Archive for the ‘Youth Ministry’ Category

You’re all going to die down here – Red Queen

Adalah sebuah kalimat ancaman yang sudah biasa kita dengar dalam film-film yang kita tonton. Tetapi perkataan ini menjadi tidak biasa karena perkataan ini tidak keluar dari seorang manusia. Perkataan ini muncul dari sebuah Program komputer, dan ditujukan kepada manusia. Program itu disebut “Red Queen” dalam film”Resident Evil“, di mana episode terbarunya yang diberi judul “retribution” baru saja dirilis minggu lalu.

Red Queen adalah sebuah “holographic avatar” dari Artificial Intelligence (Kecerdasan Bantuan) yang merupakan sebuah program yang diciptakan dalam sistem komputerisasi The Umbrella Cooporation /UC (sebuah perusahaan yang melakukan penelitian untuk memenuhi impian manusia, yaitu kondisi yang tidak dapat mati – Undead, di mana mereka menggunakan Virus yang disebut T-Virus, yang justru pada akhirnya menciptakan manusia menjadi monster-monster Zombie). UC menyadari kekurangan mereka bahwa mereka tidak dapat mengendalikan segala sesuatunya, oleh sebab itu, Red Queen diciptakan untuk mengawasi dan melindungi aset dari di UC serta untuk melindungi kehidupan dari pekerja di UC. Namun, sangat disayangkan bahwa pada akhirnya Red Queen justru memegang kendali penuh atas UC. Bahkan pada waktu Wesker (Pemimpin dari UC) ingin mengambil data dari komputer pun, Red Queen yang memegang kendali, memutuskan akses dan tidak mengijinkan Wesker untuk mengambil data tersebut, karena bagi Red Queen apa yang dilakukan oleh Wesker membahayakan UC. Apa yang diciptakan kini terlepas dari pencipta dan justru menjadi pengendali dan musuh bagi si pencipta.

Kondisi yang ada tampaknya “agak” mirip dengan apa yang akan dilakukan oleh warga kota Jakarta pada tanggal 20 September 2012, yaitu pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Warga kota Jakarta akan “menciptakan” / memilih pemimpin mereka, tetapi setelah pemilihan, maka apa yang warga Jakarta “ciptakan”, akan memimpin atau “menguasai” mereka. Pemimpin itu akan membuat banyak kebijakan-kebijakan atau keputusan-keputusan yang akan berpengaruh bagi kehidupan warga Jakarta. Tentu Gubenur tidaklah sama persis dengan Red Queen dalam film Resident Evil, tetapi setidaknya sama seperti Red Queen, Gurbenur akan berpikir yang “terbaik” untuk warga Jakarta, tetapi apa yang “terbaik” itu belum tentu sama dengan apa yang terbaik yang dipikirkan oleh warga Jakarta.

Calon Gubenur dan calon Wakil Gubenur yang akan dipilih adalah pasangan Fauzi Bowo & Nachrowi Ramli (No. urut 1) dan pasangan Joko Widodo & Basuki (No. urut 3). Kedua pasangan ini tentu sudah melakukan pendekatan dan kampanye kepada masyarakat kota Jakarta. Mereka juga sudah menjelaskan kepada masyarakat, kebijakan-kebijakan apa yang akan mereka ambil jika mereka terpilih sebagai Pemimpin bagi kota Jakarta.Mereka menawarkan apa yang “terbaik” bagi kota Jakarta. Namun, masyarakat kota Jakartalah yang menentukan siapa yang akan menjadi Pemimpin.

Pemimpin diangkat oleh rakyat, tetapi Alkitab juga menjelaskan bahwa otoritas seorang pemimpin di suatu negara (atau kota) diberikan oleh Tuhan. Istilah yang pernah dikumandangkan dalam sejarah dunia berkaitan dengan isu ini adalah “Vox Populli, Vox Dei” (People’s voice is the voice of God). Istilah ini digunakan oleh Rosseau dan Voltaire untuk memdukung keruntuhan sistem pemerintahan Monarki di Perancis. Pada waktu itulah di mulai sebuah sistem pemerintahan yang baru dimana rakyat menentukan nasib mereka sendiri dengan memilih pemimpin bagi negaranya.

Istilah ini sebenarnya pernah mendapat kritik melalui sebuah surat dari Alcuin untuk Charlemagne pada abad ke 8 (sebenarnya ini awal dari istilah ini muncul), karena bagi Alcuin, rakyat tidak selalu benar. Contohnya pada waktu Pilatus menyerahkan keputusan kepada rakyat: “apakah melepaskan Barabbas atau Yesus”, dan rakyat memilih Barabbas.

Akan tetapi, jika hal itu yang menjadi keberatannya, bukankah pada akhirnya melalui keputusan rakyat itulah ditetapkan bahwa Yesus dihukum mati dengan cara disalibkan? Dan bukankah pada akhirnya dengan jalan demikian rencana Allah bagi keselamatan manusia tergenapi? Memang adalah hal bodoh memilih Barabbas dari pada Yesus tetapi “all things work together for good” supaya pada akhirnya rencana-Nya tergenapi. Sehingga hal ini berarti “Vox Populli” menjadi sebuah alat di dalam kedaulatan Allah.

Siapa yang akan menjadi Gubernur DKI Jakarta tentu juga ada di dalam kedaulatan Allah, tetapi Allah akan menjadikan suara warga kota Jakarta sebagai alat untuk menyatakan kedaulatan-Nya melalui pemilihan Gubernur besok.

Terlepas dari berbagai pro dan kontra, isu agama, korupsi dan keinginan beberapa kelompok untuk mengangkat pemimpin yang baru atau ingin tetap mempertahankan pemimpin yang lama, sebagai orang percaya kita perlu berdoa agar Allah yang berdaulat itulah yang akan menyatakan kehendak-Nya atas kota Jakarta. Kita juga perlu meminta hikmat dari Tuhan untuk memnentukan pilihan kita. Kita “PERLU” memberikan suara kita, karena suara kita adalah alat bagi kedaulatan Allah.

Dalam ceramahnya tentang “Calvinisme dan politik” di Princeton University, Abraham Kuyper pernah mengutip apa yang ditulis oleh Calvin dalam tafsirannya tentang tokoh Samuel. Calvin menulis:

“Dan engkau, hai bangsa-bangsa, yang kepadanya Allah memberikan kemerdekaan untuk memilih penguasa-penguasa anda, usahakanlah agar anda tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dengan memilih orang-orang yang tidak jujur dan musuh-musuh Allah dan menempatkan mereka pada posisi-posisi kehormatan yang tertinggi.”

Pilihlah pemimpin yang tepat seperti yang kita gumulkan selama ini dalam hubungan kita dengan Tuhan.  Tidak perlu mengumbar kejelekan-kejelekan atau kekurangan-kekurangan salah satu pasangan yang bagi kita tidak layak untuk dipilih sebagai pemimpin. Ketahuilah bahwa setiap pemimpin pasti ada kekurangannya. Yang terpenting adalah Allah yang berdaulat, kita dan pemimpin yang akan kita pilih adalah alat di tangan Tuhan, yang satu sebagai alat untuk menyatakan suara atau kehendak Allah, yang satu lagi sebagai alat untuk memimpin kota Jakarta.

Ingatlah kepada siapa suara kita akan kita berikan besok akan berdampak kepada kehidupan warga Jakarta 5 tahun mendatang dan tidak hanya kota Jakarta tetapi juga Indonesia secara keseluruhan, sebab Jakarta adalah Ibukota yang menjadi barometer bagi banyak aspek kehidupan bangsa Indonesia. Mari kita doakan bersama….

Vox Populli, Vox Dei.  Selamat memilih…!!!

“Life is all about taking risk to get what you want. “

Kalimat ini adalah kalimat yang diucapkan Adam Lambert, finalis American Idol season 8 (2009). Kalimat inilah yang menginspirasikan dirinya untuk meninggalkan bangku kuliah dan berangkat menuju Los Angeles untuk memulai karir musiknya. Hasilnya selain ia menjadi Runner-up di American Idol season 8, dia juga menduduki urutan pertama di Billboard 200 chart pada bulan Mei 2012 yang lalu. Memang di satu sisi kalimat ini membawanya kepada sesuatu yang positif bagi hidupnya, tetapi kemungkinan kalimat ini jugalah (interpretasi saya) yang membawa Lambert untuk mengakui secara terbuka bahwa ia adalah seorang artis yang gay dan mendukung komunitas ini.

Tentu hal ini sangat ironis, dan dalam banyak hal sering kali ditemui dalam hidup kita, kalimat yang sama dapat membawa kepada sesuatu yang baik, tetapi kalimat yang sama dapat membawa seseorang menuju kepada sesuatu yang salah.

Tetapi bukan hal ini yang saya ingin soroti. Yang paling menjadi perhatian saya adalah topik yang berkaitan dengan “Life” dan “Risk”.

Resiko adalah kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada waktu seseorang mengambil sebuah keputusan.

Resiko adalah pelajaran yang sangat menonjol bagi para peserta yang mengikuti acara Running Youth yang lalu yang diadakan oleh Disciple Making Youth (DMY). Peserta pada waktu meinggalkan GKY dberikan sebuah kalimat clue yang berisi demikan:

“Santai santai ngopi di depan, merah kuning hijau daun kelapa, 4 itu angka haram.”

Mereka harus menebak tempat apakah yang dimaksud dalam kalimat clue yang ada. Hasilnya beberapa kelompok menebak clue itu menunjuk pada 7eleven Sunter, bahkan ada yang menebak bahwa kemungkinan tempat itu ada di Sunter Mall. Padahal tempat yang dimaksud adalah Starbucks di MKG 3. Apakah clue yang diberikan terlalu susah? Atau apakah beberapa kelompok itu terlalu “bodoh” sehingga tidak dapat menebak clue itu dengan benar?

Jawabannya TIDAK. Clue itu dapat ditebak dan mereka tahu jawabannya, yaitu tempat ngopi yang ada di MKG. Lalu mengapa mereka tidak langsung saja menuju MKG. Jawabanya adalah karena mereka TIDAK BERANI mengambil sebuah RESIKO. Seorang peserta berkata: “MKG terlalu jauh, kalo salah, maka kita akan susah untuk kembali lagi, uang kita terbatas dll.”

Mereka tidak berani mengambil resiko, tetapi untuk sebuah tidakan yang “tidak berani mengambil resiko” itu tetap ada resikonya. Mereka tertinggal jauh dari tim yang lain, dan kehilangan bonus piggy bank (berisi uang 50 ribu rupiah).

Life is all about taking risks…

Why….???? Because we don’t know what future holds…

Resiko dalam hidup selalu berkaitan dengan masa depan yang tidak kita ketahui dan selalu penuh dengan misteri. Ketika kita mengambil sebuah keputusan dalam hidup, seberapapun yakinnya kita tentang apa yang akan kita lalui, kita tidak akan pernah dapat benar-benar tahu dengan jelas apa yang ada di ujung sana. Keyakinan dan kebahagiaan di awal sebuah keputusan dapat berakhir dengan air mata di ujung sana. Contohnya sepasang pemuda-pemudi yang mengambil keputusan untuk memulai hubungan yang serius, memulainya dengan sebuah senyuman dan tawa (bahagia), tetapi kemudian berujung pada air mata kerena hubungan tersebut harus berakhir.

Tetapi dalam pergumulan saya, saya juga melihat bahwa ternyata resiko juga tidak berkaitan dengan “future”. Resiko juga berkaitan dengan “Past” atau masa lalu.

Peter Rollins pernah mencoba menuliskan salah satu aspek dari Theology of Hope Jurgen Moltmann dengan ilustrasi yang sederhana demikian:

“The last words in a sentence can radically change the meaning that we had ascribed to the previous words. Here, what comes after, can effect how we interpret what came before.”

Artinya apa yang terjadi pada kita di masa yang akan datang, dapat mengubah cara kita melihat apa yang terjadi dalam hidup kita di masa lalu dan sekarang.
Misalnya seorang yang susah hidupnya dan miskin, lalu dalam segala kesusahan dia pada akhirnya menjadi seorang yang tangguh dan pantang menyerah, sehingga pada akhirnya ia menjadi sukses dalam pekerjaan dan kehidupan keluarganya. Kesuksesannya itu akan mengubah caranya melihat kesusahan-kesusahannya di masa yang lalu. Kesusahan-kesusahannya itu tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang “menyusahkan”.

Maka, resiko itu tidak hanya berkaitan dengan “Future” tapi juga “Past”.

Salah satu Tim yang menjadi pemenang dalam acara Running Youth adalah Tim yang berjalan kaki dari Lotte Mart – GKY Sunter. Tentu hal ini melelahkan, tetapi kemenangan di akhir yang diperoleh akan mengubah cara tim ini memandang kelelahan yang telah mereka lalui. Kelelahan itu tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang “melelahkan.”

Itulah sebabnya bagi Jurgen Moltmann “A proper theology would therefore have to be constructed in the light of its future goal. Eschatology should not be its end, but its beginning.”

Memamami hal ini akan memberikan “HOPE” bagi yang mengalami kesulitan dan kegagalan-kegagalan hidup di masa lalu dan saat ini, tetapi juga memberikan “FAITH” dan “CONFIDENCE” bagi yang sedang “galau” dalam mengambil keputusan bagi masa depannya.

To live is to risk. To risk the past as much as the future. But we know who holds our life in the past and our future as well.

“Your father and I were gonna change the lives of millions, including mine”

Kalimat itulah yang diucapkan oleh Dr. Curt Connors (seorang ilmuan yang cacat tanpa lengan sebelah kanan) pada waktu ia berbicara dengan Peter Parker dalam film The Amazing Spiderman (Have you watched this Movie yet? I’m not going to be a spoiler….).

 

Bagi saya The Amazing Spiderman lebih cocok dengan komik aslinya yang dipublish pada tahun 1963, tentang bagaimana Peter bisa berubah menjadi “Manusia Laba-laba”, yaitu karena terkena gigitan “Radioactive Spider”, dari pada film”Spiderman” versi sebelumnya. Karena issue yang ada pada tahun publikasi komik itu adalah “Cold War” yang berkaitan dengan “Nuklir”.

Tapi bukan itu yang menjadi point utama, pertanyaan utama yang saya ingin angkat adalah kehidupan yang seperti apakah yang ingin diubah oleh Dr. Curt Connors. Jawabannya ada dalam film tersebut yaitu: “Human without weaknesses.” Mengapa ia menolak “Kelemahan”? Karena kehidupan dengan kelemahan adalah “Powerless life” sehingga membuat “kehidupan manusia itu diluar kendali manusia itu sendiri.”

Manusia ingin mengendalikan hidupnya, ingin memastikan apakah hidupnya aman dan damai. Manusia ingin hidupnya menjadi Pasti (Certainty) dan dapat Diketahui (Known) olehnya. Kerinduan ini diwakili oleh kehadiran film-film Hollywood yang bertemakan “Superhero”. Kehadiran Superheroes menjadi kepastian dan pengetahuan bahwa kehidupan manusia akan baik-baik saja meskipun ada ancaman dan bahaya. The Avangers & The Dark Night misalnya menempati urutan ke 3 & 4 dalam jumlah pendapatannya di Box Office. Selain itu, The Amazing Spiderman dan The Dark Knight Rises adalah 2 film yang paling dinantikan di tahun ini.

Powerless life yang adalah akar dari Uncertainty & Unknown tentu bertolak belakang dengan Certainty & Known.

Yesus pernah bertanya kepada para murid-Nya: “Siapakah aku ini?” Petrus menjawab: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Namun, apakah yang dimengerti oleh Petrus dengan perkataannya ini?

Hal ini terlihat pada waktu Yesus berkata bahwa ia akan pergi ke Yerusalem, menderita dan dibunuh. Petrus seketika itu juga menarik Yesus dan menegornya, dan berkata bahwa hal itu tidak mungkin terjadi pada-Nya. Maka, sebenarnya bagi Petrus “Mesias” itu tidak dekat dengan penderitaan dan kematian. Atau dengan kata lain, Mesias itu jauh dari kehidupan yang “Powerless”, yang diluar kendali, Uncertainty dan Unknown. Petrus menolak kehidupan yang demikian, dan sejujurnya kita juga (terbukti melalui film “Superheroes” yang sangat kita sukai dan nantikan).

Padahal sesungguhnya hidup bersama dengan Tuhan adalah hidup yang “powerless, out of our control, uncertain and unknown”. Hidup yang sepenuhya bergantung kepada Tuhan. Tetapi Tuhan berjanji bahwa Dia akan memberikan kekuatan untuk menikmati hidup yang demikian. Hidup yang penuh dengan kelemahan-kelemahan, penderitaan dan kesulitan-kesulitan.

Maka sebenarnya impian Dr. Curt Conners bukanlah impian kita sebagai murid Kristus. Filosofi dibalik film “Superheroes” bukanlah filosofi prajurit Kristus.

Go and watch this movie and another “Superheroes” movies  as an entertainment…!!!

Renungkanlah dan pahamilah betapa “poor” atau “miserable”nya impian-impian hidup manusia, sehingga kita dapat mengevaluasi diri kita dan berbicara menolang sesama kita.

“God called us to come into the powerless, uncertain and unknown life with Him, and we can enjoy it for sure.”

Mari bersama Rasul Paulus kita merayakan kelemahan-kelemahan kita sambil berkata: “Therefore, I’m all right with weaknesses, insults, disasters, harrassments, and stressful situations for the sake of Christ, because when I’m weak, then I’m strong.”

What is Postmodernism? Obviously, no single post can describe it. But one way to think about it is to recognize that we no longer live in a time or culture where there is a single agree-upon version of, or story about, reality. Instead, there are lots of competing stories about what makes the world go round.” [read full article here]

Tulisan di atas adalah cuplikan artikel yang ditulis oleh David Lose, the Marbury E. Anderson Chair in Biblical Preaching at Luther Seminary [read his blog]. Dalam artikel itu ia menyoroti issue Gereja dan Postmodernism. Menurut saya ada 2 issue utama yang ia soroti yang memang menjadi karakteristik utama dari Postmodern Culture:

  • Authenticity

Maksudnya adalah: generasi ini (generasi yang dekat dengan era postmodern adalah generasi Y yang lahir 1984 s/d akhir 1990), ingin menjadi generasi yang “apa adanya”. Generasi yang berani memilih dan mengikuti apa yang mereka sukai. Dalam kaitannya dengan kehidupan gereja,  mereka tidak akan pergi ke gereja karena orang tua mereka melakukannya. Mereka akan memilih, mencurahkan energi dan uang mereka kepada “sesuatu” (Narrative & Activity) yang paling membentuk hidup mereka. Mereka tidak suka dengan paksaan atau keharusan, mereka ingin memilih apa yang mereka sukai. Mereka ingin menjadi apa adanya mereka. Jika di dalam gereja mereka tidak menemukan Komunitas yang dapat / layak mereka cintai karena membentuk mereka maka mereka akan mencari komunitas lain di luar gereja. Komunitas yang adalah “home” bagi mereka. Komunitas yang authentic, bukan yang penuh dengan “topeng”.

  • Experience

Maksudnya adalah generasi ini mencari yang namanya “pengalaman”. Jika mereka ingin pergi ke gereja alasannya bukanlah hanya karena “itulah yang seharusnya mereka lakukan” sebab mereka lahir di tengah-tengah keluarga kristen, tetapi karena mereka ingin mendapatkan sebuah “experience”, yaitu pengalaman bersama dengan Allah, pengalaman yang dapat mentransform mereka. Jika experience yang demikian tidak mereka temui, maka mereka akan mencari experience yang lain. Kita tahu bahwa pada hari ini, ada banyak pilihan lain yang dapat kita lakukan yang akan menyita waktu dan perhatian kita pada hari minggu. Tetapi sebagai gereja terkadang kita terlihat seperti hidup di tahun 50-an, 60-an, 70-an atau 80-an, dimana seseorang akan tetap pergi ke gereja hanya karena “itulah yang seharusnya kita lakukan” sebab tidak ada pilihan lain. Generasi ini akan bertanya: “Mengapa harus? Apa alasannya?”

Lalu di sisi yang lain kita tidak boleh lupa bahwa hari ini kita hidup dengan kompetisi, tidak hanya kompetisi dengan agama lain, tetapi juga dengan aktivitas lain, seperti quality time dengan keluarga di akhir pekan setelah menjalani weekdays yang hectic, serta pilihan hiburan-hiburan yang lain yang juga menawarkan experience.

Apakah komunitas kita menawarkan “experience” yang dapat memuaskan dahaga generasi ini akan Allah? Atau jangan-jangan komunitas gereja kita hanya menawarkan aktivitas-aktivitas berulang tanpa meaning dan sebuah tradisi ritual yang diulang-ulang setiap minggunya yang berpusat pada “pemikiran-pemikiran” bukan pada “experience” yang mengubahkan?

Lepas dari fakta bahwa memang tidak ada gereja yang sempurna (setiap gereja atau lebih tepatnya orang-orang yang ada di dalam gereja tidak dapat kebal untuk memiliki dan memakai “topeng”nya masing-masing, termasuk saya…) dan lepas dari apa yang saya sebut disiplin rohani (sebab bagi saya bersekutu di gereja adalah salah satu dari disiplin rohani yang harus dikerjakan seorang percaya jika ia ingin mengalami Allah di dalam hidupnya), saya pikir 2 karakteristik di atas juga perlu dipertimbangkan jika kita ingin menyentuh dan memenangkan generasi bagi Kristus.

Berkaitan dengan issue ini juga, dalam video di bawah ini Pastor Jay Gamelin bertanya apakah kita siap untuk melayani generasi ini?

 

What do you think about this issue?