah The Adoption View of Youth Ministry oleh Chap Clark.

“It wasn’t that young left the church; the church left the young” – Chap Clark

Model ini dilatar belakangi oleh ketidakcukupan pendekatan pelayanan Kaum Muda di abad Modern. Pertama, pelayanan Kaum Muda seringkali menciptakan fenomena kepala dan telinga “Mickey Mouse” di dalam gereja. Pelayanan Kaum Muda cenderung menjadi gereja kecil di dalam gereja.

Kedua, pelayanan Kaum Muda tanpa sadar menciptakan anak muda yang individualistik. Penekanan pada “menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi” dan disiplin rohani pribadi, termasuk di dalamnya model mentoring “one on one” [1] tanpa menanamkan pentingnya keberadaan komunitas gereja dalam perjalanan iman orang muda, menjadi salah satu penyebab bagi anak muda meninggalkan gereja, karena mereka merasa tidak memiliki ikatan yang kuat dengan gereja. Orang muda tidak diperlengkapi dengan pemahaman tentang iman Kristen yang cukup. Apalagi orang muda akan semakin disibukkan dengan membangun karir dan rumah tangga di masa muda. Komunitas gereja terlupakan dan gereja kehilangan kesempatan untuk memuridkan orang muda. Orang muda kini hidup di dalam nostalgia kenangan indah tentang gereja di masa lalu, yang pernah mereka alami di masa remaja dulu.

Ketiga, Clark menyebutkan bahwa pelayanan muda yang demikian merupakan buah dari pelayanan gereja secara umum yang menunjukkan kasihnya kepada generasi muda  dengan: “love the kids from the distance, but don’t want kids around.Generasi senior di dalam gereja tidak menginginkan adanya intimate relationship dengan generasi muda di dalam perjalanan iman mereka. Pelayanan gereja secara umum terjebak di dalam programmatic model yang tersegmentasi. Hasilnya relasi di dalam gereja menjadi terfragmentasi dan terisolasi.

Itulah sebabnya, Clark melihat bahwa gereja perlu mengadopsi anak remaja dan anak muda di dalam gereja sehingga mereka tidak dilihat sebagai komunitas yang terpisahkan dari gereja tetapi sebagai bagian dari keluarga gereja. Clark mendasari model ini berdasarkan metafora Alkitab tentang gereja sebagai sebuah tubuh dan sebuah keluarga. Setiap anggota tubuh atau anggota keluarga di dalam gereja saling membutuhkan dan melengkapi. Gereja menjadi “a family of families.” Gereja dalam hal ini pemimpin gereja senior tidak lagi hanya sekedar menjadi penyedia apa yang dibutuhkan oleh orang muda dalam komunitas Kaum Muda, tetapi benar-benar hadir di dalam perjalanan iman orang muda sambil mereka mengembangkan kedewasaan iman dan kemampuan mereka di dalam berelasi secara interdependent.

Clark secara singkat menjelaskan goal dari model pelayanan Kaum Muda ini demikian: “The goal of youth ministry as adoption is for every child, every adolescent, and every young adult to be so embraced by the community of faith that they know they always have a home, a people, and a place where they can discover who they are and how they are able to contribute.”

Secara praktis Clark juga menggambarkan pengaplikasian model ini. Contohnya ketika seorang pemimpin kelompok kecil menemukan ada seorang anak SMA yang memiliki kemampuan dan ketertarikan dalam urusan teknik audio. Pemimpin itu harus menghubungkan anak SMA itu dengan tim yang bertanggung jawab terhadap pelayanan sound production di dalam ibadah gereja. Namun, hal ini bukanlah untuk “memanfaatkan” talenta atau ketertarikan anak SMA tersebut atau untuk memberikan tanggung jawab pelayanan kepada anak tersebut, tetapi tim sound production memiliki tugas untuk mengadopsi anak SMA itu sebagai anggota dari keluarga Allah di dalam gereja lokal tersebut. Berdoa, berbagi dan studi Alkitab bersama di dalam tim harus juga menjadi bagian di dalam proses pengadopsian tersebut. Anak SMA itu tidak hanya akan mampu melayani di bidang itu dan mengalami pertumbuhan iman secara pribadi tetapi ia juga akan merasakan sebuah ikatan yang kuat dengan keluarga besarnya di dalam gereja lokal tersebut. Seluruh tim juga akan mengalami sebuah pengalaman pelayanan yang menggairahkan.

Di dalam model ini setiap anak muda penting. Setiap anak muda diterima dan merupakan bagian dari keluarga besar Allah dalam gereja lokal. Setiap anak muda tidak hanya dimentoring oleh satu orang mentor yang sudah dewasa, tetapi ia akan mengalami apa yang Clark sebut sebagai “a mentoring community.”

Model pelayanan ini sangat menarik, namun tidak mudah untuk diterapkan dalam pelayanan Kaum Muda, khususnya di Indonesia. Kendala pertama adalah model ini adalah  model pelayanan yang holistik, maka perubahan yang harus dibuat bukanlah pada segment Youth Ministry, tetapi pada pola dan strategi pelayanan gereja lokal secara utuh. Perubahan perspektif pelayanan dan penggembalaan dari Gembala Sidang dan para Majelis Gereja adalah kunci dari model ini. Namun, hal ini membawa kita kepada kendala yang kedua, yaitu kendala yang menyangkut kurangnya waktu dari para Gembala Sidang dan Majelis Gereja di dalam mempelajari generasi muda dan budaya yang mereka hidupi. Para pemimpin gereja ini sadar bahwa generasi muda kini hidup dengan paradigma dan budaya yang berbeda dari yang dulu mereka hidupi di masa muda mereka, tetapi mereka kurang fokus dan kurang waktu (jika tidak kurang rendah hati :p) untuk mempelajari dan mengubah paradigma pelayanan mereka.

Akhirnya seperti yang dikatakan oleh Mike Yaconelli: “Maybe we don’t need a revolution in youth ministry; maybe what we need is what we’ve always needed—a few adults who are willing to follow God’s call to love young people into the kingdom of God no matter what the result.”

 

Notes:

[1] Clark mengatakan bahwa model dan prakek pelayanan Kaum Muda yang berfokus pada individual faith merupakan sebuah releksi dari budaya individualism di dalam masyarakat dan gereja di Abad Modern. Kabar Baik yang diberitakan dapat disebut sebagai a gospel of individualistic faith.

 

 

Model pelayanan kaum muda yang kedua dalam buku Youth Ministry in the 21st Century: Five View (2015), Chap Clark (Ed.) adalah The Reformed View of Youth Ministry oleh Brian Cosby.

Youth ministry in the 21st century

Model yang diusulkan oleh Brain terkesan sangat teoritis, namun dengan percaya diri ia menjelaskan bahwa gereja tempat ia melayani, Presbyteran Church in America (PCA) adalah salah satu denominasi gereja dengan pertumbuhan tercepat di US pada tahun 2013.

Model yang ia usulkan dimotivasi oleh kritik terhadap kekeliruan umum yang biasanya dilakukan di dalam pelayanan kaum muda dan semangat untuk menerapkan metodologi Reformed secara konsisten yang terekspresi melalui “sarana kasih karunia” (means of grace) di sepanjang sejarah Gereja. Sarana kasih karunia yang dimaksud menunjuk kepada pelayanan Firman, Doa, Sakramen (Baptisan dan Perjamuan Kudus), pelayanan Diakonia dan komunitas orang percaya.

Brian menyoroti tentang kekeliruan di dalam pelayanan kaum muda. Pertama, ia mengungkapkan bahwa data yang menyebutkan 50-88 % remaja meninggalkan gereja di akhir tahun pertama kuliah mereka harus dipahami sebagai titik puncak bebasnya mereka menentukan sendiri pilihan iman mereka sendiri lepas dari iman orang tua mereka. Krisis yang sesungguhnya sudah terjadi sebelum mereka menginjak masa kuliah. Pemimpin pelayanan kaum muda harus menyadari betapa pentingnnya memuridkan remaja sebaik-baiknya sebelum mereka memasuki masa kuliah. Hilangnya para pemuda usia kuliah merupakan fenomena ketidakberesan yang ada di dalam pelayanan remaja usia High School.

Kedua, Brian juga menyoroti tentang penggunaan entertainment sebagai metode untuk menarik kaum muda ke dalam komunitas gereja. Ia mengatakan bahwa hal ini adalah sebuah kesalahan di dalam membaca fenomena yang ada. Ia mengutip tulisan Janie Cheaney dalam World Magazine (2010) bahwa para remaja masa kini adalah remaja yang lebih sibuk dari pada generasi sebelumnya. Mereka lebih sibuk dalam urusan olahraga, pramuka, math clubs dan PR (dapat ditambahkan: organisasi di sekolah dan les pelajaran). Namun, pada waktu yang sama mereka adalah generasi yang mudah “bored” dan “purposeless.” Mereka hidup dari satu kesenangan kepada kesenangan yang lain, sambil berharap mereka akan menemukan kepuasan bagi jiwa yang mengembara. Ravi Zacharias mengatakan “the loneliest moment in life is when you have just experienced that which you thought would deliver the ultimate, and it has let you down.”

Brian berasumi bahwa penggunaan entertainment di dalam komunitas gereja hanya meninggalkan anak remaja dan anak muda ke dalam kondisi “ketidakpuasan, kehampaan dan kesendirian.” Jiwa mereka tetap kosong. Gereja seolah hanya berkompetisi dengan dunia melalui penggunaan entertainment.

Usaha untuk merasionalisasi penggunaan entertainment dengan membuatnya hanya sebagai jalan masuk untuk menarik dan membawa anak muda masuk ke dalam pintu gereja, juga ditolak oleh Brain. Baginya “you keep them by how you attract them.” Sekali kita menggunakan entertainment sebagai sarana jalan masuk penginjilan maka seterusnya hal ini akan menjadi metode untuk terus menjaga mereka tetap ada di dalam gereja.

Sebaliknya, riset yang dituangkan di dalam buku Sticky Faith oleh tim Fuller Youth Institute, yang dipimpin oleh Kara Powell menunjukkan bahwa anak-anak muda yang telah melewati masa High School, berpendapat bahwa yang paling mereka inginkan dalam pelayanan ketika mereka di masa High School dulu, antara lain: 1) Waktu untuk obrolan yang dalam; 2) Mission trips; 3) Proyek pelayanan sosial; 4) akuntabilitas; 5) pertemuan one-on-one dengan pemimpin kaum muda. Apa yang tidak masuk dalam daftar ini adalah: video games, Pujian penyembahan yang wah dan sarana entertainment lainnya.

Brian sebagai seorang Reformed merasa bahwa pelayanan kaum muda membutuhkan sebuah model yang lain. Model yang ia sebuah sebagai consistently Reformed, yaitu sebuah model yang SETIA dengan tradisi Reformed (yang baginya adalah model yang paling alkitabiah) yang menjadikan “sarana kasih karunia” (means of grace) sebagai alat yang melaluinya Allah menyelamatkan dan menguduskan umatNya, yaitu pelayanan Firman, Doa, Sakramen (Baptisan dan Perjamuan Kudus), pelayanan Diakonia dan komunitas orang percaya.

Ia menggaris bawahi bahwa “faithfulness to God is always more important than success in ministry.” Baginya, kesetiaan kepada Tuhan di dalam pelayanan berarti me-maintain-ing sebuah pendekatan secara konsisten di dalam teori dan praktek. Teori dan praktek pendekatan itu harus berasal dan diafirmasi oleh Alkitab. Kesetiaan ini lebih penting dari pada kesuksesan di dalam pelayanan.

Model ini sangat tajam mengkritik pendekatan modern terhadap pelayanan kaum muda. Brian mencoba mengembalikan pelayanan kaum muda kepada makna yang dalam yang berakar pada teks Alkitab dan doktrin gereja serta tradisinya. Namun, penekanan pada konteks tampaknya agak lemah.

Sejumlah pertanyaan muncul:

Berkaitan dengan isu kesetiaan dan kesuksesan, menurut saya, kesetiaan kepada Tuhan memang tidak berbanding lurus dengan kesuksesan yang kasat mata dalam pelayanan (misalnya: jumlah kehadiran yang semakin bertambah). Namun, bukankah terkadang kondisi “tidak sukses” secara kasat mata (misalnya: hilangnya anak muda dari gereja) mengimplikasikan adanya kesalahan-kesalahan di dalam pelayanan, yang mungkin merupakan sebuah bentuk ketidaksetiaan kepada Tuhan?

Berkaitan dengan isu entertainment, apakah itu artinya anak muda dalam pelayanan kaum muda tidak boleh “having fun”? Jika gereja memfasilitasi sarana yang baik bagi kaum muda untuk menyalurkan energi yang sangat besar di masa muda mereka, bukankah hal ini merupakan sesuatu yang baik? Bukankah hidup ini (termasuk hidup orang muda) adalah sebuah tarian yang seimbang  antara “makna yang dalam” dan “permukaan yang dangkal”?

Rabi Yahudi dalam Talmud pernah berkata: “Everyone must give an account before God of all good things one saw in life and did not enjoy.”

Enjoyment is not only permitted, it is commanded; it is not only an opportunity, it is a divine imperative.

Secara garis besar, model ini perlu diperhitungkan dan memberikan masukan yang berharga bagi pelayanan kaum muda sehingga pelayanan kaum muda tidak terjebak ke dalam sebuah pelayanan yang “mere entertaining yet purposeless.”

 

 

I hope that there was a place that I could explore those thoughts and those contradictions in an intelligent way that’s still within the christian faith…. It’s pilgrimage. We are still on the road. It’s never going to end – Martin Scorsese

mv5bmjy3otk0nja2nv5bml5banbnxkftztgwntg3mjc2mdi-_v1_sy1000_cr006401000_al_

Pernyataan ini dikatakan oleh Martin Scorsese dalam wawancaranya berkaitan dengan Film “Silence” yang disutradainya. Film yang dipublish di bulan Desember 2016 yang lalu, namun baru tayang di Bioskop Indonesia pada bulan Maret 2017 ini. Setelah menonton ini, saya susah move on dari film ini. Saya terus memikirkannya dan mengingat sejumlah unanswered problems dalam film ini. So, here’s my muse about this movie… (better you watch this movie with friends, discuss with them, then come to read this post).

Film ini diangkat dari sebuah Novel karangan Novelist Jepang, Shusaku Endo, tentang seorang Misionaris Jesuit (salah satu ordo dalam Gereja Katolik) di Abad ke-17, Rodriguez, yang melakukan perjalanan ke Jepang untuk mencari Mentornya yang hilang dan diduga telah meninggalkan imannya, Ferreira. Pencarian ini tidaklah mudah, sebab pada waktu itu Jepang memasuki sebuah periode isolasi dan penganiayaan terhadap orang Kristen (dalam catatan sejarah, dari tahun 1614-1640 diperkirakan 5000-6000 orang Kristen dibunuh di Jepang), karena Jepang menanggap bahwa Kekristenan adalah senjata dari penjajahan bangsa Barat, khususnya Portugis pada waktu itu. Otoritas Jepang memaksa orang Kristen Jepang menyangkal imannya, karena bagi mereka menjadi Kristen merupakan jalan menuju kehancuran budaya, kepercayaan dan identitas Jepang. Ketika identitas ke-Jepang-an mereka hancur, maka sama saja dengan memusnahkan Jepang. Itulah sebabnya, Otoritas Jepang dengan kekejamannya ingin menghapuskan Kekristenan yang berkembang cukup subur pada waktu itu. Mereka membunuh dengan sadis bagi orang-orang Kristen yang tidak mau menyangkal imannya (dengan cara menginjak gambar Yesus). Mereka meneteskan air panas secara perlahan, membakar hidup-hidup, menyalibkan di pantai sampai mati, menghanyutkan orang Kristen hidup-hidup di laut, memancung kepala orang Kristen, bahkan menggantung orang Kristen secara terbalik.

Akan tetapi, ketika mereka ingin membuat para Misionaris menyangkal imannya, mereka tidak langsung membunuh mereka ketika mereka menolak menyangkal. Mereka justru menghadirkan penderitaan yang paling menyakitkan, yaitu dengan membuat mereka menyaksikan penderitaan orang-orang Kristen, baik yang menyangkal maupun yang tidak menyangkal imannya. Mereka membiarkan Misionaris yang gagal ini tetap hidup dan menghidupi kebudayaan dan kepercayaan Jepang. Mereka memberikan identitas Jepang kepada para Misionaris tersebut. Ferriera dan Rodriguez, kedua Pastur yang gagal ini menjadi orang Jepang, menikahi wanita Jepang dan hidup dengan tradisi Jepang, bahkan sampai mereka mati. Dengan begitu, Otoritas Jepang berpikir mereka dapat menghapus Kekristenan di Jepang.

Film ini bukanlah sebuah film “easy-watching.” Di sepanjang film ini, Scorsese tidak memberikan jawaban dari problem yang ia munculkan. Namun, hal inilah yang menjadikan film ini brilliant, karena problem yang tanpa jawaban ini memberikan kesan Silence yang dalam. Ketika tokoh-tokoh dalam film ini bertanya-tanya kepada Tuhan, namun seolah Tuhan tetap Silence, maka Scorsese menyempurnakannya dengan menghadirkan kesan Silence saat kita menginginkan jawaban dari problem yang ia munculkan. Scorsese mengakhiri film ini dengan kesan Ambiguous yang dalam. Seolah-olah ia memberikan kebebasan bagi penontonnya untuk memberikan respon masing-masing, sehingga tidaklah salah jika film ini dikategorikan sebagai sebuah Reader-Response Movie. Scorsese membiarkan film ini Silence dan menjadi perenungan bagi orang-orang yang menontonnya.

Di saat Cinema modern menghadirkan film-film bergenre Heroic yang selalu menuntun penonton untuk memiliki kesan “Good guys always win over the bad guys.” Film ini sebaliknya menghadirkan sesuatu yang bertolak belakang. Tidak ada kemenangan yang dirayakan. Namun, teriakan, keraguan, keputusasaan, kelemahan, krisis dan penyangkalan, hal-hal inilah yang seolah-olah ingin dirangkul dan dirayakan di dalam film ini. Mungkin agak terkesan pesimistis, dan bagi sebagian orang yang selalu optimis, film ini mungkin tidak relevan. Tetapi ada keindahan di dalam kelemahan yang dirayakan di dalam film ini, yaitu the beauty of extended God’s Grace in believers’ weekness.

Rodriguez: “I pray but I’m lost. Am I just praying to silence?”

Jesus: “I suffered beside you, I was never silent.”

Ada 3 hal yang menarik bagi saya, yang juga sekaligus menjadi sebuah pertanyaan bagi iman Kristen:

Menginjak Gambar Yesus

Hal ini pasti akan ditanyakan oleh kita setelah menonton: Apakah orang yang dipaksa untuk menyangkal iman kepada Yesus dengan menginjak gambar Yesus akan diampuni atau diterima oleh Tuhan? Mengingat mereka akan mati jika mereka tidak menginjak gambar Yesus?

Film ini Silence ketika berhadapan dengan pertanyaan iman ini. Scorsese memberikan 2 pilihan kepada penonton. Kita dapat mengatakan bahwa orang tersebut pasti tidak akan diampuni, dan orang tersebut tidak akan diselamatkan, karena Yesus sendiri berkata: “Barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan BapaKu yang di sorga” (Matius 10:33).

Scorsese dalam wawancaranya mengatakan bahwa orang Kristen Jepang yang mati di hukum karena menolak menyangkal iman mereka dengan tidak menginjak gambar Yesus adalah orang-orang Kristen yang menunjukkan tindakan iman yang extraordinary, dan kita tentu tersentuh dengan iman mereka sekaligus marah dengan perlakuan yang mereka terima. Mereka mengutip perkataan Tertulianus “Darah para martir adalah benih Injil.” Tetapi Scorsese juga dengan cerdik mempertanyakan apakah sesungguhnya mereka mati karena iman mereka kepada Yesus atau mereka mati supaya Misionaris yang menyebarkan agama Kristen tidak mati? Maka, di sini ia sedang memberikan pilihan kepada penonton apakah mereka ingin melihat bahwa tindakan martyr tersebut adalah sebuah pengorbanan iman kepada Kristus atau hanya bentuk loyalty kepada pemimpin agama.

Inqusitor Inoue berkata kepada Rodriguez: “The price for you glory is their suffering.”

Hal inilah yang pada akhirnya juga mengguncangkan iman Father Rodriguez, ia dipaksa untuk memilih,  apakah ia menginjak gambar Yesus dan diklaim oleh Jepang telah menyangkal imannya kepada Yesus ATAU ia menolaknya namun ia akan melihat kematian orang-orang Kristen yang sebenarnya sudah menyangkal Yesus dan bebas dari hukuman, tetapi tetap diperhadapkan dengan hukuman. Rodriguez diperhadapkan dengan pilihan yang sulit. Namun, muncullah sebuah pertanyaan, “Jika Yesus di sini, apakah Yesus akan menginjak gambar Yesus demi menyelamatkan orang-orang ini? Apakah Yesus akan “menyangkal imannya” untuk membuat orang-orang ini tetap hidup?”

Pertanyaan ini yang akhirnya membuat Rodriguez menginjak gambar Yesus. Tindakan ini dianggap oleh otoritas Jepang sebagai tindakan penyangkalan iman. Namun, sekali lagi Scorsese meninggalkan problem ini sebagai sesuatu yang open-ended, sebab di bagian akhir dari film ini ketika Rodriguez mati dan akan dibakar, Rodriguez masih memegang icon salib.

Pengampunan Bagi seorang yang Menyangkal iman

Pertanyaan kedua adalah berkaitan dengan tindakan Kichijiro, seorang Kristen Jepang yang digambarkan seperti Yudas yang menghianati Yesus. Ia menyangkali imannya dengan menginjak gambar Yesus, lalu meminta pengampunan, tetapi ketika diperhadapkan dengan pilihan menyangkal atau setia, maka ia tetap memilih menyangakali imannya. Lalu meminta pengampunan kembali. Seolah-olah Kichijiro melihat anugerah pengampunan Tuhan itu sebagai sesuatu yang murahan (cheap grace). Maka pertanyaannya: Apakah orang yang demikian diampuni atau diterima oleh Tuhan kembali?

Pengampunan dan Berkat yang berulang kali diberikan Father Rodriguez kepada Kichijiro seolah menunjukkan bahwa selalu ada tempat untuk orang yang mengaku berdosa dan meminta pengampunan, meskipun berulang kali. Namun, apakah dengan begitu tidak akan membuat Kasih dan Anugerah Tuhan menjadi sesuatu yang dapat dipermainkan dan murahan? Tetapi pertanyaan lain juga dapat ditanyakan, tidakkah selalu ada tempat bagi orang-orang yang lemah di dalam anugerah Tuhan?

Sekali lagi Scorsese memberikan pilihan kepada penonton untuk menjawab, apakah iman Kristen yang lemah itu memang pantas? Apakah iman Kristen memberikan tempat bagi seorang percaya untuk “fail and try our best”? Apakah Tuhan mau menerima orang yang memiliki iman yang demikian?

Saya tidak memiliki jawabannya, tetapi saya percaya satu hal:

“God’s grace is wider and larger and bigger and deeper and higher than what we can imagine, than our human judgment.”

Iman dan Injil yang Universal

pertanyaan terakhir yang membuat saya merenung adalah perdebatan yang terjadi antara Inquisitor Inoue dengan Rodriguez, apakah kebenaran Kristen itu universal sehingga dapat  berlaku baik itu di Portugis maupun di tanah Jepang atau tidak?

Inoue meyakini bahwa Kekristenan tidak dapat tumbuh di Jepang karena tanah Jepang berbeda, sedangkan Rodriguez bersikeras berkata bahwa Kekristenan pernah tumbuh subur, namun sekarang tidak lagi karena tanah itu sudah diracuni.

Akan tetapi, Scorsese membawa penonton untuk melihat bahwa lahan Jepang adalah “sebuah Rawa.” Misionaris datang menyebarkan iman Kristen namun tidak mau mencoba memahami kepercayaan, budaya dan identitas Jepang. Bahkan Father Ferreira sendiri berkata bahwa ada kemungkinan pada waktu itu orang Jepang memiliki iman Kristen yang sesat. Bagaimana mungkin Jepang dapat memahami iman Kristen yang benar, jika Misionaris Kristen tidak mencoba memahami cara berpikir, keyakinan dan budaya Jepang?

Iman Kristen adalah kebenaran universal yang berlaku di berbagai tempat dan zaman, namun implementasi dan penyerapan iman Kristen itu bersifat “culture-conditioned.”  Penulis keempat kitab Injil sendiri menggunakan cara berpikir, agenda, gaya bahasa, bahkan penuturan yang sesuai dengan budaya dan zamannya saat mereka ingin menjelaskan dan memaknai Stories of Jesus. Injil yang kita miliki adalah culture-conditioned texts.

Bahkan Leslie Newibin, seorang Teolog dan Misionaris yang pernah melayani di India pernah berkata:

“It is obviously true that we have no way to understanding the Bible except through the concepts and categories of thought with which our culture has eqquiped us through our whole intellectual formation from earliest childhood.”

Namun, secara umum, sama seperti kutipan di awal dari wawancara Scorsese, melalui film ini, ia seolah-olah ingin bertanya:

“Jika perjalanan iman itu sama seperti sebuah Pilgrimage, adakah tempat bagi keraguan, keputusasaan, ketakutan, kelemahan, kejatuhan, krisis dan bahkan kegagalan di dalam iman Kristen?”

Click here to watch the interview with Martin Scorsese by Fuller Studio.

“The Impossible” adalah film yang diangkat dari kisah nyata yang dialami oleh sebuah keluarga berkebangsaan Spanyol (Maria Bellon dan suaminya Enrique, bersama dengan anak-anak mereka) pada waktu mereka berlibur ke Thailand, dimana bencana Tsunami menghancurkan beberapa tempat yang berdekatan dengan Samudera Hindia termasuk resort dimana mereka berlibur, tepat satu hari setelah Hari Natal 2004.
Salah satu topik yang sangat menyentuh yang diangkat dalam film ini adalah “Human responses toward disaster” dalam hubungannya dengan orang lain. Ada 2 respon yang diperlihatkan oleh Juan Antonio Bayona sang Director dan Sergio G. Sánchez, penulis script film ini. Respon yang pertama adalah Egois, dan yang kedua adalah full of compassion.
Respon Egois terlihat pada waktu Henry (Ewan McGregor) ingin meminjam telepon selular dari korban Tsunami yang lainnya untuk menelopon keluarganya, tetapi mendapatkan penolakan dari orang tersebut karena alasan dia butuh dan persediaan battery yang terbatas. Sedangkan respon full of Compassion terlihat pada waktu Maria (Naomi Watts) menyuruh anaknya Lucas (Tom Holland) untuk menolong seorang anak yang tersangkut pada tumbukan sampah setelah Tsunami, meskipun mereka juga sedang menyelamatkan diri, menderita dan kesakitan karena terluka. Perhatikan klip dan dialog berikut:
Maria: “Wait, did you hear that?”
Lucas: “Mom, there’s nothing we can do.”
Maria: “Wait”
Lucas: “We are almost there but we have to get to safety.”
Maria: “No, we have to help that boy.”
Lucas: “If a wave catches us down here, we will die! We have to climb that tree right now.”
Maria: [Yells] “Where are you?”
Lucas: “Mom, look at you. We need help! We can’t risk it mom. Come on.”
Maria: “Listen, what if that boy was Simon or Thomas? What if they needed help? You’d want someone to help them, wouldn’t you?”
Lucas: “Simon and Thomas are dead!”
Maria: “Even if it’s the last thing we do…”
Selain itu, pada waktu Henry meminjam telepon selular kepada korban yang lain, ia mendapatkan respon yang sangat baik, bahkan Henry diberikan kesempatan menelepon dua kali. Scene yang berkaitan dengan hal di atas sangat menyentuh.
Tidak ada hal yang lebih besar yang dapat menggerakan hati kita, memaksa air mata kita untuk tumpah dan memicu pembuluh darah kita mengalirkan darah yang hangat, selain dari pada melihat seseorang yang membutuhkan belas kasihan dapat tetap menunjukkan belas kasihan kepada orang lain. Melihat seseorang yang terluka dapat tetap menunjukkan kasihnya dengan mengobati orang lain.
Henri Nouwen menulis sebuah buku yang berjudul “The Wounded Healer.” Dalam buku ini Henri menawarkan sebuah interpretasi yang fresh tentang bagaimana kita dapat melayani orang lain. Henri menganjurkan agar kita mengidentifikasi penderitaan yang kita alami terlebih dahulu supaya kita dapat mengobati luka orang lain. Dalam luka kita, justru kita dapat menjadi sumber kehidupan bagi orang lain. Tentu hal ini sangat kontradiksi, bagaimana seorang yang terluka dapat mengobati orang lain. Bagaimana mungkin seorang yang membutuhkan pengobatan dapat menyembuhkan orang lain. Henri menulis dalam “The Wounded healer”:

When we are not afraid to journey into our own center, and to concentrate on the stirrings of our own souls, we come to know that being alive means being loved. This experience tells us that we can only love because we are born out of love, that we can only give because our life is a gift, and that we can only make others free because we are set free by the One whose heart is greater than our own.”

Jadi, ada 2 rahasia supaya kita dapat menjadi “The Wounded Healer”, antara lain:
Pertama, kita harus terlebih dahulu “mengakui penderitaan, kelemahan, keterbatasan dan ketakutan kita.” Dalam film “The Impossible,” sang Director dan Penulis menghadirkan point penting ini dalam scene berikut:
Dalam scene ini, Maria dan Lucas, anaknya baru saja menerima hantaman gelombang Tsunami yang dahsyat dan sedang berjuang untuk menyelamatkan diri dari arus yang membawa mereka. Lucas berkata kepada Ibunya bahwa Ia adalah anak yang berani, tetapi hantaman Tsunami sangat membuat ia takut. Maria, Ibunya tidak meresponi pengakuan Lucas dengan sebuah sikap yang heroic, tetapi justru dengan sebuah pengakuan bahwa ia juga adalah manusia yang rentan dan sesunggunhnya ia juga mengalami ketakutan yang sama.  Maria mengakui: “I am scared too.”
Kedua, kita harus  terlebih dahulu “Memohon dan datang kepada Pribadi yang lebih besar dari kita,” yaitu Tuhan, Allah kita yang menciptakan dan yang mengontrol segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita dan dunia ini. Ketika kita datang maka kita akan dikasihi, diberikan anugerah dan belas kasihan, serta dibebaskan dari ketakutan-ketakutan kita, sehingga kita dapat mengasihi, memberikan belas kasihan atau compassion kepada orang lain yang menderita dan terluka, meskipun kita sedang mengalami luka dan derita.

Compassion in the midst of disaster adalah salah satu point penting yang ingin diangkat melalui film  “The Impossible”. Compassion yang dapat menggetarkan hati setiap orang yang menontonnya. Compassion yang demikian juga yang kita dapat tunjukkan dalam hidup kita supaya hati dunia yang keras ini dapat digetarkan dan luka yang dalam dari dunia ini dapat disembuhkan.
What thrills your heart so hard? Compassion???

“Life is all about taking risk to get what you want. “

Kalimat ini adalah kalimat yang diucapkan Adam Lambert, finalis American Idol season 8 (2009). Kalimat inilah yang menginspirasikan dirinya untuk meninggalkan bangku kuliah dan berangkat menuju Los Angeles untuk memulai karir musiknya. Hasilnya selain ia menjadi Runner-up di American Idol season 8, dia juga menduduki urutan pertama di Billboard 200 chart pada bulan Mei 2012 yang lalu. Memang di satu sisi kalimat ini membawanya kepada sesuatu yang positif bagi hidupnya, tetapi kemungkinan kalimat ini jugalah (interpretasi saya) yang membawa Lambert untuk mengakui secara terbuka bahwa ia adalah seorang artis yang gay dan mendukung komunitas ini.

Tentu hal ini sangat ironis, dan dalam banyak hal sering kali ditemui dalam hidup kita, kalimat yang sama dapat membawa kepada sesuatu yang baik, tetapi kalimat yang sama dapat membawa seseorang menuju kepada sesuatu yang salah.

Tetapi bukan hal ini yang saya ingin soroti. Yang paling menjadi perhatian saya adalah topik yang berkaitan dengan “Life” dan “Risk”.

Resiko adalah kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada waktu seseorang mengambil sebuah keputusan.

Resiko adalah pelajaran yang sangat menonjol bagi para peserta yang mengikuti acara Running Youth yang lalu yang diadakan oleh Disciple Making Youth (DMY). Peserta pada waktu meinggalkan GKY dberikan sebuah kalimat clue yang berisi demikan:

“Santai santai ngopi di depan, merah kuning hijau daun kelapa, 4 itu angka haram.”

Mereka harus menebak tempat apakah yang dimaksud dalam kalimat clue yang ada. Hasilnya beberapa kelompok menebak clue itu menunjuk pada 7eleven Sunter, bahkan ada yang menebak bahwa kemungkinan tempat itu ada di Sunter Mall. Padahal tempat yang dimaksud adalah Starbucks di MKG 3. Apakah clue yang diberikan terlalu susah? Atau apakah beberapa kelompok itu terlalu “bodoh” sehingga tidak dapat menebak clue itu dengan benar?

Jawabannya TIDAK. Clue itu dapat ditebak dan mereka tahu jawabannya, yaitu tempat ngopi yang ada di MKG. Lalu mengapa mereka tidak langsung saja menuju MKG. Jawabanya adalah karena mereka TIDAK BERANI mengambil sebuah RESIKO. Seorang peserta berkata: “MKG terlalu jauh, kalo salah, maka kita akan susah untuk kembali lagi, uang kita terbatas dll.”

Mereka tidak berani mengambil resiko, tetapi untuk sebuah tidakan yang “tidak berani mengambil resiko” itu tetap ada resikonya. Mereka tertinggal jauh dari tim yang lain, dan kehilangan bonus piggy bank (berisi uang 50 ribu rupiah).

Life is all about taking risks…

Why….???? Because we don’t know what future holds…

Resiko dalam hidup selalu berkaitan dengan masa depan yang tidak kita ketahui dan selalu penuh dengan misteri. Ketika kita mengambil sebuah keputusan dalam hidup, seberapapun yakinnya kita tentang apa yang akan kita lalui, kita tidak akan pernah dapat benar-benar tahu dengan jelas apa yang ada di ujung sana. Keyakinan dan kebahagiaan di awal sebuah keputusan dapat berakhir dengan air mata di ujung sana. Contohnya sepasang pemuda-pemudi yang mengambil keputusan untuk memulai hubungan yang serius, memulainya dengan sebuah senyuman dan tawa (bahagia), tetapi kemudian berujung pada air mata kerena hubungan tersebut harus berakhir.

Tetapi dalam pergumulan saya, saya juga melihat bahwa ternyata resiko juga tidak berkaitan dengan “future”. Resiko juga berkaitan dengan “Past” atau masa lalu.

Peter Rollins pernah mencoba menuliskan salah satu aspek dari Theology of Hope Jurgen Moltmann dengan ilustrasi yang sederhana demikian:

“The last words in a sentence can radically change the meaning that we had ascribed to the previous words. Here, what comes after, can effect how we interpret what came before.”

Artinya apa yang terjadi pada kita di masa yang akan datang, dapat mengubah cara kita melihat apa yang terjadi dalam hidup kita di masa lalu dan sekarang.
Misalnya seorang yang susah hidupnya dan miskin, lalu dalam segala kesusahan dia pada akhirnya menjadi seorang yang tangguh dan pantang menyerah, sehingga pada akhirnya ia menjadi sukses dalam pekerjaan dan kehidupan keluarganya. Kesuksesannya itu akan mengubah caranya melihat kesusahan-kesusahannya di masa yang lalu. Kesusahan-kesusahannya itu tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang “menyusahkan”.

Maka, resiko itu tidak hanya berkaitan dengan “Future” tapi juga “Past”.

Salah satu Tim yang menjadi pemenang dalam acara Running Youth adalah Tim yang berjalan kaki dari Lotte Mart – GKY Sunter. Tentu hal ini melelahkan, tetapi kemenangan di akhir yang diperoleh akan mengubah cara tim ini memandang kelelahan yang telah mereka lalui. Kelelahan itu tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang “melelahkan.”

Itulah sebabnya bagi Jurgen Moltmann “A proper theology would therefore have to be constructed in the light of its future goal. Eschatology should not be its end, but its beginning.”

Memamami hal ini akan memberikan “HOPE” bagi yang mengalami kesulitan dan kegagalan-kegagalan hidup di masa lalu dan saat ini, tetapi juga memberikan “FAITH” dan “CONFIDENCE” bagi yang sedang “galau” dalam mengambil keputusan bagi masa depannya.

To live is to risk. To risk the past as much as the future. But we know who holds our life in the past and our future as well.

“Your father and I were gonna change the lives of millions, including mine”

Kalimat itulah yang diucapkan oleh Dr. Curt Connors (seorang ilmuan yang cacat tanpa lengan sebelah kanan) pada waktu ia berbicara dengan Peter Parker dalam film The Amazing Spiderman (Have you watched this Movie yet? I’m not going to be a spoiler….).

 

Bagi saya The Amazing Spiderman lebih cocok dengan komik aslinya yang dipublish pada tahun 1963, tentang bagaimana Peter bisa berubah menjadi “Manusia Laba-laba”, yaitu karena terkena gigitan “Radioactive Spider”, dari pada film”Spiderman” versi sebelumnya. Karena issue yang ada pada tahun publikasi komik itu adalah “Cold War” yang berkaitan dengan “Nuklir”.

Tapi bukan itu yang menjadi point utama, pertanyaan utama yang saya ingin angkat adalah kehidupan yang seperti apakah yang ingin diubah oleh Dr. Curt Connors. Jawabannya ada dalam film tersebut yaitu: “Human without weaknesses.” Mengapa ia menolak “Kelemahan”? Karena kehidupan dengan kelemahan adalah “Powerless life” sehingga membuat “kehidupan manusia itu diluar kendali manusia itu sendiri.”

Manusia ingin mengendalikan hidupnya, ingin memastikan apakah hidupnya aman dan damai. Manusia ingin hidupnya menjadi Pasti (Certainty) dan dapat Diketahui (Known) olehnya. Kerinduan ini diwakili oleh kehadiran film-film Hollywood yang bertemakan “Superhero”. Kehadiran Superheroes menjadi kepastian dan pengetahuan bahwa kehidupan manusia akan baik-baik saja meskipun ada ancaman dan bahaya. The Avangers & The Dark Night misalnya menempati urutan ke 3 & 4 dalam jumlah pendapatannya di Box Office. Selain itu, The Amazing Spiderman dan The Dark Knight Rises adalah 2 film yang paling dinantikan di tahun ini.

Powerless life yang adalah akar dari Uncertainty & Unknown tentu bertolak belakang dengan Certainty & Known.

Yesus pernah bertanya kepada para murid-Nya: “Siapakah aku ini?” Petrus menjawab: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Namun, apakah yang dimengerti oleh Petrus dengan perkataannya ini?

Hal ini terlihat pada waktu Yesus berkata bahwa ia akan pergi ke Yerusalem, menderita dan dibunuh. Petrus seketika itu juga menarik Yesus dan menegornya, dan berkata bahwa hal itu tidak mungkin terjadi pada-Nya. Maka, sebenarnya bagi Petrus “Mesias” itu tidak dekat dengan penderitaan dan kematian. Atau dengan kata lain, Mesias itu jauh dari kehidupan yang “Powerless”, yang diluar kendali, Uncertainty dan Unknown. Petrus menolak kehidupan yang demikian, dan sejujurnya kita juga (terbukti melalui film “Superheroes” yang sangat kita sukai dan nantikan).

Padahal sesungguhnya hidup bersama dengan Tuhan adalah hidup yang “powerless, out of our control, uncertain and unknown”. Hidup yang sepenuhya bergantung kepada Tuhan. Tetapi Tuhan berjanji bahwa Dia akan memberikan kekuatan untuk menikmati hidup yang demikian. Hidup yang penuh dengan kelemahan-kelemahan, penderitaan dan kesulitan-kesulitan.

Maka sebenarnya impian Dr. Curt Conners bukanlah impian kita sebagai murid Kristus. Filosofi dibalik film “Superheroes” bukanlah filosofi prajurit Kristus.

Go and watch this movie and another “Superheroes” movies  as an entertainment…!!!

Renungkanlah dan pahamilah betapa “poor” atau “miserable”nya impian-impian hidup manusia, sehingga kita dapat mengevaluasi diri kita dan berbicara menolang sesama kita.

“God called us to come into the powerless, uncertain and unknown life with Him, and we can enjoy it for sure.”

Mari bersama Rasul Paulus kita merayakan kelemahan-kelemahan kita sambil berkata: “Therefore, I’m all right with weaknesses, insults, disasters, harrassments, and stressful situations for the sake of Christ, because when I’m weak, then I’m strong.”